اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ.
Kepada yang terhormat para alim ulama, para kiai, asatidz dan asatidzah pondok pesantren yang senantiasa membimbing kita dengan cahaya ilmu, serta yang saya banggakan, rekan-rekan santri dan para pelajar sekalian yang dirahmati Allah SWT.
Puji syukur marilah kita panjatkan ke hadirat Allah SWT, karena atas izin-Nya kita dapat berkumpul di majelis ilmu yang penuh berkah ini dalam keadaan sehat walafiat. Shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada uswatun hasanah kita, Baginda Nabi Muhammad ﷺ. Terima kasih saya sampaikan kepada pihak penyelenggara yang telah memberikan kesempatan bagi saya untuk berbagi mengenai sebuah topik yang sangat krusial bagi perjalanan spiritual kita sebagai penuntut ilmu: yaitu bahaya sifat nifaq atau kemunafikan.
Santri sekalian, di dunia pesantren, kita belajar banyak hal tentang syariat. Namun, ada musuh yang paling berbahaya, bukan musuh di luar, melainkan musuh di dalam diri sendiri, yakni kemunafikan. Munafik secara bahasa berarti berpura-pura. Secara istilah, adalah seseorang yang menampakkan iman di bibir, namun menyembunyikan kekafiran atau kebencian di dalam hati.
Rasulullah ﷺ memberikan peringatan keras dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim:
Mari kita refleksi diri. Apakah lisan kita sudah jujur? Apakah janji-janji kita kepada guru atau teman sudah kita tepati? Apakah amanah belajar yang dititipkan orang tua sudah kita jaga dengan maksimal?
Sebagai santri, godaan nifaq seringkali halus. Kita rajin belajar saat di depan kiai, namun bermalas-malasan saat tidak diawasi. Kita tampak saleh saat bersama teman, namun bermaksiat saat sendiri. Inilah yang disebut nifaq amali. Sifat ini sangat berbahaya karena ia merusak integritas diri. Imam Hasan al-Bashri rahimahullah pernah berkata:
Artinya, jika kalian merasa takut dan cemas apakah hati kalian sudah benar-benar ikhlas atau belum, itu adalah tanda bahwa iman masih bersemayam di hati kalian. Sebaliknya, orang yang merasa dirinya sudah paling benar, sudah paling suci, dan merasa tidak mungkin berbuat salah, justru itulah yang harus diwaspadai.
Dampak dari sifat nifaq adalah hilangnya keberkahan ilmu. Ilmu yang kita pelajari tidak akan menjadi cahaya jika hati kita dipenuhi kepalsuan. Allah SWT menegaskan tempat bagi mereka dalam Surah An-Nisa ayat 145:
Lantas, bagaimana cara kita menjaga diri? Pertama, yaitu dengan Mujahadatun Nafs (memerangi hawa nafsu). Jujurlah pada diri sendiri sebelum jujur pada orang lain. Kedua, banyaklah berzikir agar hati tidak keras. Ketiga, jadikanlah ketaatan saat sendiri sebagai barometer iman kita. Ingatlah bahwa Allah senantiasa mengawasi, Muraqabatullah.
Sebagai penutup, mari kita tanamkan dalam hati bahwa menjadi santri bukan sekadar tentang menghafal kitab, tapi tentang mensucikan hati. Jangan biarkan lisan kita berbeda dengan hati, dan jangan biarkan amal kita berbeda dengan niat. Mari kita perbaiki niat kita hari ini, bahwa segala yang kita lakukan di pesantren ini adalah untuk Allah, bukan untuk mencari pujian manusia.
Ya Allah, bersihkanlah hati kami dari sifat nifaq. Tanamkanlah di dalam hati kami cahaya keimanan yang jujur dan tulus. Jadikanlah kami hamba-hamba-Mu yang konsisten dalam kebenaran, baik di saat ramai maupun di saat sendiri. Ampunilah dosa-dosa kami, dosa guru-guru kami, dan dosa kedua orang tua kami.
Saya memohon maaf yang sebesar-besarnya jika ada tutur kata yang kurang berkenan atau kekhilafan dalam penyampaian ini. Kebenaran datangnya dari Allah, dan kesalahan datangnya dari keterbatasan saya sebagai manusia.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ