اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ.
Bapak-bapak, Ibu-ibu, dan para pemuda yang wajahnya masih cerah tapi hatinya mungkin sedang gundah, selamat siang. Senang sekali bisa melihat wajah-wajah yang insya Allah calon penghuni surga ini, meskipun kalau melihat beberapa kantung mata, sepertinya semalam habis begadang melihat status orang lain, ya?
Sebelum kita masuk ke pembahasan serius, izinkan saya membacakan pantun:
Pergi ke pasar beli buah mangga,
Mangga manis dibawa pulang ke rumah.
Jangan habiskan waktu dengan hura-hura,
Isi waktu kosong dengan ibadah agar bahagia.
Nah, bicara soal waktu kosong, ini adalah penyakit paling akut di zaman sekarang. Dulu kalau luang, orang baca buku. Sekarang, kalau luang, jempol kita otomatis scrolling layar ponsel dari atas ke bawah, dari bawah ke atas, sampai jempolnya mungkin sudah minta "cuti" karena pegal, tapi matanya masih belum puas.
Kita sering merasa waktu luang itu musuh yang harus dibunuh. Padahal, Nabi kita sudah memberi peringatan keras. Beliau bersabda:
Maksud "tertipu" di sini itu lucu sekaligus tragis. Kita merasa punya waktu luang itu artinya waktu untuk santai, padahal waktu luang itu adalah celah di mana setan paling rajin berbisik, "Sudahlah, main game-nya satu jam lagi saja." Akhirnya kita malah "tertipu" oleh waktu kita sendiri.
Bayangkan jika kita seperti pedagang yang punya modal besar, tapi modalnya kita biarkan menguap begitu saja. Hasan al-Bashri rahimahullah pernah berkata:
Jadi, bayangkan setiap detik yang kita habiskan untuk sekadar "gogoleran" tanpa tujuan, itu adalah potongan usia kita yang sedang dibuang ke tempat sampah. Apa kita mau nanti di akhirat, buku catatan amal kita isinya cuma: "Jumat, jam 2 siang: nungguin notif jemuran digital"?
Mari, Bapak Ibu, kita ubah strategi. Waktu kosong itu ibarat power bank untuk akhirat. Sedikit saja kita sisipkan baca Al-Qur'an, istighfar, atau sekadar membantu tetangga, itu jauh lebih mahal nilainya daripada sejuta "like" di media sosial. Sesuai firman Allah dalam surat Al-Ashr, sungguh manusia benar-benar dalam kerugian jika tidak menggunakan waktunya untuk kebenaran dan kesabaran.
Mulai hari ini, mari kita berkomitmen. Jika ada waktu luang, jangan hanya dipakai untuk melamunkan masa depan yang belum tentu terjadi atau menyesali masa lalu yang tidak bisa kembali. Cukup isi dengan hal kecil: senyum pada istri atau suami, bersedekah meski cuma sebungkus kerupuk, atau duduk sejenak untuk memikirkan kebesaran Allah.
Mari kita berdoa agar Allah berkahi sisa waktu kita:
Ya Allah, berikanlah kami kekuatan untuk mengisi setiap detik luang kami dengan ketaatan yang Engkau ridhai. Jangan biarkan waktu kami berlalu sia-sia hingga kami termasuk ke dalam golongan orang-orang yang merugi.
Cukup sekian dari saya, semoga bermanfaat dan tidak hanya mampir di telinga lalu hilang tertiup angin sore.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ