Logo SantriDigital

Ibadah qurban

Khutbah Jumat
A
Anwar Kumaidi
4 Mei 2026 5 menit baca 1 views

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَ...

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. Hadirin sidang Jumat yang dirahmati Allah, Di penghujung tahun Hijriyah ini, Allah Subhanallahu Wa Ta'ala kembali mengingatkan kita akan sebuah syiar agung, sebuah ibadah penuh makna yang memanggil hati kita untuk mendekat kepada-Nya. Syiar itu adalah ibadah kurban. Syiar yang bukan sekadar menyembelih hewan, namun sebuah penyerahan diri total, sebuah pembuktian cinta yang melampaui segalanya. Ibadah kurban adalah panggilan suci untuk meresapi kembali hakikat pengorbanan, ketundukan, dan rasa syukur kita kepada Sang Maha Pemberi Kehidupan. Allah berfirman: وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنسَكًا لِّيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُم مِّن بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ ۗ فَإِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ فَلَهُ أَسْلِمُوا ۗ وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِينَ Artinya: "Dan bagi setiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan kurban, agar mereka menyebut nama Allah atas rezeki yang telah dianugerahkan-Nya kepada mereka berupa binatang ternak. Maka Tuhan kamu ialah Tuhan Yang Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah)." (QS. Al-Hajj: 34) Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah, Kurban adalah ujian keimanan, penegasan ketundukan kita kepada perintah Allah. Ia adalah pelajaran dari kisah teladan Nabi Ibrahim Alaihissalam dan putranya, Nabi Ismail Alaihissalam. Bayangkanlah hati seorang ayah, Ibrahim Alaihissalam, yang diperintahkan Allah untuk menyembelih buah hatinya, Ismail Alaihissalam, satu-satunya penerus keturunannya. Perintah itu datang justru di saat usia beliau sudah tua, dan putranya adalah anugerah terindah dari Allah. Sebuah ujian yang tak terbayangkan beratnya, sebuah pilihan yang mengiris jiwa. Namun, tatkala Allah memerintah, tak ada keraguan yang bersemayam dalam hati seorang nabi. Ketundukannya total, cintanya kepada Allah melebihi cinta kepada dirinya sendiri, bahkan melebihi cinta kepada anaknya yang terkasih. قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ Artinya: "Ibrahim berkata: 'Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?' Ismail menjawab: 'Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.'" (QS. As-Saffat: 102) Keagungan pengorbanan ini terabadikan dalam firman-Nya, "Maka tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan (putranya) atas pelipisnya, (nyatalah kesabaran keduanya)." (QS. As-Saffat: 103). Pengorbanan itu membuahkan cinta Allah yang teramat dalam, hingga Allah menggantinya dengan seekor kibas yang agung, sebagai bentuk kasih sayang-Nya. Inilah inti dari ibadah kurban: bukan masalah dagingnya, bukan masalah darahnya, melainkan ketakwaan yang tersembunyi di dalam hati kita yang mendorong kita untuk taat. Allah berfirman: لَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنكُمْ ۚ كَذَٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ ۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ Artinya: "Daging (hewan) dan (darah)nya sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah takwa kamu. Demikianlah Dia menundukkannya untukmu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap petunjuk-Nya yang Dia berikan kepadamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang yang berbuat baik." (QS. Al-Hajj: 37) Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah, Mari kita renungkan, sejauh mana ketakwaan kita teraktualisasi dalam hidup ini? Apakah kita telah mampu mengorbankan ego, kesombongan, kekikiran, dan segala penyakit hati yang menghalangi langkah kita menuju rahmat Allah? Seringkali kita terperangkap dalam hiruk pikuk dunia, lupa akan tujuan utama penciptaan kita. Kurban adalah momen untuk membersihkan jiwa, mengikis kerak-kerak dosa, dan mengobarkan kembali semangat pengabdian kita kepada Sang Pencipta. Ujian keimanan yang sesungguhnya bukanlah pada beratnya timbangan hewan yang kita korbankan, namun pada kesediaan hati kita untuk berkorban di jalan-Nya. Apakah kita rela mengorbankan waktu demi menuntut ilmu? Apakah kita rela mengorbankan harta demi membantu sesama yang membutuhkan? Apakah kita rela mengorbankan kepentingan pribadi demi menjaga kerukunan ukhuwah? Perhatikanlah sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam: "Tidak ada amalan anak Adam yang lebih dicintai Allah pada hari an-Nahr (Idul Adha) selain mengalirkan darah (menyembelih kurban). Sesungguhnya ia datang pada Hari Kiamat dengan tanduk-tanduknya, bulu-bulunya, dan kukunya. Dan sesungguhnya darah tersebut akan sampai kepada Allah di suatu tempat sebelum jatuh ke bumi. Maka, bersihkanlah jiwa kalian (dengan berkurban)." (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah) Bahkan, para sahabat bertanya kepada Rasulullah: "Wahai Rasulullah, apakah ini (kurban) itu?" Beliau menjawab: "Ya, ini adalah sunah ayah kalian, Ibrahim. Namun, yang berhak (mendapatkan pahala besar) adalah kurban yang agung (yaitu berlebih dari sekadar memenuhi kebutuhan)." Ini menunjukkan betapa besar cinta Allah kepada hamba-Nya yang gemar berbagi dan mengorbankan hartanya di jalan-Nya, melebihi sekadar kewajiban. Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah, Saat kita menyembelih hewan kurban, ingatlah bahwa kita sedang meneladani cinta tiada tara antara seorang ayah dan anak kepada Tuhannya. Ingatlah bahwa setiap tetes darah yang mengalir adalah saksi bisu pengakuan kita akan kebesaran Allah dan kerendahan diri kita sebagai hamba. Ingatlah bahwa pahala kurban ini akan datang pada Hari Kiamat, membawa berkah dan syafaat bagi kita. Maka, janganlah kita hanya sekadar menjalankan rutinitas tanpa meresapi maknanya. Jadikanlah momentum Idul Adha ini sebagai titik tolak untuk meningkatkan kualitas diri, membersihkan hati dari segala penyakit, dan mengabdikan diri sepenuhnya kepada Allah. Marilah kita bermuhasabah diri. Tanyakan pada lubuk hati terdalam, adakah di antara kita yang masih tertatih dalam meniti jalan ketaatan? Adakah di antara kita yang masih bergelimang dosa, namun enggan untuk kembali kepada-Nya? Ibadah kurban mengajarkan kita untuk melepaskan, untuk berbagi, untuk membersihkan diri. Sama seperti seorang yang telah menebus kesalahannya di hadapan Allah dengan pengorbanan jiwa dan raga. Ya Allah, jika Engkau telah menguji Nabi Ibrahim dengan perintah menyembelih buah hatinya, maka uji pulalah kami dengan kemampuan kami untuk berkorban di jalan-Mu. Ringankanlah langkah kami untuk mengeluarkan sebagian rezeki yang telah Engkau anugerahkan, demi meraih cinta dan rida-Mu. Jadikanlah darah kurban kami menjadi penyuci dosa, pengangkat derajat, dan penambah timbangan kebaikan kami kelak di hari perhitungan. Bapak-bapak, Ibu-ibu, saudara-saudari sekalian, pandanglah ke dalam diri. Kapan terakhir kali kita merasakan nikmatnya menangis karena takut kepada Allah? Kapan terakhir kali hati kita bergetar karena kagum akan rahmat-Nya yang tak terhingga? Ibadah qurban ini adalah satu dari sekian pintu rahmat yang Allah bukakan lebar-lebar. Jangan sia-siakan kesempatan ini. Jangan biarkan diri kita menjadi hamba yang hanya pandai berkata-kata manis, namun miskin tindakan nyata. Mari kita buktikan cinta kita kepada Allah dengan pengorbanan yang tulus, dengan ketakwaan yang mengakar kuat dalam jiwa. بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Bagikan artikel ini

Artikel Lainnya

Lihat semua →