Logo Kangsantri AI

Cinta Nabi, Jiwa Bercahaya

Ceramah
N
nazirin rn
18 Agustus 2026 4 menit baca 31 views

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ و...

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ.

قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: ﴿قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ﴾.
رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي.

Alhamdulillah, bapak-bapak yang saya hormati, ibu-ibu yang saya cintai, dan adik-adik yang saya sayangi. Yang terhormat para alim ulama, bapak kiai, para ustadz dan ustadzah, wabil khusus kepada Bapak Kepala Desa yang senantiasa mengayomi warganya, serta seluruh hadirin yang dirahmati Allah.

Luar biasa sekali semangat warga di sini. Saya lihat ibu-ibu sudah dandan rapi, bapak-bapak juga sudah pakai sarung terbaik, jangan-jangan ini bukan mau pengajian, tapi mau kondangan ya? Tapi alhamdulillah, niatnya ke masjid/tempat pengajian, insya Allah pahalanya lebih besar daripada sekadar makan rendang di hajatan.

Bapak dan Ibu sekalian, hari ini kita bicara soal cinta. Eh, jangan senyum-senyum dulu, bukan cinta anak muda yang kirim surat lewat burung merpati, tapi cinta kepada sosok yang luar biasa, yakni Nabi Muhammad SAW.

Kenapa kita harus cinta Nabi? Pertanyaan ini sering muncul. Apakah karena beliau ganteng? Ya memang, kalau Nabi Muhammad SAW lewat, bulan saja minder. Tapi alasan utamanya bukan itu. Kita cinta karena beliau adalah "pahlawan" penyelamat kita. Bayangkan kalau tidak ada beliau, kita mungkin masih bingung cari Tuhan ke pohon beringin atau ke batu besar di pojok desa.

Rasulullah SAW bersabda:

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ
"Tidak beriman salah seorang di antara kalian hingga aku lebih dicintainya daripada anaknya, orang tuanya, dan manusia seluruhnya." (HR. Bukhari & Muslim).

Nah, ini berat. Ibu-ibu kalau disuruh milih, lebih cinta suami atau Nabi? Jangan jawab jujur ya, nanti suaminya langsung cemberut di samping. Tapi maksudnya, kecintaan kita kepada Nabi harus melampaui segalanya. Kenapa? Karena Nabi itu perhatian sekali sama kita.

Pernah suatu hari, Nabi menangis sambil berdoa, "Ummati, ummati!" (Umatku, umatku!). Padahal kita belum lahir, beliau sudah mikirin kita di padang mahsyar nanti. Kita saja kadang anak sendiri rewel sedikit, kita sudah pusing, mau ngomel. Tapi Nabi? Beliau sabar luar biasa. Beliau bahkan memaafkan orang yang melemparinya batu sampai berdarah. Kalau orang sini dilempar batu, mungkin sudah keluar jurus silat atau lapor ke Pak Kades, ya kan?

Beliau mencintai kita, padahal kita ini kalau shalat kadang masih ingat jemuran belum diangkat, atau ingat cicilan yang belum lunas. Kita sering tidak menuruti sunnahnya, tapi beliau tetap menanti kita di telaga Al-Kautsar untuk memberi minum.

Ada kisah menarik. Suatu hari ada seorang sahabat datang bertanya, "Ya Rasulullah, kapan kiamat?" Nabi tanya balik, "Apa yang kamu siapkan?" Sahabat jawab, "Nggak punya banyak amal, cuma saya cinta Allah dan Rasul-Nya." Lalu Nabi bersabda:

الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ
"Seseorang itu akan bersama dengan siapa yang ia cintai." (HR. Bukhari).

Jadi bapak ibu, kalau kita cinta Nabi, insya Allah nanti di surga kita tetanggaan sama Nabi. Bayangkan, tetanggaan sama Nabi! Nggak perlu bayar iuran warga, nggak perlu repot kalau ada kerja bakti. Yang penting, syaratnya satu: ikuti jalannya.

Jangan mengaku cinta Nabi tapi kelakuan tidak mencerminkan sunnah. Suka fitnah tetangga, itu bukan sunnah. Suka pelit sama orang miskin, itu bukan sunnah. Nabi itu dermawan sekali. Beliau tidak pernah bilang "tidak" kalau ada orang minta tolong. Kalau ada warga yang minta sumbangan buat masjid atau buat bantu janda tua, jangan pura-pura tidur atau pura-pura mati ya, Pak. Itu meneladani akhlak Nabi.

Jadikan Nabi sebagai idola nomor satu. Jangan idola kita cuma artis sinetron yang gonta-ganti pasangan. Kalau mau hidup berkah, ikuti cara makan Nabi, cara berpakaian Nabi, cara bicara Nabi yang santun.

Jadi, mari kita simpulkan, kenapa kita harus cinta Nabi? Pertama, karena beliau adalah kunci keselamatan kita. Kedua, karena beliau satu-satunya sosok yang paling tulus menyayangi kita tanpa syarat. Ketiga, karena mencintai beliau adalah jalan pintas menuju surga-Nya Allah SWT.

Maka, mulai besok, perbanyaklah shalawat. Ibu-ibu kalau sedang mencuci baju atau memasak, lisannya basahi dengan "Allahumma shalli 'ala Muhammad". Itu obat hati yang paling manjur. Daripada ghibah tetangga yang tidak ada gunanya, lebih baik shalawat, pahalanya dapat, hatinya adem, wajahnya pun jadi awet muda, apalagi kalau ditambah sering senyum.

Sebelum saya tutup, saya mohon maaf kalau ada candaan saya yang kurang berkenan. Saya cuma ingin kita semua pulang dari sini dengan hati yang lebih cinta kepada Nabi. Mari kita perbaiki ibadah kita, tingkatkan sunnah kita, dan semoga kita semua dikumpulkan bersama Rasulullah di jannah nanti.

Mari kita berdoa bersama.
Ya Allah, berikanlah kami rasa cinta yang mendalam kepada Nabi-Mu. Jadikanlah hati kami terpaut dengan sunnah beliau. Ampunilah dosa-dosa kami, orang tua kami, dan bimbinglah kami untuk senantiasa berjalan di atas jalan yang lurus. Rabbana atina fid-dunya hasanah, wa fil-akhirati hasanah, wa qina adzaban-nar.

Terima kasih atas segala perhatiannya. Mohon maaf atas segala kekurangan. Semoga desa ini selalu diberkahi oleh Allah SWT.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Bagikan artikel ini

Artikel Lainnya

Lihat semua →