اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ.
Yang saya hormati para pengasuh pondok pesantren, dewan asatidz dan asatidzah yang sabar menghadapi kelakuan santri yang kadang ajaib, serta teman-temanku, para santriwan dan santriwati yang saya cintai. Alhamdulillah, senang sekali melihat wajah-wajah ceria kalian. Wajah yang kalau melihat jadwal makan santri, semangatnya melebihi jadwal ujian akhir semester. Terima kasih kepada panitia yang sudah mengundang saya. Semoga lelah kalian menjadi lillah, dan bagi yang jomblo, semoga Idul Adha tahun depan sudah bisa kurban bareng pasangan. Minimal kurban perasaan, eh jangan deng.
Adik-adik santri yang dirahmati Allah, hari ini kita bicara tentang Idul Adha. Idul Adha identik dengan daging. Ingat, daging ya, bukan hanya konten TikTok. Banyak dari kita memaknai Idul Adha cuma sebatas "hari raya makan sate". Padahal, kurban adalah latihan melepaskan apa yang kita cintai demi Allah. Ibrahim AS saja ikhlas menyembelih Nabi Ismail, masa kita disuruh menyisihkan uang jajan buat infak kurban saja susahnya minta ampun?
Allah berfirman dalam Surah Al-Hajj ayat 37:
Bayangkan, kalau Allah butuh daging, pasti harganya nggak semahal sekarang. Pesan kurban itu "melepaskan". Dulu, waktu kalian masuk pondok, kalian harus melepas HP, melepas kasur empuk di rumah, dan melepas kebebasan main game. Itu latihan, teman-teman! Ibrahim AS diuji dengan hal yang paling dicintai, yaitu anaknya. Kalau kalian? Mungkin ujiannya disuruh "sembelih" rasa malas pas waktu bangun tahajud atau "sembelih" nafsu mau ghibah teman yang lagi tidur sambil mangap.
Rasulullah SAW bersabda:
Jadi, jangan pelit. Kalau nanti sudah kerja, jangan sampai uangnya habis buat langganan skin game, tapi buat kurban satu kambing saja tidak mampu. Malu sama kambingnya, kambingnya saja ikhlas, masa kita yang manusia banyak alasannya?
Hikmah besar dari Idul Adha adalah ketaatan. Ibrahim AS nggak pakai nanya ke malaikat jibril, "Wahai Jibril, ini nyembelihnya pakai pisau tumpul atau tajam? Ada prosedurnya nggak?". Enggak. Beliau langsung eksekusi karena yakin perintah Allah pasti yang terbaik. Sementara kita? Disuruh salat lima waktu saja, kadang debat sama batin sendiri, "Masih ada waktu 5 menit lagi nih, scroll TikTok bentar lah." Akhirnya malah kebablasan sampai azan berikutnya.
Mari kita belajar untuk "menyembelih" ego. Sembelih kesombongan kita, sembelih rasa malas kita, dan sembelih keinginan untuk selalu ingin terlihat lebih dari orang lain. Santri sejati bukan dia yang paling jago debat, tapi dia yang paling cepat tunduk saat mendengar perintah Allah.
Sebagai penutup, mari jadikan Idul Adha tahun ini sebagai titik balik. Kalau tahun lalu kurbannya cuma kurban perasaan ditinggal gebetan, tahun depan insya Allah kita kurban yang sesungguhnya. Mari mulai dari hal kecil: disiplin waktu, taat aturan asrama, dan perbaiki hubungan dengan Allah.
Ya Allah, jadikanlah kami hamba-Mu yang ikhlas dalam beramal sebagaimana ikhlasnya Nabi Ibrahim, dan berikan kami kekuatan untuk melawan hawa nafsu kami sendiri. Ampunilah dosa-dosa kami, dosa orang tua kami, dan bimbinglah kami di jalan-Mu yang lurus. Mohon maaf jika ada tutur kata yang kurang berkenan, karena yang benar datangnya dari Allah, dan yang salah adalah murni karena saya masih perlu banyak belajar.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ