Logo SantriDigital

Hindari hoax

Khutbah Jumat
T
thasin rafie
27 April 2026 3 menit baca 1 views

أَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ...

أَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah, Kita berkumpul di hari yang mulia ini, hari Jumat, hari penuh berkah, di hadapan Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Di saat kita merenungkan kebesaran-Nya, betapa sering lisan kita tergelincir, dan pikiran kita terjerat oleh ombak informasi yang tak bertepi. Di antara lautan kata dan gambar yang menghujam, ada satu ancaman yang menggerogoti kebajikan masyarakat kita, yaitu *hoax*. Berita bohong, informasi palsu, yang disebar tanpa tabayyun, tanpa verifikasi, tanpa akal sehat. Tidakkah kita takut pada azab Allah karena dusta yang kita sebarkan? Ingatlah firman Allah dalam Al-Qur'an surat Al-Hujurat ayat 6: "يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تَصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ". Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya, sehingga kamu menyesali perbuatanmu itu." Begitulah peringatan dari Rabb semesta alam. Ketika suatu berita datang dari sumber yang tidak dapat dipercaya, maka kewajiban kita sebagai hamba Allah adalah memeriksanya. Bukan tergesa-gesa menyebarkannya, seolah kita adalah juru bicara kebenaran padahal kita hanya penyebar kebohongan. Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah, Bayangkan, sebuah kabar bohong bisa memecah belah keluarga, merusak nama baik orang yang tidak bersalah, bahkan menimbulkan kegaduhan di tengah masyarakat. Padahal, baginda Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari: "كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ". Artinya: "Cukuplah seseorang dianggap berdusta jika ia menyampaikan setiap apa yang ia dengar." Dusta yang kita sebarkan, meskipun hanya dengan menekan tombol *forward*, adalah sebuah kebohongan yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah. Lihatlah betapa beratnya timbangan kebohongan. Satu kalimat dusta bisa menyeret seseorang ke jurang kehinaan di dunia, dan di akhirat kelak, ia akan berhadapan dengan murka Allah ta'ala. Tidakkah hati kita bergetar mendengar ancaman ini? Betapa sering kita terburu-buru dalam menyebarkan berita, tanpa bertanya, tanpa mengkonfirmasi, hanya karena merasa "penting" atau "lucu". Kita lupa, bahwa setiap detik kehidupan kita dicatat, setiap ucapan kita diawasi oleh Malaikat Raqib dan 'Atid. Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah, Di antara dosa yang paling dibenci Allah adalah kedustaan. Allah berfirman dalam surat Al-Jatsiyah ayat 7: "وَيْلٌ لِّكُلِّ أَفَّاكٍ أَثِيْمٍ". Artinya: "Kecelakaan yang besar bagi setiap orang yang banyak berdusta lagi banyak berdosa." Inilah label yang akan disandang oleh para penyebar *hoax*. Bukankah kita ingin bertemu Allah dalam keadaan suci, tanpa beban kedustaan yang membebani jiwa kita? Bukankah kita merindukan rahmat Allah dan surga-Nya yang luasnya seluas langit dan bumi? Marilah kita renungkan, di setiap kali jemari ini hendak menekan tombol *share*, tanyalah pada diri sendiri: "Apakah ini benar? Apakah aku sudah memverifikasinya? Siapa yang diuntungkan dengan tersebarnya berita ini? Siapa yang dirugikan?" Jarak antara kita dan kebenaran kini begitu dekat berkat teknologi, namun seringkali kita tersesat di tengah kemudahan itu, terperosok ke dalam jurang kebohongan, dan menyeret orang lain bersamanya. Ya Allah, hati kami bergetar, jiwa kami tersentuh. Ampunilah kami atas kelalaian kami, atas kedustaan yang telah kami sebarkan, baik disengaja maupun tidak. Jadikanlah lisan kami sebagai alat kebenaran, bukan corong kebohongan. Jadikanlah mata kami melihat kebenaran, bukan menyebar kepalsuan. Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah, Jangan biarkan diri kita menjadi alat yang merusak kedamaian, menyebarkan kebencian melalui informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Jaga diri kita, jaga keluarga kita, jaga masyarakat kita dari racun *hoax*. Jadilah pembawa cahaya kebenaran, penyebar informasi yang bermanfaat, dan penyejuk hati bagi sesama. Ingatlah, kebaikan yang kita sebarkan akan kembali pada diri kita, dan keburukan yang kita tebar, hanya akan mengundang murka Allah. Semoga Allah subhanahu wa ta'ala senantiasa membimbing lisan dan hati kita, menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang senantiasa truthful, yang selalu menjaga amanah ilmu dan informasi, serta menjauhkan kita dari segala bentuk kedustaan dan kebohongan. بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Bagikan artikel ini

Artikel Lainnya

Lihat semua →