اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ. لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا. رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي
Yang saya hormati para alim ulama, sesepuh desa yang kita tuakan, Bapak Kepala Desa beserta jajarannya, para tokoh masyarakat, Bapak-Bapak, Ibu-Ibu, serta adik-adik yang saya banggakan. Alhamdulillah, malam ini kita bisa berkumpul di majelis yang penuh berkah ini. Saya lihat wajah-wajah di sini sangat cerah, mungkin karena habis makan berkat tadi ya, Bu? Kalau sudah ada berkat, pengajian pasti semangat, ini baru namanya jamaah yang istiqamah! Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk hadir di sini dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.
Bapak dan Ibu yang dirahmati Allah, kenapa kita mengadakan Maulid? Apakah sekadar untuk makan enak? Tentu tidak. Kita di sini untuk mengingat kembali sosok manusia paling hebat yang pernah ada di muka bumi. Nabi kita itu, Bu, luar biasa. Beliau itu kalau bicara tutur katanya halus, tidak pernah membentak istri, apalagi main tangan. Beda sama suami zaman sekarang, baru kopi belum tersaji saja sudah "ceramah" panjang lebar. Nabi Muhammad itu pemimpin negara, tapi kalau di rumah beliau bantu istrinya jahit sandal sendiri. Coba, di sini ada suami yang mau jahit sandal istrinya? Kalau disuruh, paling jawabnya, "Bu, itu kan tugas tukang sol sepatu!"
Padahal, Allah SWT berfirman: