اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ. رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي.
Yang terhormat para alim ulama, sesepuh desa yang kita tuakan, Bapak Kepala Desa yang selalu sigap, para guru ngaji, pengurus Pagar Nusa, serta seluruh warga masyarakat yang saya cintai. Alhamdulillah, malam ini kita berkumpul dalam keadaan sehat walafiat. Saya lihat wajah Bapak dan Ibu semua di sini sangat cerah, mungkin karena habis makan nasi tumpeng tasayakuran Pagar Nusa ini ya? Kalau soal nasi tumpeng, biasanya warga kita nomor satu kecepatan ambil lauknya, tapi kalau disuruh iuran, eh, malah pura-pura sibuk cari sandal jepit.
Hadirin yang dirahmati Allah, kita hadir di sini untuk bersyukur atas eksistensi Pagar Nusa. Pagar Nusa itu bukan sekadar tempat latihan silat biar badannya kekar kayak binaragawan, bukan juga supaya bisa terbang kayak di sinetron kolosal. Tapi, Pagar Nusa adalah garda terdepan penjaga ulama dan bangsa. Ingat, Al-Mu’minul qawiyyu khairun wa ahabbu ilallah minal mu’minid dha’if. Orang mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah. Kuat fisiknya untuk menolong sesama, kuat imannya biar tidak mudah digoda setan, apalagi setan yang wujudnya manusia.
Dalam sebuah hadits, Rasulullah ﷺ bersabda:
Nah, ini pesan penting buat pendekar Pagar Nusa. Jangan mentang-mentang sudah sabuk hitam atau juara tingkat kabupaten, lalu kalau ada tetangga sedikit saja nyenggol jempol kaki langsung ajak berantem. Bukannya jadi pendekar, malah jadi preman pasar. Pendekar sejati itu kalau disenggol, dia senyum, dia doakan, kecuali disenggolnya sudah keterlaluan dan mengancam agama, baru kita pasang kuda-kuda. Tapi ingat, jurusnya harus tetap jurus akhlakul karimah.
Dulu di zaman sahabat, ada orang kuat namanya Sahabat Ali bin Abi Thalib. Beliau itu kalau sudah bertarung, musuhnya kocar-kacir. Tapi beliau juga orang yang paling lembut hatinya. Kita ingin Pagar Nusa ini seperti itu, tangkas fisiknya untuk bela diri dan agama, tapi lembut perangainya. Jangan sampai habis latihan silat, pulang-pulang malah membentak orang tua. Itu namanya bukan pendekar, itu namanya "pendekar kurang sarapan".
Islam mengajarkan kita agar tidak menjadi orang yang lembek. Allah berfirman:
Ayat ini perintah untuk berjaga-jaga. Pagar Nusa adalah salah satu cara kita menyiapkan kekuatan. Kita menjaga diri supaya tidak tertindas. Tapi kekuatan itu harus dibalut dengan rasa syukur. Malam ini kita tasayakuran, makan enak, itu bentuk syukur karena anak-anak kita masih mau bergerak, tidak cuma main HP game online sampai matanya jelalatan. Sekarang anak muda lebih bangga kalau punya skin di game daripada punya keterampilan bela diri atau ilmu agama.
Sebagai penutup, mari kita jaga kekompakan. Pagar Nusa harus inklusif. Jangan cuma latihan silat tapi tidak pernah latihan shalat berjamaah. Pendekar kok jarang terlihat di masjid? Itu namanya pendekar "gaib", cuma bisa dilihat kalau lagi pakai seragam saja. Jadilah pendekar yang dicintai warga, suka menolong, ramah, dan tidak sombong. Kalau ada tetangga kesusahan, bantu. Kalau ada gotong royong kebersihan, jangan cuma jadi penonton.
Semoga Pagar Nusa semakin jaya, anggotanya semakin mendekatkan diri kepada Allah, dan kita semua yang hadir di sini selalu dalam lindungan-Nya. Amin. Saya mohon maaf jika ada candaan atau kata-kata saya yang kurang berkenan di hati. Maklum, saya ini hamba Allah yang alpa, sering salah, dan kadang lapar kalau terlalu lama berceramah. Terakhir, untuk para pendekar, pesan saya: jangan sombong, ingat, di atas langit masih ada langit, dan di atas pendekar masih ada emak-emak yang kalau sudah marah, satu desa bisa gemetar.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ