اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ، كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ: وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ. رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي.
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah. Yang saya hormati para alim ulama, para kiai, para sesepuh desa yang menjadi pilar keberkahan di kampung kita ini. Kepada Bapak Kepala Desa, tokoh masyarakat, serta seluruh asatidz dan asatidzah yang tak kenal lelah membimbing umat. Teristimewa, kepada seluruh jamaah, bapak-bapak, ibu-ibu, serta pemuda-pemudi kebanggaan desa yang telah meluangkan waktu memenuhi rumah Allah ini dengan wajah yang berseri-seri. Terima kasih atas kehadirannya. Kehadiran Bapak dan Ibu sekalian adalah saksi cinta kepada Rabbul Izzati.
Jemaah yang dimuliakan Allah, hari ini kita bicara tentang "Bersyukur di Tengah Ujian". Seringkali kita mengeluh, kenapa hidup susah? Kenapa panen gagal? Kenapa anak nakal? Kenapa ekonomi sulit? Padahal, Allah tidak pernah memberi ujian di luar kesanggupan kita.
Allah Ta'ala berfirman:
Ingat, kawan-kawan! Ujian adalah bentuk "cinta" Allah. Rasulullah ﷺ bersabda:
Jadi, kalau Bapak-Ibu merasa diuji, itu tandanya Allah ingin menaikkan derajat Bapak-Ibu! Jangan malah kendor semangatnya. Jangan malah menjauh dari masjid. Lihatlah petani kita, kalau tidak ada hujan, mana mungkin tanaman tumbuh? Begitu juga iman kita, kalau tidak ada "hujan" ujian, iman kita tidak akan pernah mengakar kuat!
Rasulullah ﷺ yang mulia juga bersabda:
Bapak dan Ibu yang saya cintai, bersyukur bukanlah saat kita punya segalanya. Bersyukur sejati adalah saat tangan kita kosong, tapi hati kita penuh dengan prasangka baik kepada Allah. Ingat kisah Nabi Ayyub 'alaihissalam? Beliau diuji dengan kemiskinan, penyakit, dan kehilangan, tapi tetap bersyukur. Apakah kita sudah lebih hebat dari beliau? Tentu belum. Maka, mari kita rubah keluhan kita menjadi doa. Ubah "mengapa saya?" menjadi "apa hikmahnya buat saya?".
Seringkali kita silau dengan harta orang lain, tapi lupa melihat nikmat napas yang gratis, kesehatan yang tak terbayar, dan keluarga yang masih berkumpul. Itulah syukur yang terabaikan!
Imam Al-Ghazali pernah menuturkan dalam Ihya Ulumiddin:
Bapak-Ibu, dunia ini singkat. Masalah yang kita hadapi hanyalah kerikil kecil dibanding surga Allah yang menanti. Mari bangkit! Bekerja lebih keras, beribadah lebih ikhlas. Jangan biarkan ujian mematahkan semangat kita. Justru jadikan ujian ini sebagai bahan bakar untuk mempercepat langkah menuju surga.
Sebagai penutup, mari kita tanamkan dalam hati tiga poin penting: Pertama, sadari bahwa ujian adalah tanda cinta Allah. Kedua, syukur adalah kunci pembuka pintu harta dan kebahagiaan yang tertutup. Ketiga, tetaplah beramal saleh meski hati sedang terluka, karena ibadah adalah penawar paling ampuh untuk kesedihan.
Mari kita berdoa:
Ya Allah, ya Ghafur, ya Razzaq. Anugerahilah kami hati yang pandai bersyukur atas segala ketentuan-Mu. Jadikanlah setiap ujian yang kami alami sebagai penggugur dosa-dosa kami dan pengangkat derajat kami di sisi-Mu. Berikanlah kekuatan kepada saudara-saudara kami yang sedang dalam kesulitan, cukupkanlah rezeki mereka, dan tenangkanlah hati mereka. Ya Allah, mudahkanlah rezeki kami, berkahilah desa kami, dan kumpulkanlah kami semua dalam surga-Mu kelak.
Mohon maaf atas segala kekurangan dalam tutur kata saya. Yang benar datangnya dari Allah, yang salah datangnya dari kedangkalan ilmu saya pribadi.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ