اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ.
Bapak-bapak, Ibu-ibu, saudara-saudaraku sekalian yang dirahmati Allah. Kepada yang terhormat para sesepuh, tokoh agama, Bapak Kiai, para ustaz dan ustazah yang senantiasa menjadi suluh penerang di desa kita ini, serta seluruh warga masyarakat yang saya cintai karena Allah.
Alhamdulillah, puji syukur ke hadirat Allah SWT, hari ini kita bisa berkumpul di majelis yang penuh berkah ini. Saya melihat wajah-wajah penuh semangat, wajah-wajah yang insya Allah dirindukan oleh surga-Nya. Terima kasih atas kehadirannya. Mari kita tanamkan niat, bahwa langkah kaki kita ke sini adalah untuk mencari bekal bagi perjalanan kita yang abadi nanti.
Saudara-saudaraku, kita hidup di dunia ini bukan untuk bermain-main. Allah SWT telah memberikan panduan hidup yang sangat tegas dalam Al-Qur'an, khususnya dalam Surah Al-Mulk. Ayat kedua dari surat ini adalah kunci kehidupan kita:
Perhatikan, Bapak dan Ibu! Allah tidak bertanya siapa yang paling banyak hartanya, bukan siapa yang paling tinggi jabatannya di desa ini, bukan siapa yang paling luas sawahnya. Tapi Allah bertanya, siapa yang paling ahsanu ‘amala—paling baik amalnya!
Dalam sebuah hadits, Rasulullah ﷺ bersabda:
Bayangkan saat itu tiba! Apakah kita sudah membawa bekal terbaik? Surah Al-Mulk ini bukan sekadar untuk dibaca atau dihafal agar terhindar dari siksa kubur saja, tetapi ia adalah kurikulum kehidupan. Ayat 3 hingga 5 mengajarkan kita untuk memperhatikan langit yang begitu kokoh, tanpa tiang, tanpa retak. Itu adalah tanda kebesaran Allah. Kalau kita melihat ke atas, ke langit, sadarlah bahwa kita ini kecil. Jangan sombong!
Bapak dan Ibu yang saya banggakan, seringkali kita terjebak dalam rutinitas dunia yang melelahkan. Pagi berangkat ke ladang, sore pulang, malam istirahat. Jangan sampai hidup hanya habis untuk urusan perut saja! Ingat, Allah menciptakan "mati" terlebih dahulu sebelum "hidup" dalam ayat tersebut. Mengapa? Supaya kita ingat bahwa kematian itu pasti. Jika kita sadar akan kematian, maka kita akan berhati-hati dalam berbuat. Kita tidak akan berani menyakiti tetangga, kita tidak akan curang dalam timbangan, kita akan menjaga lisan kita.
Ulama besar Ibnu Katsir menjelaskan dalam tafsirnya mengenai ahsanu 'amala: "Sesungguhnya amalan itu tidak akan diterima kecuali jika ikhlas karena Allah dan benar mengikuti tuntunan Rasulullah ﷺ."
Saudaraku, hidup ini adalah ladang ujian. Ibarat petani, kalau kita rajin menanam benih kebaikan sekarang, itulah yang akan kita panen di akhirat. Jangan sampai kita menanam benih kemaksiatan, ghibah, fitnah, atau memutus silaturahmi. Karena di akhirat nanti, tidak ada lagi masa untuk menanam, yang ada hanya masa untuk memanen.
Apakah kita ingin menjadi golongan yang menyesal? Allah berfirman dalam ayat 10:
Dengarkan, Bapak Ibu! Mari kita gunakan akal dan pendengaran kita sekarang, selagi nafas masih di kandung badan. Jangan menunggu tua untuk bertaubat, jangan menunggu sakit untuk bersujud. Allah itu Al-Ghafur, Maha Pengampun bagi siapa saja yang mau kembali ke jalan-Nya.
Kesimpulannya, jadikanlah Surah Al-Mulk sebagai kompas hidup. Pertama, sadari bahwa kita sedang diuji. Kedua, berlombalah dalam kebaikan, bukan dalam kemegahan dunia. Ketiga, selalu memohon ampunan kepada Allah karena kita ini hamba yang penuh dosa.
Mari kita tutup dengan doa. Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, dosa orang tua kami, dan dosa seluruh kaum muslimin. Jadikanlah kehidupan kami di dunia ini sebagai sarana untuk mengumpulkan bekal terbaik untuk hari akhirat. Berikanlah kami kekuatan untuk istiqomah dalam ibadah dan kebaikan. Jauhkan kami dari segala fitnah dan azab kubur yang pedih. Rabbana atina fiddunya hasanah, wafil akhirati hasanah, waqina adzabannar.
Mohon maaf atas segala kekurangan, karena kesempurnaan hanyalah milik Allah. Kebenaran datang dari Allah, dan kesalahan semata-mata dari keterbatasan saya pribadi. Semoga Allah membimbing kita semua ke jalan yang lurus.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ