اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ.
*
Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh.
Hadirin wal hadirat, Bapak, Ibu, Saudara sekalian yang dimuliakan Allah.
Terbang tinggi burung merpati,
Hinggap sebentar di dahan jati.
Mari merenung dalam hati,
Mengunjungi makam kekasih ilahi.
Perjalanan spiritual menziarahi makam para wali Allah, para kekasih Tuhan, adalah sebuah tradisi yang telah lama mewarnai khazanah keislaman kita. Bukan sekadar ritual, melainkan sebuah kesempatan berharga untuk meresapi makna spiritualitas, meneladani akhlak mulia, dan memohon keberkahan dari Sang Pencipta. Keberadaan makam para wali adalah bukti nyata bahwa Allah memiliki hamba-hamba pilihan yang hidupnya senantiasa diiringi keridhaan-Nya.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an Surat Yunus ayat 62-63:
Ayat ini dengan jelas menggambarkan kemuliaan dan kedudukan para wali Allah. Mereka adalah hamba-hamba yang senantiasa beriman dan bertakwa. Mengunjungi makam mereka sejatinya adalah untuk menguatkan iman dan meningkatkan ketakwaan kita. Kita memohon agar Allah menganugerahkan sebagian dari keberkahan hidup mereka kepada kita, agar kita pun dapat menapaki jalan keridhaan-Nya.
Nabi Muhammad SAW bersabda:
Artinya: "Barangsiapa menziarahi seorang alim (atau wanita alim), maka Allah akan menziarahinya dalam kuburnya."
Meskipun hadits ini secara spesifik menyebut tentang menziarahi orang alim saat masih hidup, namun semangatnya dapat kita ambil bahwa kehadiran kita di makam para kekasih Allah adalah bentuk penghormatan dan kerinduan untuk dekat dengan orang-orang saleh. Para wali Allah adalah puncak dari kealimannya, puncak dari ketakwaannya.
Diriwayatkan bahwa Sya'ban bin Ubaidullah pernah berziarah ke makam Al-Laits bin Sa'id, dan ketika ia pulang, ia berkata, "Aku merasa seolah-olah aku baru saja keluar dari surga." Perkataan ini menunjukkan betapa suasana di sekitar makam orang-orang saleh dapat memberikan ketenangan dan kedamaian batin yang luar biasa.
Tujuan utama ziarah kubur para wali bukanlah untuk menyembah kubur atau meminta pertolongan kepada selain Allah. Sama sekali tidak! Itu adalah syirik yang dibenci Allah. Ziarah kubur adalah sarana untuk:
1. Mengingat Kematian: Melihat batu nisan dan suasana makam mengingatkan kita bahwa suatu saat nanti kita pun akan berbaring di sana. Ini menjadi motivasi untuk mempersiapkan diri dengan bekal amal saleh.
2. Meneladani Akhlak: Kita mempelajari kisah hidup mereka, perjuangan mereka dalam menegakkan agama Allah, kesabaran mereka, dan ketawakalan mereka. Kita berharap dapat meniru jejak kebaikan mereka.
3. Memohon Keberkahan: Kita berdoa kepada Allah untuk diri kita, keluarga kita, dan kaum Muslimin di hadapan makam para kekasih-Nya. Kehadiran kita di sana adalah bentuk tawassul (berdoa dengan perantaraan amal saleh atau orang saleh) yang dianjurkan oleh sebagian ulama, dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah.
4. Mempererat Tali Silaturahmi Spiritual: Merasa terhubung dengan rantai para ulama dan aulia yang telah berjuang menegakkan Islam.
Para ulama salafus shalih senantiasa mengambil pelajaran dari ziarah mereka. Imam Syafi'i rahimahullah sering berziarah ke makam Imam Abu Hanifah rahimahullah. Beliau melakukan qunut nazilah setiap kali memperingati hari kematian Imam Abu Hanifah, sebagai bentuk penghormatan dan doa.
Hadirin yang dirahmati Allah,
Mari kita jadikan ziarah kubur para wali Allah sebagai momentum untuk introspeksi. Periksa kembali keimanan kita, tingkatkan ketakwaan kita, dan perbaiki akhlak kita. Tanamkan dalam diri, bahwa jalan menuju keridhaan Allah itu dimulai dari pembersihan hati dan pengamalan syariat-Nya. Mari kita tidak hanya berziarah, tetapi juga berusaha mengamalkan nilai-nilai luhur yang telah dicontohkan oleh para auliya. Semoga Allah memudahkan langkah kita untuk selalu berada di jalan kebenaran dan mengumpulkan kita bersama para nabi, siddiqin, syuhada, dan shalihin di surga-Nya kelak.
*
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ