Hari raya idul adha
Khutbah Jumat
A
Abdullah Asyiq Ahmada
27 April 2026
5 menit baca
1 views
أَلْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ و...
أَلْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
أَمَّا بَعْدُ،
فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah…
Hari ini, ketika tirai syawal telah tersingkap, dan gemuruh takbir idul fitri perlahan mereda, ada sebuah momen agung yang kembali menyapa sanubari kita. Idul Adha. Hari raya kurban. Namun sebelum kita menorehkan senyum sukacita, marilah sejenak kita tundukkan kepala, merenungi makna di balik pengorbanan yang mulia. Pernahkah kita sungguh-sungguh bertanya pada diri sendiri, sejauh mana pengorbanan kita kepada Rabb semesta alam? Seberapa sering hati kita tersayat kesadaran akan keagungan-Nya, kelemahan diri kita, dan jurang dosa yang membentang?
Sungguh, Idul Adha bukanlah sekadar pertunjukan ritual semata, melainkan sebuah panggilan jiwa yang mendalam, sebuah pengingat yang pilu akan betapa kecilnya diri kita di hadapan Pencipta. Marilah kita ingat kisah Ibrahim Alaihissalam, seorang ayah yang dengan mata nanar, harus merelakan belahan jiwanya, putra tercintanya, Ismail Alaihissalam, dituruti perintah Allah untuk disembelih. Betapa beratnya ujian itu, sungguh, bukan untuk kita yang hidup di zaman ini yang belum tentu mampu menumbuhkan sepucuk daun pengorbanan, apalagi nyawa. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’anul Karim:
"Kemudian ketika anak itu sampai pada usia aktif berjalan bersama Ibrahim, Ibrahim berkata, "Wahai anakku! Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!" Ismail menjawab, "Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu; semoga engkau mendapati aku termasuk orang yang sabar." (QS. Ash-Shaffat: 102)
Pernahkah terbayang di benak kita, bagaimana rasa hati kedua insan mulia itu? Ibrahim, sang kekasih Allah, harus mengendalikan gejolak batin seorang ayah. Ismail, sang permata hati, harus menundukkan ego seorang anak. Lalu kita, yang mengaku sebagai hamba-Nya, hamba yang mendamba surga-Nya, seberapa besar pengorbanan kita yang sungguh-sungguh terasa mengiris hati? Apakah harta yang kita keluarkan adalah sebagian dari kelebihan yang tak membuat kita nestapa? Apakah waktu yang kita berikan adalah sisa-sisa kesibukan duniawi yang tak berarti? Adakah air mata penyesalan yang tulus kita curahkan atas dosa-dosa yang terus menerus melukai kesucian jiwa? Sungguh, kita seringkali hanya hadir mengikuti ritual, namun jiwa pengorbanan sejatinya masih terbungkus rapat.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah…
Idul Adha juga mengingatkan kita akan sebuah hakikat yang paling menakutkan sekaligus paling kita rindukan: perjumpaan dengan Allah. Kematian adalah kepastian, dan setiap detik yang berlalu adalah satu langkah lebih dekat menuju liang lahat. Allah Ta’ala berfirman dengan nada yang mengguncang, namun penuh kasih:
"Setiap yang bernyawa akan merasakan kematian. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan." (QS. Al-Ankabut: 57)
Betapa mudahnya kita melalaikan hakikat ini. Kita sibuk mengumpulkan dunia, merangkai mimpi-mimpi fana, seolah-olah keabadian telah menjadi milik kita. Kita lupa bahwa di hadapan Allah, kita hanyalah debu yang tertiup angin. Betapa banyak amal kebaikan yang kita harap menjadi penolong, namun ruh pengorbanan sejatinya tak pernah kita tanamkan dalam kalbu. Bukankah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:
"Sesungguhnya amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling berkelanjutan, meskipun sedikit." (HR. Muslim)
Perkataan beliau ini, bagai cambuk yang menyentak kesadaran. Berkelanjutan. Bukan sekadar kilasan semangat sesaat. Bukan pula riuh rendah ibadah di hari raya. Namun ketekunan, keistiqamahan dalam pengorbanan kecil yang tulus, yang terus menerus mengalir dari hati yang merindu ridha Allah. Apakah kita telah membangun bangunan amal yang kokoh, atau hanya fondasi rapuh yang siap runtuh diterpa badai cobaan dunia? Betapa sering hati kita bergetar saat mendengar janji surga, namun tatkala diperintahkan untuk mengorbankan sedikit demi surga itu, kita malah bergeming.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah…
Lihatlah diri kita, sahabat-sahabatku yang mulia. Tatkala kita merenungi keagungan Idul Adha, hendaklah ada sejumput rasa pilu yang merayapi relung hati. Pilu atas dosa-dosa yang terlampau banyak, pilu atas lalai yang tak terhingga, pilu atas pengorbanan yang belum seberapa. Bayangkanlah, jika saja hari ini adalah hari kita menghadap Allah. Amalan apa yang sanggup kita persembahkan? Apakah tangisan kita yang tulus di malam hari, ataukah riuh tawa kita yang kosong di siang hari?
Sungguh, Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Ia membuka pintu taubat lebar-lebar bagi hamba-Nya yang menyesal. Ia akan menyambut dengan penuh suka cita, mereka yang kembali merangkak kepada-Nya, dengan hati yang luluh, dan jiwa yang kini mulai belajar menggoreskan jejak pengorbanan. Jauhkanlah diri kita dari kesombongan duniawi, dari kebanggaan yang semu. Terimalah setiap ujian sebagai sarana pendakian menuju keridhaan-Nya. Setiap tetes air mata penyesalan adalah pupuk bagi kebun taubat kita.
Buka hati kita, mari kita bertanya pada diri sendiri, adakah sesuatu yang lebih berharga dari cinta Allah? Adakah kenikmatan duniawi yang mampu menandingi kebahagiaan bertatap muka dengan-Nya kelak? Allah Ta’ala berfirman:
"Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya demi mencari keridhaan Allah. Dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya." (QS. Al-Baqarah: 207)
Ayat ini, saudaraku, bukanlah sekadar bacaan. Ia adalah undangan dan pencerahan. Pencerahan bahwa pengorbanan yang paling utama adalah pengorbanan demi keridhaan-Nya. Bukan demi pujian manusia, bukan demi popularitas semu, namun semata-mata demi menumbuhkan cinta kepada Sang Maha Pencipta di dalam jiwa. Marilah kita merenungkan, betapa sering diri ini meronta saat diperintahkan untuk berkorban, namun betapa lancangnya kita meminta surga tanpa sedikitpun pengorbanan yang berarti.
Ya Allah… Ampunilah kami yang seringkali hanya menjadi hamba lisan, bukan hamba tindakan. Ampunilah kami yang lisannya menyebut nama-Mu, namun hati kami terpaut pada selain-Mu. Ampunilah kami yang merindukan rahmat-Mu, namun enggan menempuh jalan pengorbanan yang mendatangkan rahmat itu. Ya Allah, jadikanlah Idul Adha kali ini sebagai awal dari perjalanan pengorbanan yang tulus, pengorbanan yang menggoreskan kesedihan atas dosa, namun juga menumbuhkan harapan akan ampunan-Mu yang luas.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.