اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ. لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا. رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي
Yang saya muliakan para kiai, para asatidz, dan asatidzah yang ilmunya luas bak samudra, semoga Allah selalu menjaga kesehatan dan keberkahan untuk beliau semua. Yang kami hormati tokoh masyarakat, Bapak Kepala Desa beserta perangkatnya, serta seluruh bapak-bapak, ibu-ibu, dan adik-adik warga desa yang wajahnya berseri-seri seperti cahaya iman—atau mungkin karena efek lampu neon di depan sana, ya? Alhamdulillah, kita bisa berkumpul di majelis yang penuh berkah ini. Saya lihat ibu-ibu sudah dandan rapi, bapak-bapak juga sudah wangi, ya meskipun saya tahu tadi ada yang masih sempat mencangkul di sawah sebentar. Tapi tidak apa-apa, itulah perjuangan mencari ilmu!
Bapak-Ibu yang saya cintai, hari ini kita bicara soal meneladani akhlak Rasulullah untuk mewujudkan generasi Qurani. Zaman sekarang, kita sering bangga kalau anak kita bisa bahasa Inggris atau pintar main game di HP. Tapi apakah mereka tahu kalau Rasulullah itu sosok yang sangat luar biasa akhlaknya? Allah SWT berfirman: وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ (Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung).
Rasulullah itu kalau bicara selalu tersenyum, Bapak-Ibu. Beda sama kita zaman sekarang, baru ditanya sedikit sudah pasang wajah kayak jemuran belum kering. Rasulullah tidak pernah membentak, tidak pernah menghina. Pernah ada orang Arab Badui kencing di masjid, bayangkan! Kalau di desa kita, mungkin sudah kena "pengadilan massa". Tapi apa kata Rasul? "Biarkan saja, siram bekasnya dengan seember air." Begitu lembutnya beliau. Nah, kalau anak kita besok kencing di karpet masjid, ya jangan langsung disiram pakai ember juga anaknya, nanti nangis!
Mewujudkan generasi Qurani artinya menjadikan Al-Qur'an sebagai pedoman hidup. Jangan cuma disimpan di lemari, dipajang sampai berdebu, lalu saat ditanya anak, "Ini kitab apa, Pak?", dijawab, "Itu kitab pusaka, jangan disentuh!". Al-Qur'an itu untuk dibaca, dipahami, dan dicontoh akhlaknya. Rasulullah bersabda dalam hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari: إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ (Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak yang mulia).
Jadi, kalau anak kita sudah khatam Al-Qur'an tapi masih suka bohong, masih suka melawan orang tua, ya berarti Qurannya belum masuk ke hati, baru sebatas di tenggorokan saja. Anak Qurani itu kalau lewat depan orang tua, kepalanya agak menunduk. Kalau bicara, suaranya pelan. Bukan malah teriak, "Ma, mana HP-ku!"—waduh, itu bukan generasi Qurani, itu generasi "anti-repot".
Imam Al-Ghazali pernah berkata: حُسْنُ الْخُلُقِ كَفُّ الْأَذَى وَبَذْلُ النَّدَى (Akhlak yang baik adalah menahan diri dari menyakiti orang lain dan bersikap dermawan). Coba kita cek, apakah kita sudah berakhlak baik kepada tetangga? Jangan sampai kita rajin mengaji tapi tetangga sebelah rumah tidak bisa tidur gara-gara suara TV kita terlalu keras. Atau ibu-ibu, rajin arisan tapi kalau ada tetangga baru tidak pernah disapa, malah diomongin. Wah, itu harus tobat berjamaah!
Bapak-Ibu, menjadi generasi Qurani itu dimulai dari rumah. Ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anak. Kalau ibu-ibunya sabar, insya Allah anaknya juga sabar. Tapi kalau ibu-ibunya setiap pagi sudah "konser" marah-marah, ya jangan heran kalau anaknya juga jadi "rocker" di rumah. Mari kita contoh Rasulullah, yang selalu menabur kasih sayang. Beliau itu pemimpin dunia, tapi kalau di rumah, beliau sendiri yang menjahit bajunya yang robek, beliau membantu istrinya. Wah, kalau bapak-bapak di sini, ada yang mau bantu istri nyuci piring? Atau langsung kabur kalau lihat cucian menumpuk?
Intinya, meneladani Rasulullah bukan berarti harus jago ceramah seperti saya, tapi memperbaiki perilaku kita setiap hari. Sedikit-sedikit kita kurangi ngomel, banyakin sedekah, dan jangan lupa Al-Qur'an dibaca setiap hari minimal satu lembar. Jangan dibaca kalau lagi pengajian saja.
Mari kita tutup dengan komitmen baru. Kita ingin anak cucu kita bukan cuma hafal Al-Qur'an, tapi jadi orang yang jujur, rendah hati, dan peduli sesama. Semoga Allah SWT memberikan kita kekuatan untuk meneladani akhlak Rasulullah ﷺ dalam setiap langkah kita. Amin.
Saya mohon maaf jika ada kata-kata saya yang kurang berkenan atau bercandaan saya yang mungkin bikin Bapak-Ibu tersinggung. Kalau ada yang lucu, itu kebetulan. Kalau ada yang benar, itu dari Allah. Kalau ada yang salah, itu murni karena saking semangatnya saya di depan warga yang luar biasa ini. Terima kasih atas perhatiannya, semoga kita semua dikumpulkan bersama Rasulullah di surga nanti.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ