اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين، سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين. أما بعد.
Jamaah sekalian yang dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Bila mentari terbit di ufuk timur,
Mengusir pekatnya malam yang kelam.
Jangan ragu melangkah tanpa gugup,
Yakinlah, Allah tak pernah kelam.
Saudaraku, hadirin sekalian yang saya muliakan. Betapa seringnya kita merasa cemas, khawatir, dan gelisah menghadapi hari esok. Kita merencanakan dengan matang, berusaha sekuat tenaga, namun terkadang hasil akhir belum tentu sesuai dengan harapan kita. Di situlah pentingnya kita meresapi makna tawakal.
Tawakal, seringkali kita hanya mengucapkannya tanpa benar-benar memahami kedalamannya. Padahal, tawakal bukanlah sekadar berserah diri tanpa usaha. Ia adalah puncak keyakinan kepada Allah, setelah kita mengerahkan seluruh kemampuan lahir dan batin. Allah Ta'ala berfirman dalam Surat Al-Anfal ayat 2: "إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ" (Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan kepada Tuhan mereka pula mereka bertawakal).
Bayangkan seekor burung, ia keluar dari sarangnya di pagi hari dengan perut lapar. Ia tak tahu di mana akan mendapatkan makanan. Namun ia terbang, mencari, dan berusaha. Ia kembali ke sarangnya di sore hari dengan perut kenyang, atas rezeki dari Allah yang telah dijamin-Nya. Itulah gambaran tawakal yang hakiki. Ia tidak hanya duduk diam menunggu, tetapi juga berikhtiar sekuat tenaga.
Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda dalam Hadits Riwayat Tirmidzi: "لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ، لَرُزِقْتُمْ كَمَا يُرْزَقُ الطَّيْرُ، تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا" (Seandainya kalian benar-benar bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan memberikan rezeki kepada kalian sebagaimana Allah memberi rezeki kepada seekor burung, ia pergi di pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang di sore hari dalam keadaan kenyang).
Para ulama salafus shalih senantiasa mengajarkan makna tawakal ini. Imam Syafi'i rahimahullah pernah berkata: "اتْرُكْ أَمْرَ الدُّنْيَا لِأَهْلِهَا، فَإِنَّكَ إِنْ طَلَبْتَ شَيْئًا مِنْهَا بِغَيْرِ سَبَبٍ، لَمْ يَصْلُحْ لَكَ، وَإِنْ طَلَبْتَ شَيْئًا مِنْهَا بِسَبَبٍ، لَمْ يَنْفَعْكَ إِلَّا أَنْ يُرِيدَهُ اللَّهُ" (Tinggalkan urusan dunia untuk ahlinya, sesungguhnya jika engkau mencari sesuatu darinya tanpa sebab, ia tidak akan baik bagimu, dan jika engkau mencarinya dengan sebab, ia tidak akan bermanfaat bagimu kecuali jika Allah menginginkannya). Ini menegaskan bahwa tawakal adalah berserah diri kepada putusan Allah setelah menjemput sebab.
Maka hadirin yang berbahagia, mari kita praktikkan tawakal dalam setiap lini kehidupan kita. Saat menghadapi ujian, berusahalah maksimal dan bertawakal. Saat mencari rezeki, ikhtiarlah dengan halal dan bertawakal. Saat menghadapi masalah, hadapi dengan sabar dan bertawakal. Yakinlah, Allah Maha Melihat, Maha Mendengar, dan Maha Kuasa atas segala sesuatu. Jangan pernah merasa sendiri, karena Engkau memiliki Tuhan yang selalu menjagamu.
Marilah kita senantiasa memohon pertolongan dan perlindungan kepada Allah. Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala menguatkan hati kita dalam bertawakal, memberikan ketenangan dalam setiap ujian, dan meridhai setiap usaha kita.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ