Logo SantriDigital

tentang orang tua

Ceramah
M
Muhammad Al Basith Rasya
29 April 2026 4 menit baca 0 views

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ. اَلْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَبِهِ نَسْتَعِينُ ع...

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ. اَلْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَبِهِ نَسْتَعِينُ عَلَى أُمُورِ الدُّنْيَا وَالدِّينِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ. وَقَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْعَزِيزِ: {وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا} (الإسراء: 23). رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي. Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Yang terhormat para alim ulama, para kiai, para asatidz, asatidzah, wabil khusus kepada bapak, ibu, dan saudara sekalian yang saya muliakan. Serta para pemuda-pemudi yang saya cintai, calon pemimpin masa depan umat ini. Sungguh, sebuah kehormatan dan kebahagiaan bagi saya pada kesempatan yang penuh berkah ini, dapat bertatap muka dan berbagi rasa dengan antum semua. Acara ini sungguh luar biasa, dan kehadiran antum adalah anugerah yang tiada tara. Hari ini, kita akan bersama-sama merenungi sebuah topik yang sangat mendasar, yang seringkali terabaikan di tengah hingar bingar kehidupan modern kita, yaitu tentang Orang Tua. Saudara-saudaraku, para pemuda yang hebat. Coba renungkan sejenak. Ada sosok dua insan yang telah mencurahkan seluruh hidupnya, merawat kita dari nol hingga kita berdiri tegak seperti sekarang. Mereka adalah orang tua kita. Pernahkah kita memikirkan bagaimana lelahnya mereka saat mengandung kita? Delapan atau sembilan bulan dalam perut mereka, menahan sakit, menahan beban, menahan segala macam cobaan demi satu tujuan, yaitu kehadiran kita di dunia ini. Allah SWT telah mengingatkan dengan tegas dalam Al-Qur'an surat Al-Isra' ayat 23, yang artinya: "Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapakmu. Jika salah seorang di antara keduanya atau keduanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah engkau membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia." Sungguh, perintah berbakti kepada orang tua ini diletakkan sejajar dengan perintah ibadah kepada Allah. Ini menunjukkan betapa tingginya kedudukan orang tua dalam Islam. Namun, seringkali, di usia kita yang penuh semangat, penuh ambisi, kita lupa. Lupa akan kerutan di wajah ibu, lupa akan uban di kepala ayah. Terkadang, ucapan "ah" yang dilarang dalam ayat tadi, terucap begitu saja, saat orang tua mengutarakan nasihat yang mungkin tidak sesuai dengan keinginan kita. Terkadang, suara kita meninggi, bentakan yang keluar, saat orang tua meminta bantuan yang terasa merepotkan. Padahal, mereka yang dulu tak lelah menggendong kita, menuntun langkah kita. Hadirin yang dirahmati Allah. Pernahkah terbayang bagaimana hati seorang ibu saat anaknya pergi meninggalkannya, entah untuk merantau, entah untuk menuntut ilmu, tanpa sedikit pun rasa terima kasih? Pernahkah terbayang bagaimana perasaan seorang ayah, yang dulu rela bekerja banting tulang demi sesuap nasi untuk kita, kini ia harus melihat anaknya sibuk dengan dunianya sendiri, melupakan pengorbanannya? Ada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim: "Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata: Seseorang datang kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam lalu berkata, 'Wahai Rasulullah, siapa orang yang paling berhak aku berbakti kepadanya?' Beliau bersabda, 'Ibumu.' Laki-laki itu bertanya lagi, 'Kemudian siapa?' Beliau bersabda, 'Ibumu.' Laki-laki itu bertanya lagi, 'Kemudian siapa?' Beliau bersabda, 'Ibumu.' Laki-laki itu bertanya lagi, 'Kemudian siapa?' Beliau bersabda, 'Ayahmu.'" Tiga kali Rasulullah menyebutkan "Ibumu" sebelum menyebutkan "Ayahmu". Ini bukan berarti peran ayah tidak penting, tetapi untuk menekankan betapa besarnya pengorbanan seorang ibu. Coba bayangkan, sampai kapan kita akan terus melukai hati beliau dengan sikap kita yang tidak peduli? Belum tentu kesempatan itu akan datang lagi. Hari ini, mereka masih membersamai kita. Esok? Kita tidak tahu. Saudara-saudaraku, pejuang agama Allah. Jangan sampai kita menyesal di kemudian hari. Menyesal ketika surga impian kita, yang seharusnya berada di bawah telapak kaki ibu, justru tertutup rapat karena durhaka kita. Jangan sampai kita menangis tersedu-sedu di depan pusara mereka, meratapi setiap kata kasar yang pernah terucap, setiap perintah yang pernah kita abaikan. Mari kita renungkan kembali. Apakah kita sudah cukup membalas cinta dan pengorbanan mereka? Apakah uluran tangan kita sudah sering kita berikan untuk membantu mereka? Apakah doa-doa kita selalu menyertai mereka? Marilah, wahai pemuda-pemudi sekalian, kita raih kesempatan emas ini. Tunjukkan bakti kita kepada orang tua, dengan perkataan yang lembut, dengan perbuatan yang nyata. Peluk erat mereka, ciumlah kening mereka, tanyakan kabar mereka setiap hari. Dengarkan nasihat mereka dengan sabar dan ikhlas. Bantulah mereka dengan senang hati, bahkan jika itu tampak kecil bagi kita, namun itu adalah dunia bagi mereka. Doa orang tua, khususnya ibu, adalah kekuatan yang luar biasa. Jangan sampai kita kehilangan barokah itu karena kelalaian kita. Jadikanlah ridha Allah dimulai dari ridha orang tua kita. Mari kita ukir masa depan yang gemilang, bukan hanya di dunia, tetapi juga di akhirat, dengan menjaga dan mencintai orang tua kita dengan sepenuh hati. Baiklah, tidak terasa waktu telah berjalan. Inti dari apa yang kita bahas hari ini adalah sebuah pengingat, sebuah seruan agar kita kembali merenungi betapa berharganya orang tua kita. Mari kita komitmen mulai dari detik ini, untuk menjadi anak-anak yang berbakti, yang mampu membahagiakan mereka, yang doanya senantiasa mengalir untuk mereka. Semoga Allah senantiasa meridhai kita dan orang tua kita. Saya memohon maaf yang sebesar-besarnya apabila ada kata-kata yang kurang berkenan, khilaf dan salah adalah milik saya pribadi, kebenaran dan kebaikan semata-mata dari Allah SWT. Terima kasih atas perhatiannya. وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

Bagikan artikel ini

Artikel Lainnya

Lihat semua →