Menjelang pilkades 2026
Khutbah Jumat
M
Muhammad Taufik
4 Mei 2026
4 menit baca
0 views
Teks khutbah sebagai berikut: اَلْحَمْدُ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّ...
Teks khutbah sebagai berikut:
اَلْحَمْدُ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
أَمَّا بَعْدُ.
فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah...
Hari ini, kita berkumpul di rumah Allah, memanjatkan puji dan syukur kehadirat-Nya. Jantung kita berdetak oleh irama kehidupan yang Allah beri. Namun, di tengah kesibukan dunia yang fana, di tengah hiruk pikuk persiapan yang tiada habisnya, mari sejenak kita jeda. Sejenak kita renungkan diri. Kita sedang berada di ambang masa-masa krusial, di mana pilihan-pilihan besar akan menentukan arah masa depan kita. Terutama, sebentar lagi kita akan dihadapkan pada sebuah momen penting, yaitu pemilihan kepala daerah, yang dalam beberapa waktu ke depan akan kita lalui bersama sebagai bagian dari proses demokrasi di negeri tercinta. Dalam suasana seperti ini, sangatlah tepat bila kita menggemakan kembali wasiat taqwa, yaitu bertakwa kepada Allah Swt. Takwa yang sebenar-benarnya takwa, takwa yang membersamai setiap detak jantung kita, takwa yang mengarahkan setiap langkah kita. Sebab, hanya dengan taqwa, kita akan menemukan keselamatan sejati, baik di dunia maupun di akhirat.
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah...
Bumi pertiwi ini adalah amanah dari Allah. Jabatan dan kekuasaan adalah ujian dari-Nya. Para pemimpin adalah khalifah-Nya di muka bumi untuk menegakkan keadilan dan membawa kemaslahatan. Namun, pernahkah kita memikirkan, apa yang Allah inginkan dari kita di saat-saat menjelang pemilihan seperti ini? Apakah kita akan menjadi bagian dari mereka yang hanya memikirkan kepentingan pribadi dan golongan, ataukah kita akan menjadi hamba Allah yang senantiasa memohon petunjuk-Nya dalam setiap pilihan? Renungkanlah firman Allah Swt. dalam surat Al-Baqarah ayat 124:
وَإِذِ ابْتَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ ۖ قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا ۖ قَالَ وَمِن ذُرِّيَّتِي ۖ قَالَ لَا يَنَالُ عَهْدِي الظَّالِمِينَ
(Dan ketika Tuhannya menguji Ibrahim dengan beberapa kalimat, lalu Ibrahim menepatinya. Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia." Ibrahim berkata: "Dan dari anak cucuku." Allah berfirman: "Janganlah engkau memohon untuk (memilih) orang yang zalim. (Janji-Ku) itu tidak mengenai orang-orang yang zalim.")
Ayat ini mengingatkan kita dengan tegas, bahwa janji Allah untuk menjadikan seseorang sebagai pemimpin tidak akan pernah mengenai orang-orang yang zalim. Kebangkitan negeri ini ada di tangan kita. Pilihlah pemimpin yang adil, yang amanah, yang takut kepada Allah. Jangan sampai suara kita jatuh pada mereka yang hanya haus kekuasaan, yang hanya berjanji manis namun hatinya dipenuhi kegelapan.
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah...
Kita sering mengeluh tentang kondisi negeri. Kita merindukan tatanan yang lebih baik. Namun, apakah kita sudah benar-benar bertindak sesuai dengan keinginan Sang Pencipta? Memilih pemimpin bukan sekadar memilih orang, tetapi memilih jalan hidup. Jalan yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Swt. Di hari kiamat kelak, setiap suara yang kita berikan akan menjadi saksi. Bayangkanlah, kelak di padang mahsyar, ketika setiap insan berkumpul dalam keadaan telanjang dan hanya ditemani amal perbuatannya, kita akan ditanya satu per satu. Termasuk pertanyaan tentang bagaimana kita menggunakan hak suara kita untuk memilih pemimpin. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
"مَا مِنْ أَمِيرٍ يُؤَمِّرُ عَلَى الْمُسْلِمِينَ فَيَلْقَاهُمْ وَهُوَ غَاشٌّ لَهُمْ، إِلَّا حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ."
(Tidak ada seorang pemimpin pun yang memimpin kaum Muslimin lalu ia mati dalam keadaan menipu mereka, kecuali Allah akan mengharamkan surga baginya.)
Hadits ini begitu lugas dan menakutkan. Kita tidak hanya berbicara tentang pemimpin yang terpilih, tetapi juga tentang kita sebagai pemberi suara. Apakah kita telah memilih mereka dengan benar, ataukah kita telah tergoda oleh iming-iming duniawi sehingga kita menyerahkan amanah rakyat kepada orang yang tidak layak?
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah...
Marilah kita tengadahkan tangan, kita tatap masa depan dengan penuh harapan, namun juga dengan kewaspadaan. Di tengah godaan dunia yang begitu kuat, iman kita adalah perisai. Ilmu kita adalah penerang. Cinta kita kepada Allah adalah kompas yang tiada pernah tersesat. Jika hati kita dipenuhi oleh takut kepada Allah (khauf), dan rindu akan rahmat-Nya (raja'), maka setiap pilihan kita akan senantiasa lurus sesuai dengan ridha-Nya. Jangan biarkan suara kita menjadi alat yang menghancurkan, tetapi jadikanlah ia sebagai sarana untuk membangun peradaban yang diridhai Allah. Pilihlah pemimpin yang mencintai Allah dan dicintai Allah. Yang imannya kokoh, yang ilmunya mumpuni, yang akhlaknya mulia.
Ya Allah,
Kami adalah hamba-Mu yang lemah. Kami memohon ampun atas segala khilaf dan dosa kami. Lindungilah kami dari kehinaan dunia dan siksa akhirat. Ya Rabb, bimbinglah kami dalam setiap langkah, terutama di saat-saat penting ini. Jadikanlah kami hamba yang senantiasa memilih jalan kebaikan, yang senantiasa mencari ridha-Mu. Wallahul musta'an.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.