اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ.
Alhamdulillah, puji syukur ke hadirat Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Senang sekali kita bisa berkumpul di majelis yang insya Allah penuh berkah ini. Kepada yang terhormat para alim ulama, para kiai, Bapak-bapak, Ibu-ibu pengurus masjid, Bapak-bapak, Ibu-ibu aparat desa, serta seluruh warga desa yang saya cintai dan saya banggakan. Mari kita sama-sama panjatkan puji syukur atas nikmat sehat, nikmat iman, dan nikmat kesempatan yang Allah berikan kepada kita semua, sehingga kita bisa hadir di sini dalam keadaan sehat walafiat.
Hadirin yang dirahmati Allah,
Rasanya seperti mimpi, tiba-tiba sudah masuk bulan Muharram lagi. Cepat sekali ya, Bu, Pak? Rasanya baru kemarin kita menyiapkan kurban sapi, eh tahu-tahu sudah waktunya bingung mau nyari tunjangan akhir tahun lagi. (Sambil tersenyum dan sedikit tertawa). Bulan Muharram ini bukan sekadar ganti kalender, lho. Ini adalah momen penting bagi kita umat Islam. Apalagi bulan ini adalah salah satu dari empat bulan haram yang memiliki kemuliaan luar biasa di sisi Allah SWT.
Nah, apa sih istimewanya bulan Muharram ini? Pertama, ini adalah awal tahun kita dalam kalender Hijriyah. Kalau kita mau menyambut tahun baru Masehi saja banyak yang bikin acara, apa lagi menyambut tahun baru Islam, kan? Ini kesempatan kita untuk "reset" diri, memperbaiki amal-amal kita yang kemarin mungkin agak miring, biar tahun ini lurus kembali seperti jalan tol yang baru diaspal.
Ayat yang tadi kita baca dari surat At-Taubah ayat 36 mengingatkan kita bahwa ada empat bulan haram: Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Kenapa disebut haram? Bukan berarti tidak boleh ngapa-ngapain, tapi lebih kepada kita harus lebih menjaga diri. Dilarang berbuat aniaya, aniaya diri sendiri, aniaya orang lain, termasuk aniaya hewan. Kalau sekarang ada yang lagi galau mikirin cicilan rumah, itu jangan sampai bikin aniaya sama istri di rumah ya, Bu. (Tawa jamaah). Dan kalau ada yang hobinya nyakitin hati orang lain, nah, di bulan haram ini jangan diteruskan, nanti nambah dosanya dobel-dobel.
Rasulullah ﷺ bersabda: "Puasalah setelah bulan Ramadan, yang paling utama adalah puasa di bulan Allah, yaitu bulan Muharram." (HR. Muslim). Nah, ini yang menarik. Puasa di bulan Muharram itu, kata Nabi, adalah puasa yang paling utama setelah puasa Ramadan. Kenapa paling utama? Karena puasa ini sudah dilatih sejak zaman dulu, bahkan sebelum Ramadan disyariatkan. Jadi, kalau Bapak-bapak di sini yang hobinya makan seblak, atau Ibu-ibu yang suka masak rendang sampai tiga piring, ini saatnya latihan diet yang syar'i. (Tertawa).
Muharram ini juga identik dengan peristiwa penting lainnya, yaitu hari Asyura, tanggal 10 Muharram. Sejarah mencatat banyak sekali peristiwa besar terjadi di hari tersebut. Salah satunya adalah peristiwa diselamatkannya Nabi Musa AS dan kaumnya dari kejaran Firaun. Nah, karena itu, Rasulullah ﷺ sangat menganjurkan kita untuk berpuasa di hari Asyura, bahkan dianjurkan juga puasa sehari sebelumnya (9 Muharram) atau sehari sesudahnya (11 Muharram) untuk membedakan kita dengan cara ibadah Yahudi. Jadi minimal puasa tasu'a (9 Muharram) dan asyura (10 Muharram).
Mengapa kita perlu berpuasa di hari Asyura? Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Barang siapa yang berpuasa pada hari Asyura, niscaya akan diampuni dosa setahun yang telah lalu." (HR. Muslim). Wah, luar biasa, kan? Cukup puasa sehari, dosa setahun diampuni Allah. Ini seperti promo besar-besaran dari Allah SWT. Kadang kita kalau lihat promo di toko saja rebutan, apalagi ini promo ampunan dosa dari Sang Pencipta. Rugi kalau dilewatkan.
Tapi ingat ya, hadirin sekalian, jangan sampai niat puasa kita itu semangatnya hanya karena ada promo. Kalau begitu, sama saja seperti kita membeli barang diskon tapi tidak dibutuhkan. Nanti begitu puasa, bukannya jadi lebih tawakal, malah jadi sensi kalau lapar, galak sama suami, atau malah ngomel-ngomel lihat harga sayur naik. (Tertawa). Puasa itu harus dilandasi dengan keikhlasan, rasa syukur, dan keinginan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Muharram ini juga seringkali dikaitkan dengan peristiwa sedih, yaitu syahidnya cucu Rasulullah, Sayyidina Husain radhiyallahu 'anhu, di Karbala. Memang, ini adalah momen yang menyentuh hati. Namun, para ulama mengingatkan agar kita tidak larut dalam kesedihan yang berlebihan hingga menimbulkan bid'ah yang tidak diajarkan oleh Rasulullah ﷺ. Kisah beliau seharusnya menjadi pengingat bagi kita untuk terus berpegang teguh pada ajaran agama, memperjuangkan kebenaran, dan tidak gentar menghadapi kesulitan. Kalau kita melihat perjuangan beliau, mungkin masalah cicilan motor kita yang dua bulan belum terbayar itu rasanya ringan sekali. (Tawa jamaah).
Jadi, apa yang bisa kita lakukan di bulan Muharram ini?
Pertama, perbanyak ibadah. Selain puasa sunnah, jangan lupakan shalat wajib berjamaah, membaca Al-Qur'an, bersedekah, dan menolong sesama. Mari kita niatkan bulan Muharram ini sebagai awal dari perubahan positif. Kalau biasanya bangun subuh kesiangan, mari kita berusaha bangun lebih awal untuk shalat tahajud atau witir. Kalau biasanya hanya bisa bersedekah sedikit, mari kita tingkatkan sedikit demi sedikit.
Kedua, perbaiki diri. Evaluasi diri kita. Apa saja kebiasaan buruk yang perlu ditinggalkan? Apa saja kebaikan yang perlu ditingkatkan? Ini saatnya kita "membersihkan gudang" hati kita dari dosa-dosa dan maksiat.
Ketiga, pererat silaturahmi. Saling mengunjungi, saling memaafkan. Kadang kita punya masalah sama tetangga karena masalah sepele, misalnya rebutan parkir atau suara musik dangdut terlalu keras pas lagi pengajian. Nah, di bulan yang mulia ini, mari kita buka pintu maaf lebar-lebar.
Hadirin sekalian,
Bulan Muharram adalah anugerah dari Allah. Mari kita manfaatkan sebaik-baiknya. Jangan sampai kita melewatkannya seperti kita melewatkan kesempatan emas untuk naik haji karena antreannya terlalu panjang. Jadikan Muharram sebagai titik tolak untuk menjadi pribadi yang lebih baik, lebih bertakwa, dan lebih dicintai Allah SWT.
Mungkin itu saja yang bisa saya sampaikan. Semoga apa yang kita dengar hari ini bisa menjadi bekal bagi kita semua untuk beramal. Jangan sampai kita pulang dari sini cuma ngantuk, tapi pulang dengan hati yang lebih cerah dan semangat baru.
Marilah kita tutup ceramah ini dengan doa.
Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, dosa kedua orang tua kami, dosa para pemimpin kami, dan dosa seluruh kaum muslimin dan muslimat, mukminin dan mukminat, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal.
Ya Allah, berkahi usia kami, berkahi rezeki kami, berkahi keluarga kami, dan berkahi seluruh urusan kami.
Ya Allah, jadikanlah bulan Muharram ini sebagai awal kebaikan, keselamatan, dan keberkahan bagi kami, bagi keluarga kami, dan bagi seluruh umat Islam.
Ya Allah, bimbinglah kami agar senantiasa dapat menjalankan perintah-Mu dan menjauhi larangan-Mu. Jauhkanlah kami dari segala bala dan musibah.
Ya Allah, kabulkanlah doa kami.
Mohon maaf yang sebesar-besarnya jika ada kata-kata yang kurang berkenan atau khilaf dalam penyampaian saya.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.