Logo SantriDigital

Respon perang Amerika dan Iran

Khutbah Jumat
H
Hasbullah Ahmad
28 April 2026 4 menit baca 1 views

بسم الله الرحمن الرحيم الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين، نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِ...

بسم الله الرحمن الرحيم الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين، نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. Sidang Jumat yang berbahagia, Hari ini, hati kita mungkin dipenuhi dengan kengerian dan kegelisahan. Dunia seolah meratap bersaksi atas hiruk pikuk peperangan yang memecah belah peradaban. Di tengah ketegangan yang mewarnai cakrawala, marilah kita renungkan sejenak hakikat kehidupan ini. Betapa rapuhnya dunia di mata Sang Pencipta. Peperangan yang terjadi, entah itu antara Amerika, Iran, atau kekuatan lainnya, hanyalah riak-riak kecil dalam gelombang besar yang bernama ujian dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. Sejatinya, ujian terbesar bagi kita sebagai mukminin bukanlah siapa melawan siapa, melainkan bagaimana kita merespon setiap gejolak ini dengan iman yang teguh, hati yang khusyuk, dan jiwa yang senantiasa dekat kepada Allah. Allah Ta'ala berfirman dalam Al-Qur'an: وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ "Dan sungguh, akan Kami uji kamu sekalian dengan sedikit rasa takut, kelaparan, dan kekurangan harta, jiwa, serta buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar." (QS. Al-Baqarah: 155) Lihatlah, wahai saudaraku, bukan ancaman dari siapapun yang seharusnya menjadi perhatian utama kita, melainkan peringatan dari Sang Maha Kuasa akan ujian yang pasti datang. Ketakutan yang menjalar di hati kita saat mendengar berita perang, itu adalah alat yang Allah gunakan untuk menguji seberapa dalam keimanan kita. Apakah ketakutan itu membuat kita semakin menjauh dari-Nya, atau justru menarik kita lebih dekat untuk memohon pertolongan-Nya? Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah... Di saat dunia diliputi kecemasan akan dampak bom dan rudal, marilah kita bangkitkan kesadaran akan dahsyatnya azab Allah yang tak terbayangkan. Perang duniawi, sehebat apapun kehancurannya, tak sebanding dengan satu kedipan mata dari murka Allah. Bayangkanlah, wahai saudara sekalian, jurang neraka yang membentang luas, bara apinya yang membakar kulit, dan jeritan penghuni di dalamnya. Apakah kita telah mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya untuk menghadapinya? Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Api dunia yang kalian nyalakan itu adalah satu bagian dari tujuh puluh bagian api neraka." Merindingkah hati kita mendengar ini? Sungguh, pertempuran di bumi ini, betapapun menggetarkannya, hanyalah sebagian kecil dari siksaan yang telah Allah siapkan bagi mereka yang berpaling dari jalan-Nya. Maka, respons terbaik kita terhadap gejolak dunia adalah memperkuat benteng takwa dalam diri, membersihkan hati dari segala dosa, dan mendekatkan diri kepada Allah dengan segala kerinduan. Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah... Janganlah kita terbawa arus keputusasaan dan ketidakpedulian. Ingatlah, setiap detik yang berlalu adalah kesempatan emas untuk bertaubat. Peperangan adalah pengingat yang jelas bahwa hidup ini sementara. Apa yang kita kejar di dunia ini? Kekayaan yang akan ditinggalkan? Kekuasaan yang akan sirna? Atau ibadah yang akan membawa kita menuju surganya Allah? Pilihlah dengan bijak. Pilihlah dengan hati yang tunduk dan rindu pada rahmat-Nya. Allah Ta'ala berfirman: كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۖ فَمَن زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ "Setiap jiwa pasti akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari Kiamat sajalah disempurnakan balasanmu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh dia telah beruntung. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya." (QS. Ali 'Imran: 185) Peperangan ini, wahai saudara, adalah bukti nyata betapa tidak berartinya dunia jika dibandingkan dengan kebahagiaan abadi di akhirat. Rasa takut akan pertempuran di bumi harusnya menumbuhkan rasa takut yang lebih besar kepada Allah, agar kita berlari menuju rahmat-Nya yang seluas samudra. Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah... Kengerian perang seharusnya menjadi bahan renungan kita untuk lebih mencintai Allah. Allahu Rabbi! Betapa Maha Pengasihnya Dia, masih memberi kita kesempatan untuk memperbaiki diri di tengah badai ujian ini. Belum panasnya bara neraka kita rasakan, belum dalamnya jurang kekufuran yang menganga. Tapi Allah masih membuka pintu taubat, memanggil kita dengan lembut, "Kembalilah hamba-Ku!" Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengajarkan kita doa: "اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ، وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ، وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ، وَجَمِيعِ سَخَطِكَ." "Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari hilangnya nikmat-Mu, berubahnya kesehatan-Mu, datangnya siksa-Mu dengan tiba-tiba, dan segala murka-Mu." Dalam ketegangan dunia yang mencekam ini, janganlah kita sibuk dengan perdebatan siapa yang salah dan siapa yang benar. Sibukkanlah diri dengan introspeksi, membersihkan hati dari segala penyakit hasad dan dendam, serta memperbanyak dzikir dan doa memohon keselamatan dunia dan akhirat. Jadikan firman Allah sebagai kompas hidup kita: إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ ۗ "Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah diri mereka sendiri." (QS. Ar-Ra'd: 11) Mari kita ubah diri kita, dari lalai menjadi sadar, dari takut kepada manusia menjadi takut kepada Allah, dari cinta dunia menjadi cinta akhirat. Maka, wahai hadirin sekalian, ketika berita perang itu terdengar, janganlah hati kita dipenuhi kepanikan semata. Sebaliknya, biarlah ia menjadi cambuk yang menyadarkan kita akan kelemahan diri, akan butuhnya kita pada pertolongan Allah Yang Maha Perkasa. Marilah kita bermuhasabah, melihat kembali amal perbuatan kita, dan bertawakkal sepenuhnya kepada-Nya. Puncak dari segala respons kita terhadap gejolak dunia adalah mengarahkan seluruh jiwa raga untuk mendekat kepada Allah, memohon ampunan-Nya, dan merindukan surga-Nya. بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Bagikan artikel ini

Artikel Lainnya

Lihat semua →