Logo Kangsantri AI

Cinta Rasulullah SAW Tulus

Ceramah
A
Ahmad Khoiri
23 Agustus 2026 4 menit baca 21 views

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ و...

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ.

قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ.
رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي

Alhamdulillah, bapak-bapak yang saya hormati, ibu-ibu yang wajahnya makin hari makin awet muda—apalagi kalau sudah dengar pengajian, insya Allah jadi makin cerah. Yang saya muliakan para kiai, para sesepuh desa, Bapak Kepala Desa yang selalu sigap melayani warga, serta seluruh hadirin dan hadirat sekalian yang dirahmati Allah.

Luar biasa semangat warga desa sini. Padahal tadi saya lihat di depan ada tukang bakso lewat, tapi ibu-ibu malah milih ke masjid. Ini tanda-tanda surga, Bu. Biasanya kalau ada tukang bakso, ibu-ibu itu punya radar khusus yang lebih tajam dari radar satelit. Tapi hari ini, radar ibu-ibu fokusnya ke Nabi Muhammad SAW.

Tema kita hari ini adalah "Mencintai Rasulullah". Jangan sampai kita ngaku cinta, tapi ditanya siapa nama kakeknya Rasulullah saja bingung. Ditanya nama anaknya saja malah menyebut nama pemain sinetron. Cinta itu harus kenal dulu, Pak, Bu. Kalau kata pepatah, "Tak kenal maka tak sayang, sudah kenal malah nggak bayang-bayang."

Allah SWT berfirman:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللهُ
"Katakanlah (wahai Muhammad), jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku (Rasulullah), niscaya Allah akan mencintaimu." (QS. Ali Imran: 31)

Bapak-bapak, kalau ada yang bilang "Saya cinta Rasul", tapi shalat subuhnya jam 7 pagi, itu namanya bukan cinta, itu namanya "cinta bertepuk sebelah tangan". Rasulullah itu orang yang paling pengasih. Beliau pernah bersabda:

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ
"Tidak beriman salah seorang di antara kalian sampai aku lebih dicintainya daripada anaknya, orang tuanya, dan manusia seluruhnya." (HR. Bukhari & Muslim).

Jadi, mencintai Rasul itu bukan cuma pajang kaligrafi nama beliau di tembok rumah. Bukan juga cuma hobi pasang stiker di kaca belakang truk. Cinta itu pembuktian, Pak. Ibu-ibu kalau cinta sama suami, masakannya dibikinin enak. Kalau cinta sama Rasul, ya ikuti sunnahnya.

Dulu, ada sahabat bernama Tsauban. Beliau ini saking cintanya sama Nabi, sampai mukanya pucat terus kalau kelamaan nggak ketemu Nabi. Pas ditanya, "Kenapa kamu sedih?" Beliau jawab, "Saya mikir nanti di akhirat, kalau saya masuk surga, tingkatannya beda sama Rasul, saya nggak bisa ketemu beliau lagi." Nah, kita ini gimana? Mau masuk surga tapi shalat masih bolong-bolong, gimana mau tetangga sama Rasul? Rasul itu di surga paling tinggi, kita mungkin "duduk-duduk" di emperan surga saja sudah untung.

Ada cerita lucu, Pak. Ada seorang laki-laki datang ke Nabi, dia tanya, "Ya Rasulullah, kapan kiamat?" Nabi malah balik tanya, "Apa yang sudah kamu siapkan?" Orang itu jawab, "Saya nggak punya amalan banyak, tapi saya cinta Allah dan Rasul-Nya." Nabi menjawab, "Al-mar'u ma'a man ahabba" (Seseorang itu akan bersama yang dicintainya).

Bayangkan, Pak, Bu! Cuma modal cinta, kita bisa bareng sama Rasul di surga. Tapi ya jangan mentang-mentang modal cinta, terus ibadahnya santai-santai. Itu namanya mau enaknya saja, mau "bonceng" kemuliaan Nabi tapi nggak mau "nyetir" amalannya.

Maka, mari kita mulai dari hal sederhana. Rasulullah itu kalau makan, beliau duduk rapi, pakai tiga jari, tidak mencela makanan. Ibu-ibu, kalau bapaknya masak kurang asin, jangan dicela, "Ini masakan apa, kayak air cucian piring!" Ingat, Rasul tidak pernah mencela makanan. Kalau nggak suka, beliau cukup diam. Nah, ini bisa jadi cara mencintai Rasul: belajar sabar menghadapi masakan istri, atau belajar sabar menghadapi kelakuan suami.

Mari kita tutup dengan satu poin penting. Mencintai Rasul adalah dengan menghidupkan sunnah-sunnah beliau. Sunnah itu bukan cuma soal jenggot atau gamis saja, tapi akhlak. Rasul itu orang paling jujur. Di desa kita ini, kalau bisa jangan ada lagi yang suka ngurangin timbangan pas jual gabah, atau kalau ditanya harga barang bilangnya "harga modal" padahal untungnya sudah 200 persen. Itu namanya "sunnah dagang untung besar", bukan sunnah Rasulullah.

Kita perbanyak shalawat. Shalawat itu "kunci inggris" segala masalah. Rumah tangga mau berkah? Shalawat. Anak susah diatur? Shalawat. Banyak hutang? Shalawat dan tetap kerja keras, jangan cuma shalawat terus tidur sampai ngorok.

Ya Allah, jadikanlah kami umat yang Engkau kumpulkan bersama Nabi-Mu kelak. Ampuni dosa kami, bimbing kami agar tetap di jalan-Mu. Jika ada kata saya yang menyinggung, mohon dimaafkan, karena sesungguhnya kesempurnaan hanya milik Allah dan kekurangan milik saya, terutama kekurangan uang jajan saya.

Terima kasih atas perhatiannya. Billahi taufiq wal hidayah.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Bagikan artikel ini

Artikel Lainnya

Lihat semua →