اَلسَّلَامُ عَلُيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ.
Yang saya muliakan para alim ulama, sesepuh desa, Bapak Kepala Desa beserta jajaran perangkat desa, Bapak Haji, Ibu Hajah, para asatidz dan asatidzah, serta seluruh bapak-bapak, ibu-ibu, dan adik-adik sekalian yang wajahnya terlihat cerah berseri-seri, mungkin karena baru gajian atau mungkin baru habis makan soto bareng-bareng di depan tadi, ya? Alhamdulillah, puji syukur ke hadirat Allah, kita bisa berkumpul di majelis yang penuh berkah ini. Saya lihat wajah-wajah di sini kalau dikumpulkan, rasanya adem sekali.
Bapak dan Ibu yang saya cintai, hari ini kita bicara soal Rahmatan lil 'Alamin. Istilah ini sering terdengar, tapi kadang disalahartikan. Ada orang yang bilang Islam itu Rahmatan lil 'Alamin, tapi pas ngomong sama tetangga, wajahnya kayak lagi nagih utang yang sudah sepuluh tahun nggak dibayar. Padahal, Islam itu filosofinya merangkul, bukan memukul. Islam itu seperti air hujan di desa kita ini, kalau turun, semua tanaman—baik itu padi, jagung, sampai rumput liar—semuanya kebagian sejuknya.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Anbiya ayat 107:
Artinya, Rasulullah SAW itu bukan cuma rahmat buat orang Islam yang pakai sarung atau kopiah saja. Rahmat buat kucing yang lewat, buat tanaman di sawah, bahkan buat tetangga kita yang mungkin hobinya bikin kita ngelus dada.
Ingat hadis Nabi SAW:
Jadi, filosofi rahmatan lil 'alamin itu intinya "menebar kebaikan tanpa pilih kasih". Jangan sampai kita merasa jadi orang paling saleh di desa ini, tapi kalau ada tetangga hajatan, kita malah nyari-nyari salah masakannya. "Wah, ini kok kurang garam, ini kurang santan." Itu namanya bukan rahmat, tapi rahmat-tanggung namanya.
Dulu, ada sahabat yang bertanya pada Nabi, "Wahai Rasulullah, bagaimana caranya supaya saya jadi orang yang bermanfaat?" Rasulullah menjawab, "Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya." (HR. Ahmad).
Bayangkan kalau di desa ini, warga satu dengan lainnya saling menutupi aib. Kalau si A lagi susah, si B bantu. Kalau si C lagi sedih, si D ngasih gorengan hangat. Itulah Islam yang sesungguhnya. Islam itu tidak ribet. Agama ini bukan untuk bikin hidup kita jadi makin susah. Islam itu solutif. Kalau ada masalah, selesaikan dengan cara yang baik, jangan diselesaikan dengan drama sinetron di grup WhatsApp warga.
Ulama besar, Imam Al-Ghazali pernah berkata:
Jadi, kalau kita ingin hidup di desa ini tenang, anak-anak sekolah dengan rajin, panen melimpah, dan tidak ada cekcok antar tetangga, kuncinya satu: praktikkan Islam yang memanusiakan manusia. Jangan jadi orang yang merasa paling benar sendiri, tapi lupa kalau tetangga sebelah rumah belum makan. Itulah hakikat rahmatan lil 'alamin. Kita harus jadi tetangga yang kalau kita nggak ada, orang merasa kehilangan. Bukan tetangga yang kalau kita lewat, orang langsung tutup pintu rapat-rapat.
Kesimpulannya, marilah kita bawa Islam ini dalam perilaku sehari-hari. Mulailah dari hal kecil: senyum kepada tetangga, bantu orang tua menyeberang jalan, jangan menebang pohon sembarangan, dan jangan nyinyir di media sosial. Jadilah pribadi yang kehadirannya didambakan, bukan yang kedatangannya justru bikin orang lain pusing tujuh keliling.
Mari kita tutup dengan doa. Ya Allah, jadikanlah kami hamba-Mu yang mampu mencerminkan akhlak Rasulullah SAW, jadikanlah desa kami desa yang damai, penuh keberkahan, jauh dari fitnah, dan jadikanlah kami pribadi yang menebar kasih sayang kepada sesama makhluk-Mu. Amin.
Saya mohon maaf jika ada kata-kata saya yang kurang berkenan, atau mungkin ada yang merasa tersindir—ya memang sengaja, biar kita sama-sama ingat untuk memperbaiki diri. Terima kasih atas perhatiannya.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ