Logo SantriDigital

Kekuatan Menahan Lisan Dalam Lisan

Khutbah Jumat
H
Henny Purnianto
1 Mei 2026 4 menit baca 0 views

أَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ، كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا ...

أَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ، كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah... Pada hari yang penuh berkah ini, di hadapan Allah Azza wa Jalla, marilah kita renungkan sejenak sebuah anugerah yang begitu agung, namun seringkali luput dari perhatian kita: kekuatan untuk mengendalikan lisan. Lisan ini, oh, lisan ini! Ia bagaikan pedang bermata dua, yang mampu mengukir kebaikan tak terhingga atau menggoreskan luka yang tak tersembuhkan. Betapa banyak air mata mengalir, betapa banyak hati yang hancur, bukan karena bencana alam, melainkan karena bisikan lisan yang tak terkendali. Ia bisa menghancurkan impian, merusak persahabatan, bahkan memecah belah keluarga. Lihatlah betapa ringannya lisan ini bergerak, namun betapa berat pertanggungjawabannya di akhirat kelak. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "إِنَّ الرَّجُلَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ، لَا يَلْقِي لَهَا بَالًا، تَهْوِي بِهِ فِي جَهَنَّمَ سَبْعِينَ خَرِيْفًا." Artinya: "Sesungguhnya seseorang di antara kalian berbicara dengan satu kalimat yang mendatangkan murka Allah, dia tidak mempedulikannya, namun kalimat itu membuatnya terjerumus ke dalam neraka Jahanam sejauh tujuh puluh tahun perjalanan." (HR. Muslim) Tujuh puluh tahun perjalanan ke dalam jurang neraka, hanya karena satu kata yang terucap tanpa pertimbangan. Sungguh, ia adalah peringatan yang menyayat hati, menggugah jiwa agar segera beristighfar dan menahan diri. Betapa sering kita terjerumus dalam dosa ghibah, namimah (fitnah), adu domba, atau sekadar membicarakan aib sesama, tanpa menyadari bahwa lisan kita tengah membangun istana di neraka untuk diri kita sendiri. Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah... Coba bayangkan sejenak, wahai Saudara seiman. Di hari kiamat kelak, saat setiap amal dihisab, saat dosa-dosa tertumpuk, lisan kita akan menjadi saksi atas segala yang telah kita ucapkan. Akankah ia menjadi saksi yang memberatkan, atau justru meringankan? Allah Ta'ala berfirman, mengingatkan kita akan kedahsyatan ini: "مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ." Artinya: "Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu hadir." (QS. Qaf: 18) Lihatlah, setiap desah lisan kita, setiap kata yang terucap, tertulis dengan tinta keabadian. Terkadang, kita begitu mudah melontarkan kata-kata yang menyakitkan, yang merendahkan hak martabat seseorang, tanpa berpikir bahwa ucapan itu akan menjadi beban berat di hadapan Sang Maha Pengadil. Kita larut dalam keseruan percakapan, lalu lupa bahwa di samping kita ada malaikat yang mencatat, dan di depan kita ada Pengadilan Ilahi. Air mata penyesalan di dunia mungkin belum cukup untuk menghapus jejak luka yang ditorehkan lisan. Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah... Bukankah lisan ini pula yang telah dianugerahkan Allah untuk mengagungkan-Nya, untuk menyebut nama-Nya, untuk memohon ampunan-Nya dan merindu rahmat-Nya? Betapa indahnya lisan yang basah oleh dzikir, yang berhias bacaan Al-Qur'an, yang senantiasa menebar kebaikan. Lisan yang mampu mengucapkan "Subhanallah," "Alhamdulillah," "La ilaha illallah," "Allahu Akbar," adalah lisan yang sedang membangun taman di surga. Namun, ironisnya, lisan yang sama seringkali kita gunakan untuk menumpuk dosa. Renungkanlah, saat kita sedang berkumpul, kemudian muncul topik pembicaraan yang mengarah pada keburukan orang lain. Detik itu, peluang terbesar untuk menjaga lisan hadir. Maka, berdiamlah. Diriwayatkan dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu, ia berkata, "Demi Allah yang tidak ada Tuhan selain Dia, tidak ada yang lebih berhak untuk dipenjara lama daripada lisan." (HR. Tirmidzi) Ya, dipenjara ia, agar tidak melepaskan panah-panah beracun yang akan melukai diri sendiri dan orang lain. Ketakutan akan murka Allah seharusnya mampu menahan kita. Bayangkan, saat setiap kata yang terucap itu, jika buruk, akan diminta pertanggungjawabannya. Bukankah lebih baik diam daripada terbebani dosa yang tak terhitung jumlahnya? Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah... Maka, di kesempitan waktu yang kita miliki ini, marilah kita bermohon kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala agar senantiasa membimbing lisan kita. Ya Allah, janjikan hati kami untuk menjaga lisan, hiasilah ia dengan kalimat-kalimat yang Engkau cintai. Jadikanlah ia alat untuk menyebarkan kebaikan, untuk menyebut keagungan-Mu, untuk memohon ampunan-Mu. Lindungilah kami dari ucapan yang mendatangkan murka-Mu, dari kata-kata yang menghancurkan hati saudaraku sesama Muslim. Ingatlah, Saudaraku. Ketenangan jiwa datang dari lisan yang terjaga. Kebahagiaan hakiki terukir dari setiap ucapan yang diridhai Allah. Jangan biarkan lisan kita menjadi sumber penyesalan abadi. Taubatlah dari setiap kesalahan lisan yang telah lalu, dan bertekadlah untuk menjaganya di masa mendatang. Yakinlah, Allah Maha Penerima Taubat, Maha Pengasih. بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Bagikan artikel ini

Artikel Lainnya

Lihat semua →