اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، حَمْدًا يُوَافِي نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيدَهُ، يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِي لِجَلَالِ وَجْهِكَ وَعَظِيمِ سُلْطَانِكَ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ.
قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ: وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا. رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي.
Yang saya hormati para alim ulama, sesepuh desa yang senantiasa kita tuakan, Bapak Kepala Desa beserta jajaran perangkatnya, tokoh masyarakat, Bapak-Bapak, Ibu-Ibu yang luar biasa semangatnya, serta adik-adik remaja yang insyaAllah menjadi generasi penerus yang saleh dan salehah.
Puji syukur kita panjatkan kepada Allah SWT, karena malam ini, walaupun mungkin di rumah Ibu-ibu sedang ada cucian piring yang menanti atau Bapak-bapak lagi pengen nonton bola, tapi jenengan semua lebih memilih hadir di majelis Maulid ini. Ini tandanya iman jenengan semua sudah di atas rata-rata. Terima kasih sudah meluangkan waktu, semoga langkah kaki Bapak/Ibu menuju majelis ini dihitung sebagai amal jariyah.
Bapak-Ibu jamaah yang saya cintai, kalau kita bicara Maulid Nabi, kadang kita terlalu sibuk mikirin "berkat" atau nasi kotak, ya kan? Padahal, Nabi Muhammad SAW itu hadir bukan cuma supaya kita makan enak setahun sekali, tapi untuk menyatukan hati kita. Zaman sekarang, jangankan rukun sama tetangga, terkadang sama saudara sendiri saja kadang kalau ditanya soal pilihan politik atau urusan warisan, mukanya langsung berubah jadi asem kayak mangga muda.
Padahal Allah sudah berfirman:
Tali Allah itu apa? Ya syariat Nabi kita. Lha kalau kita masih suka ghibah, masih suka iri sama tetangga yang beli motor baru, berarti tali persatuannya sudah putus-putus kayak karet gelang yang sudah kelamaan dijemur, gampang putus!
Nabi itu luar biasa. Beliau tidak pernah membedakan kawan atau lawan. Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda:
Jadi, kalau tetangga sebelah rumah tidak bisa makan, kita yang di sini jangan sampai tidur nyenyak pakai kasur empuk. Kalau ada warga yang kesusahan, ya kita bantu, jangan malah "kepo" nanya-nanya tapi tidak ngasih solusi. Itu namanya bukan peduli, tapi wartawan dadakan!
Islam itu agamanya gotong royong. Dulu di desa, ada yang sakit, satu RT datang bawa pisang, bawa beras, bawa doa. Sekarang? Satu sakit, yang lain malah sibuk update status di Facebook, "Turut berduka cita ya, semoga cepat sembuh." Lah, kalau orangnya sakit, dia nggak buka Facebook, Bu! Datangi rumahnya, bawa mendoan hangat, itu namanya peduli!
Maulid ini momentum kita buat "reset" hati. Bersihkan lagi dengki, buang jauh-jauh rasa tidak suka sama tetangga. Nabi kita Muhammad SAW itu musuhnya saja dimaafkan, apalagi cuma tetangga yang kadang parkir mobilnya agak mepet di depan rumah kita. Ya sudahlah, dimaafkan saja, pahalanya besar lho.
Imam Syafi'i pernah berpesan:
Jadi Bapak/Ibu, mari jadikan Maulid ini titik balik. Kita mulai lagi dari lingkungan terkecil. Sapa tetangga, senyum kalau ketemu di jalan, jangan malah membuang muka kayak lihat hantu. Peduli itu tidak harus punya uang banyak. Peduli itu dimulai dari kepedulian hati.
Sebagai penutup, mari kita ringkas: Pertama, perbaiki hubungan dengan Allah. Kedua, perbaiki hubungan dengan tetangga dengan cara saling peduli. Ketiga, kurangi ghibah, perbanyak sedekah. Kalau nanti pulang dari sini masih ada yang ghibah, saya doakan bannya bocor di tengah jalan! Bercanda ya, Bapak-Ibu.
Mari kita berdoa kepada Allah. Ya Allah, jadikanlah Maulid ini sebagai penyatu hati kami. Limpahkan kasih sayang di antara kami, jauhkan kami dari sifat iri dan dengki, dan mampukan kami untuk meneladani akhlak Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari. Ampuni dosa kami, dosa orang tua kami, dan berikanlah keberkahan untuk desa kami tercinta.
Saya mohon maaf jika ada kata-kata yang kurang berkenan atau menyinggung perasaan Bapak/Ibu sekalian. Memang kalau ceramah, kalau tidak ada humornya nanti pada ngantuk, kalau ngantuk nanti tidurnya mangap, kalau mangap nanti lalat masuk. Jadi saya pakai humor supaya Bapak/Ibu tetap melek dan pahalanya masuk. Terima kasih atas perhatiannya.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ