اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ.
Alhamdulillah, bapak-bapak yang saya hormati, ibu-ibu yang saya cintai—terutama ibu-ibu yang kalau ke pengajian sudah bawa tas, isinya mukena, tapi pas dibuka ternyata ada gorengan sisa tadi pagi—sehat semuanya nggih?
Yang saya muliakan para alim ulama, para kiai, asatidz dan asatidzah yang senantiasa menjadi suluh bagi desa kita ini. Khusus kepada Bapak Kepala Desa yang selalu sabar melayani keluh kesah warga, serta seluruh hadirin wal hadirat jamaah majelis taklim yang dirahmati Allah. Mari kita bersyukur, malam ini kita bisa berkumpul di sini. Kalau biasanya kita kumpul buat ronda atau rapat hajatan, malam ini kumpul buat membahas sesuatu yang paling mahal harganya, yaitu cinta kepada Baginda Nabi Muhammad SAW.
Bapak-bapak, Ibu-ibu, mencintai Nabi itu bukan cuma sekadar pas Maulid saja kita bikin berkat, terus berebut ayam ingkung. Bukan! Cinta Nabi itu harus nyata. Banyak orang bilang "Saya cinta Nabi", tapi pas disuruh shalat subuh berjamaah, malah masih sibuk "bermimpi indah" dengan bantalnya. Itu cinta atau lagi PHP-in Nabi?
Allah SWT berfirman:
Nah, syarat cinta itu "ittiba'", artinya mengikuti. Ikuti sunnahnya. Nabi itu kalau makan pakai tangan kanan, bukan pakai tangan kiri, apalagi pakai kaki. Nabi itu pemaaf. Kalau ada tetangga yang gosipin kita, ya kita maafin. Jangan malah ikut-ikutan jadi produser berita "panci terbang" di desa ini. Ingat, Nabi kita itu orangnya sabar luar biasa. Pernah suatu hari beliau diludahi orang kafir, bukannya membalas dengan lemparan batu, beliau malah menjenguk orang itu pas lagi sakit. Coba kalau kita, orang salah parkir depan rumah saja sudah kita maki-maki, iya kan?
Ada hadits shahih yang sangat masyhur, Rasulullah SAW bersabda:
Artinya, cinta kita ke Nabi harus nomor satu. Bukan berarti Bapak-bapak tidak boleh sayang istri, tapi cintanya istri itu di bawah cintanya kepada Nabi. Kalau istri minta dibelikan perhiasan tapi uangnya pas-pasan buat sedekah, ya rayu istrinya pelan-pelan. Kalau istri marah? Ya itu risiko perjuangan!
Para ulama kita, seperti Imam Al-Ghazali, pernah berpesan:
Kalau kita cinta Nabi, harus sering bershalawat. Jangan pelit shalawat. Shalawat itu "tiket" biar kita diakui jadi umatnya nanti di hari kiamat. Jangan sampai nanti di akhirat, Nabi memanggil, "Mana umatku?", eh kita malah sibuk main handphone di pojokan neraka karena terlalu asyik main TikTok sampai lupa shalawat.
Cinta itu butuh pengorbanan. Dulu para sahabat, kalau Nabi haus, mereka rela nggak minum asal Nabi yang minum duluan. Kita? Kadang shalat saja "kejar tayang", buru-buru pengen selesai karena mau nonton sinetron. Mari, mulai hari ini, kita perbaiki hubungan kita dengan Nabi. Sedikit demi sedikit sunnahnya dikerjakan. Shalat dhuha jangan lupa, sedekah jangan ditahan, dan yang paling penting: senyum kepada sesama. Senyum itu sedekah, dan Nabi itu orang yang paling murah senyum.
Kesimpulannya, mencintai Nabi itu bukan cuma di mulut, tapi di perbuatan. Ikuti sunnahnya, perbanyak shalawat, dan jadi manusia yang bermanfaat bagi warga desa. Jangan jadi orang yang bisanya cuma nyinyir, karena nyinyir bukan sunnah Rasul!
Mohon maaf jika ada tutur kata yang kurang berkenan, kalau ada benarnya itu dari Allah, kalau ada salah-salah kata, ya namanya juga manusia, khilaf itu wajar, yang nggak wajar itu sudah tahu salah tapi malah bangga. Semoga kita semua mendapatkan syafaat Baginda Nabi di akhirat kelak. Amin.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ