اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ.
Yang saya hormati para alim ulama dan asatidzah yang senantiasa membimbing umat, yang kami ta’zimi Ibu Ketua Majelis Taklim, serta yang senantiasa saya cintai ibu-ibu jamaah pengajian sekalian yang dirahmati Allah. Puji syukur kita haturkan kepada Allah SWT yang telah mengumpulkan kita di majelis yang mulia ini. Shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW. Ibu-ibu sekalian, kehadiran kita di sini adalah wujud cinta kepada ilmu. Hari ini, kita akan mengkaji tema yang sangat krusial, yaitu tentang menjaga perkara halal dan haram dalam kehidupan sehari-hari kita sebagai pemimpin rumah tangga.
Ibu-ibu sekalian, Islam bukan hanya agama ritual, tapi agama yang mengatur bagaimana kita mencari rezeki dan mengelola keluarga. Mengapa menjaga yang halal itu penting? Karena apa yang kita makan dan apa yang menjadi nafkah keluarga akan membentuk karakter anak dan kebersihan hati kita. Rasulullah SAW bersabda:
عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: إِنَّ الْحَلَالَ بَيِّنٌ وَإِنَّ الْحَرَامَ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا مُشْتَبِهَاتٌ لَا يَعْلَمُهُنَّ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ
"Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas, dan di antara keduanya terdapat perkara syubhat (samar) yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia." (HR. Bukhari & Muslim).
Tugas kita sebagai ibu adalah menjadi 'saringan' bagi keluarga. Seorang suami yang bekerja di luar, mungkin tidak selalu tahu seluk beluk hukum syariat di tempat kerjanya. Di sinilah peran istri untuk mengingatkan, untuk menanyakan dengan lembut, “Bapak, apakah rezeki yang kita bawa pulang ini sudah bersih dari unsur riba atau penipuan?”
Imam Al-Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin menegaskan:
Apa dampak dari harta haram? Hati menjadi keras, doa sulit dikabulkan, dan yang paling menakutkan adalah anak-anak menjadi sulit dinasehati karena daging yang tumbuh di tubuh mereka berasal dari harta yang tidak thayyib. Ingatlah sebuah kisah inspiratif dari zaman tabiin, seorang ayah yang sangat menjaga kehormatan keluarganya. Ia menemukan sebuah apel di pinggir jalan, ia memakannya, namun setelah sadar ia tidak tahu pemiliknya, ia berjalan berkilo-kilometer hanya untuk meminta kerelaan sang pemilik agar tidak terjatuh dalam perkara syubhat. Inilah sifat wara’ (kehati-hatian).
Ibu-ibu, menjaga yang halal dimulai dari hal kecil. Pertama, jujur dalam berdagang. Jika kita berjualan, jangan mengurangi timbangan. Kedua, berhati-hati dalam akad pinjam-meminjam, hindari jeratan riba yang tampak seperti solusi namun menghancurkan keberkahan rumah tangga. Ketiga, mendidik anak-anak dengan harta yang bersih agar mereka tumbuh menjadi generasi yang shalih-shalihah.
Allah SWT berfirman:
Mari kita tutup pertemuan hari ini dengan komitmen bersama. Mulai hari ini, mari kita lebih teliti. Tanyakan pada hati nurani dan dalil agama sebelum kita mengambil keputusan finansial. Jika ragu, tinggalkanlah demi menggapai ridha Allah.
Ya Allah, jadikanlah rezeki kami halal lagi berkah. Jauhkanlah kami dan keluarga kami dari harta yang haram. Berikanlah kami kekuatan untuk selalu patuh kepada hukum-Mu meski terasa berat. Ampunilah dosa-dosa kami, dosa orang tua kami, dan bimbinglah kami untuk konsisten di jalan-Mu hingga akhir hayat.
Terima kasih atas segala perhatian, mohon maaf jika ada tutur kata yang kurang berkenan. Mari kita tutup dengan istighfar dan doa kafaratul majelis.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ