Logo Kangsantri AI

Takdir Ilahi, Hidup Bermakna

Ceramah
H
Hilmi Algifari Ridollah
11 Juni 2026 4 menit baca 27 views

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، حَمْدًا يُوَافِي نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيدَهُ. يَا رَبَّ...

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، حَمْدًا يُوَافِي نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيدَهُ. يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِي لِجَلَالِ وَجْهِكَ وَعَظِيمِ سُلْطَانِكَ. سُبْحَانَكَ لَا نُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ: وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ. رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي

Yang terhormat para alim ulama, sesepuh desa yang senantiasa menjadi cahaya petunjuk bagi kita, Bapak Kepala Desa beserta jajaran perangkatnya, tokoh masyarakat, serta seluruh hadirin Bapak-bapak, Ibu-ibu, dan saudara sekalian yang dirahmati Allah SWT. Puji syukur ke hadirat Allah, karena atas izin dan kasih sayang-Nya, kita dapat berkumpul di majelis yang mulia ini dalam keadaan sehat walafiat. Shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat, dan pengikutnya hingga akhir zaman.

Hadirin yang saya hormati, kehidupan manusia di dunia ini persis seperti sebuah naskah drama atau peran yang sudah tertulis rapi oleh Sang Penulis Skenario Agung, yaitu Allah SWT. Kita sering cemas karena apa yang kita harapkan tidak sesuai dengan apa yang terjadi. Kita ingin panen melimpah, tapi terkadang cuaca tidak mendukung. Kita ingin hidup berkecukupan, tapi terkadang datang ujian ekonomi. Namun Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 216 tadi: "Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui."

Dalam menjalankan kehidupan sesuai skenario Tuhan, kunci utamanya adalah Ridha. Menjadi hamba yang ridha berarti menerima segala ketetapan Allah dengan hati yang lapang. Rasulullah SAW bersabda:

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
Artinya: "Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya adalah baik bagi dirinya, dan hal itu tidak dimiliki kecuali oleh seorang mukmin. Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Dan jika ia mendapat kesusahan, ia bersabar, maka itu baik baginya." (HR. Muslim).

Bapak-bapak dan Ibu-ibu sekalian, mari kita renungkan. Seringkali kita merasa paling tahu apa yang terbaik untuk diri kita. Padahal, Allah SWT adalah Pemilik hidup kita. Ibarat kita sedang membuat tenun atau kerajinan, kita melihat hanya benang-benang yang kusut dari bawah, tapi sang penenun tahu persis pola indah apa yang sedang ia bentuk di atasnya. Begitu pula Allah, melalui skenario-Nya yang terkadang membuat kita menangis, Dia sedang merajut kebaikan yang jauh lebih indah daripada yang kita bayangkan.

Hidup yang sesuai skenario Tuhan menuntut kita untuk berikhtiar semaksimal mungkin, namun tetap berserah diri sepenuhnya. Berikhtiar artinya menjalankan kewajiban sebagai hamba, menjaga amanah, bekerja keras di sawah, di ladang, atau di pasar dengan cara yang halal. Namun, hasilnya kita kembalikan kepada Allah. Jika kita bekerja keras tapi hasilnya sedikit, mungkin itu cara Allah melindungi kita dari kesombongan. Jika kita diuji dengan sakit, mungkin itu cara Allah menggugurkan dosa-dosa kita.

Sebagaimana dikatakan oleh Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin:

الرِّضَا هُوَ سُرُورُ الْقَلْبِ بِمُرِّ الْقَضَاءِ
Artinya: "Ridha adalah rasa senang (lega) hati terhadap kepahitan takdir."

Memang sulit, tapi inilah tingkatan tertinggi seorang muslim. Mengapa kita harus mengikuti skenario-Nya? Karena Allah adalah Al-Hakim (Maha Bijaksana). Setiap garis kehidupan kita—dari lahir hingga wafat, dari rezeki yang datang hingga musibah yang menyapa—semuanya sudah tercatat di Lauhul Mahfudz dengan perhitungan yang sangat presisi. Tidak ada yang salah alamat dalam pembagian rezeki Allah.

Oleh karena itu, marilah kita perbaiki prasangka kita kepada Allah. Jangan lagi ada keluhan yang menyalahkan nasib. Ingatlah, tugas kita bukanlah mengontrol hasil akhir, melainkan mengontrol kualitas peran yang kita mainkan di panggung dunia ini. Apakah kita sudah menjadi tetangga yang baik? Apakah kita sudah menjadi orang tua yang amanah? Apakah kita sudah menjadi hamba yang rajin bersujud? Itulah peran yang akan kita pertanggungjawabkan di akhirat kelak.

Sebagai penutup, mari kita tanamkan dalam hati untuk selalu berprasangka baik (husnuzhan) kepada Allah dalam segala keadaan. Jalani hari-hari dengan penuh syukur dan sabar. Jangan iri dengan rezeki orang lain, karena jatah hidup kita sudah tertulis rapi atas kebijaksanaan-Nya.

Ya Allah, jadikanlah kami hamba yang selalu ridha terhadap ketentuan-Mu. Anugerahkanlah kepada kami kesabaran saat diuji dan rasa syukur saat diberi nikmat. Bimbinglah kami agar senantiasa berada di jalan yang Engkau ridhai, dan wafatkanlah kami dalam keadaan khusnul khatimah. Robbana atina fiddunya hasanah, wafil akhirati hasanah, waqina adzabannar.

Saya memohon maaf yang sebesar-besarnya jika ada tutur kata yang kurang berkenan di hati bapak dan ibu sekalian. Perjalanan hidup memang penuh liku, namun dengan berpegang teguh pada skenario Tuhan, insya Allah kita akan sampai pada tujuan akhir yang indah, yaitu Surga-Nya.

Demikian yang dapat saya sampaikan, semoga bermanfaat bagi kita semua.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Bagikan artikel ini

Artikel Lainnya

Lihat semua →