Logo Kangsantri AI

Tawassuth Jalan Tengah Islam

Kultum
U
Ummi Winda
24 Juni 2026 3 menit baca 15 views

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ...

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ.

قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ: {وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا} [البقرة: 143].
رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي.

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Bapak-bapak, Ibu-ibu, hadirin dan hadirat yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Jalan kaki ke pasar membeli ragi,
Ragi dibeli untuk kue bolu.
Sikap beragama janganlah terbagi,
Tawassuth jalannya, mari kita tempuh.

Hadirin yang dirahmati Allah,
Dalam lautan kehidupan yang penuh dengan berbagai macam pemikiran, pendapat, dan ajaran, seringkali kita dihadapkan pada pilihan-pilihan ekstrem yang dapat menyesatkan. Umat Islam diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala untuk senantiasa mengambil jalan tengah, yaitu tawassuth.

Tawassuth adalah sebuah konsep penting dalam Islam yang berarti moderat, berimbang, di tengah-tengah, dan tidak ekstrem. Ini bukan berarti kita menjadi plin-plan atau tawar-tawar dalam prinsip-prinsip agama, namun justru sebagai wujud dari pemahaman yang mendalam dan kebijaksanaan dalam beragama. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Al-Qur'an surat Al-Baqarah ayat 143: "Dan demikianlah Kami jadikan kamu (umat Islam) umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia, dan agar Rasul menjadi saksi atas (perbuatan) kamu."

Ayat ini menegaskan posisi umat Islam sebagai umat yang berada di tengah-tengah, sebagai saksi yang adil. Keadilan ini terwujud salah satunya melalui sikap tawassuth. Di zaman ini, di mana arus informasi begitu deras dan seringkali sarat dengan provokasi serta narasi yang memecah belah, sikap tawassuth menjadi semakin krusial. Kita akan melihat orang-orang yang terlalu keras dalam beragama, merasa paling benar sendiri, mudah menghakimi saudaranya. Di sisi lain, kita juga akan melihat mereka yang terlalu longgar, mengabaikan syariat, dan mudah terbawa arus dunia. Keduanya adalah bentuk penyimpangan yang jauh dari ajaran Islam yang rahmatan lil-'alamin.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim: "Agama itu adalah nasihat." Para sahabat bertanya, "Untuk siapa, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Untuk Allah, untuk kitab-Nya, untuk rasul-Nya, untuk para pemimpin kaum Muslimin, dan untuk seluruh kaum Muslimin." Nasihat ini pun harus disampaikan dengan bijak dan berimbang, bukan dengan sikap membenci atau memecah belah.

Para ulama salafush shalih senantiasa menekankan pentingnya jalan tengah ini. Imam Al-Ghazali rahimahullah pernah berkata, "Kebaikan yang paling utama adalah sikap pertengahan." Maksudnya, kebaikan yang paling sempurna adalah yang tidak condong kepada salah satu sisi, tidak terlalu berlebihan dan tidak pula terlalu berkurang. Begitu pula dalam urusan akidah, ibadah, dan muamalah. Kita berpegang teguh pada Al-Qur'an dan Sunnah, namun cara penerimaan dan pengamalannya haruslah bijak, tidak menyalahi kaidah-kaidah yang telah ditetapkan oleh para ulama terpercaya.

Sebagai contoh nyata, dalam berinteraksi dengan perbedaan pendapat di kalangan umat, sikap tawassuth mengajarkan kita untuk menghargai perbedaan tersebut selama masih berada dalam koridor syariat. Kita tidak boleh memaksakan pandangan kita kepada orang lain, apalagi dengan cara-cara yang kasar dan menimbulkan permusuhan. Sebaliknya, kita juga tidak boleh sekadar mengikuti arus pendapat yang populer tanpa mengkaji kebenarannya. Kita haruslah kritis, berilmu, dan berpegang teguh pada dalil-dalil yang kuat.

Bagaimana kita bisa mewujudkan sikap tawassuth dalam kehidupan sehari-hari?
Pertama, teruslah menuntut ilmu. Ilmu yang benar akan membimbing kita kepada pemahaman yang proporsional.
Kedua, perbanyak merenungi keagungan Allah dan keluasan rahmat-Nya, sehingga hati kita menjadi lapang dan tidak mudah sempit dalam menilai orang lain.
Ketiga, bersungguh-sungguh dalam beribadah, namun jangan sampai melupakan kehidupan dunia dan kewajiban kita kepada sesama. Keseimbangan adalah kunci.

Hadratin yang dirahmati Allah,
Mari kita jadikan diri kita pribadi yang tawassuth, umat yang wasath. Jadilah pribadi yang berilmu, beradab, berwibawa, dan membawa rahmat. Hindari sikap takfir (mengkafirkan) tanpa dalil yang jelas, hindari sikap taqlid buta, hindari kebencian yang tidak berdasar. Jadilah penyejuk di tengah-tengah perbedaan, pembawa solusi, bukan pencipta masalah.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala senantiasa membimbing kita di jalan-Nya yang lurus, jalan yang penuh dengan keberkahan dan kerelaan-Nya. Semoga kita termasuk dalam golongan umat yang adil dan pilihan, yang senantiasa menjaga keseimbangan dalam segala aspek kehidupan. Aamiin ya Rabbal 'alamin.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

Bagikan artikel ini

Artikel Lainnya

Lihat semua →