اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ. وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ. رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي
Yang terhormat para alim ulama, sesepuh yang kita tuakan, Bapak Kiai [Nama Tokoh], para asatidz dan asatidzah yang senantiasa membimbing umat, serta seluruh hadirin tamu undangan yang berbahagia. Marilah kita tidak henti-hentinya memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT, karena berkat izin-Nya, kita bisa berkumpul di sini dalam keadaan sehat walafiat, meski sebagian Bapak-bapak mungkin ada yang sedang menahan lapar menunggu hidangan dimulai. Shalawat serta salam senantiasa tercurahkan kepada Baginda Nabi Muhammad SAW, semoga kita semua mendapatkan syafaatnya di yaumul qiyamah nanti.
Hadirin yang saya muliakan, perkenalkan saya [Nama Anda], yang berdiri di sini selaku wakil dari pihak tuan rumah atau keluarga besar dari Saudara kita yang berbahagia.
Pertama-tama, saya mewakili keluarga besar Saudara [Nama Penyelenggara/Tuan Rumah] mengucapkan beribu terima kasih kepada seluruh panitia yang sudah berjibaku, dari yang mikirin dekorasi sampai yang mikirin perintilan kecil agar acara ini berjalan lancar. Terima kasih juga kepada seluruh tamu undangan yang sudah menyempatkan hadir. Bapak-bapak, Ibu-ibu, terima kasih sudah datang jauh-jauh. Khusus buat yang datang dari luar kota, terima kasih sudah menyempatkan hadir, kalau tidak sempat, ya tidak apa-apa, tapi ya jangan minta jatah kado.
Melihat wajah-wajah cerah di depan saya, jujur saja, saya jadi teringat masa lalu. Ya, pernikahan ini adalah momen sakral. Sebagaimana firman Allah dalam surat Ar-Rum ayat 21 tadi, tujuan pernikahan adalah agar kita tenang. Tapi ingat, tenang itu kalau sefrekuensi. Kalau pasangannya minta es krim, tapi malah dibelikan martabak, tenang-tenangnya bisa jadi perang dunia ketiga.
Rasulullah SAW bersabda:
Oleh karena itu, kepada pengantin baru, selamat berjuang! Pernikahan itu seperti naik motor, terkadang kita harus menyeimbangkan supaya tidak jatuh. Kalau pasangan sedang marah, jadilah pendengar yang baik. Kalau istri sedang ngomel, ingat, diam itu emas, tapi kalau tidak ada uang, emas itu jadi barang pajangan.
Saya selaku wakil tuan rumah, memohon maaf yang sebesar-besarnya jika dalam penyambutan, hidangan, atau tutur kata kami ada yang kurang berkenan. Maklum, manusia tempatnya salah dan lupa. Kalau ada yang kurang enak di lidah, tolong dimaafkan. Kalau ada yang kurang cantik dekorasinya, jangan dilaporkan ke polisi, cukup laporkan ke hati masing-masing saja.
Akhir kata, semoga kedua mempelai menjadi keluarga yang Sakinah, Mawaddah, Warahmah. Semoga rumah tangganya penuh tawa, kurangin drama, dan banyakin pahala. Sekian yang dapat saya sampaikan, kurang lebihnya mohon maaf, kepada Allah saya mohon ampun.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ