Logo Kangsantri AI

Rendah Hati, Kunci Surga

Kultum
U
Ummi Winda
24 Juni 2026 3 menit baca 41 views

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ ...

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ.

قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ:

{وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا} (الفرقان: 63)

رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي.

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Hadirin sekalian yang saya muliakan karena Allah,
Ada pepatah bijak mengatakan,
Jalan setapak terasa datar jua,
Jika hati lapang menerimanya.
Ilmu yang tinggi janganlah sombong,
Agar hidup selamat nan tenteram.

Saudara-saudaraku, mari kita merenung sejenak. Betapa seringnya kita diingatkan tentang sebuah sifat luhur dalam Islam, namun terkadang terasa begitu jauh dari jangkauan hati kita. Sifat itu bernama tawadhu. Sederhananya, tawadhu adalah kerendahan hati, kelembutan sikap, tidak merasa lebih unggul dari orang lain, bahkan kepada mereka yang kita anggap lebih rendah.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an surat Al-Furqan ayat 63: "Dan hamba-hamba Yang (memerlukan) Tuhan Yang Maha Penyayang adalah orang-orang yang berjalan di muka bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan." Ayat ini dengan jelas menggambarkan karakteristik hamba Allah yang dicintai. Mereka berjalan dengan 'hawnan', sebuah kata yang mengandung makna ketenangan, kelembutan, dan kerendahan hati yang proporsional. Mereka tidak sombong, tidak angkuh, bahkan ketika berhadapan dengan orang-orang yang bodoh atau berlaku kasar, balasan mereka adalah kata-kata perdamaian.

Seringkali, kita terjebak dalam jebakan kesombongan. Mungkin karena jabatan, kekayaan, ilmu pengetahuan, atau bahkan nasab. Kita lupa bahwa semua itu adalah titipan dan karunia dari Allah. Rasulullah SAW bersabda, yang artinya: "Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar zarrah." (HR. Bukhari Muslim). Hati-hati, saudara. Kesombongan sekecil debu pun bisa menjadi penghalang kita menuju surga-Nya.

Bahkan para nabi dan rasul, makhluk teragung pilihan Allah, adalah teladan tawadhu. Nabi Musa AS, seorang kalimullah (yang berbicara langsung dengan Allah), ketika diperintahkan untuk berdakwah kepada Fir'aun yang zalim, ia berdoa, "Dan mudahkanlah bagiku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku." (Thaha: 25-28). Perhatikan, memohon agar lidahnya tidak kaku, bukan agar dia menjadi lebih berkuasa atau ditakuti.

Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu, seorang khalifah yang kharismatik dan berwibawa, pernah berjalan, lalu ia melihat seorang tua renta yang lemah. Ia lalu menuntunnya dan membawakan barang-barangnya. Ini adalah contoh nyata pemimpin yang dekat dengan rakyatnya, yang tidak merasa dirinya lebih tinggi dari siapapun.

Saudara-saudaraku, mari kita renungkan. Apakah kita sudah benar-benar menerapkan tawadhu dalam kehidupan sehari-hari? Apakah kita masih mudah merasa lebih baik dari orang lain? Seringkali, kita memperlakukan orang lain dengan pandangan meremehkan, entah karena penampilannya, ekonominya, atau pendidikannya. Padahal kita tidak tahu amalan apa yang tersembunyi di balik hati mereka yang mungkin lebih dicintai Allah.

Imam Al-Ghazali rahimahullah pernah berkata, "Barangsiapa yang tidak menganggap remeh seorang pun, niscaya ia akan dihormati oleh semua orang." Keindahan tawadhu itu akan terpancar dalam setiap interaksi kita. Ia akan membuat hubungan kita dengan sesama menjadi lebih harmonis, pekerjaan kita lebih berkah, dan hati kita lebih tenang.

Maka, marilah pada kesempatan yang penuh berkah ini, kita terus berusaha menumbuhkan sifat tawadhu dalam diri kita. Mulailah dari hal-hal kecil. Misalnya, saat berbicara, jangan menyela perkataan orang lain. Saat memberi nasihat, lakukan dengan lembut dan penuh kasih. Saat melihat kekurangan orang lain, ingatlah bahwa diri kita pun memiliki banyak kekurangan yang belum tentu lebih baik. Jauhkan diri dari sikap ujub (merasa takjub dengan diri sendiri) dan takabur (sombong).

Mudah-mudahan Allah SWT senantiasa menganugerahkan kepada kita hati yang lapang, jiwa yang rendah hati, dan lisan yang baik. Semoga kita termasuk hamba-hamba-Nya yang berjalan di muka bumi dengan penuh ketenangan dan kerendahan hati.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

Bagikan artikel ini

Artikel Lainnya

Lihat semua →