Logo Kangsantri AI

Akidah Ahlusunnah Wal Jamaah Profesional

Ceramah
I
Ismail Marzuki
5 Juli 2026 3 menit baca 27 views

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ...

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي.

Hadirin wal hadirat, bapak-bapak, ibu-ibu, serta para pemuda-pemudi yang saya muliakan. Pertama-tama, marilah kita senantiasa memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT, yang dengan limpahan rahmat dan hidayah-Nya, kita dapat berkumpul di majelis ilmu yang mulia ini dalam keadaan sehat walafiat. Shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada uswatun hasanah kita, Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat, dan para pengikutnya hingga akhir zaman.

Saya ingin menyampaikan hormat yang setinggi-tingginya kepada para alim ulama dan para kiai yang kami tuakan, sesepuh desa yang senantiasa membimbing kita, bapak kepala desa beserta jajaran perangkatnya, serta seluruh hadirin dari berbagai dusun yang telah meluangkan waktu dengan niat thalabul ilmi. Keberadaan Bapak dan Ibu sekalian di sini adalah bukti nyata kecintaan kita kepada agama Allah dan komitmen kita untuk menjaga warisan para ulama, yakni akidah Ahlusunnah wal Jamaah An-Nahdliyyah.

Tema kita hari ini sangat krusial: "Memperkuat Akidah Ahlusunnah wal Jamaah An-Nahdliyyah". Di tengah derasnya arus informasi dan ragam pemikiran yang ada sekarang, kita dituntut untuk memiliki benteng iman yang kokoh. Ahlusunnah wal Jamaah bukanlah ajaran baru, melainkan ajaran Islam yang dipahami dan diamalkan oleh Rasulullah SAW, para sahabat, hingga para ulama salafus shalih, yang kemudian dirumuskan secara manhaji oleh Imam Abul Hasan al-Asy'ari dan Imam Abu Mansur al-Maturidi.

Dalam akidah kita, kita berpegang pada prinsip moderasi atau tawassuth. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an:

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا
"Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) golongan yang moderat (adil dan pilihan)." (QS. Al-Baqarah: 143).

Masyarakat desa yang religius, seperti yang kita rasakan di sini, adalah salah satu benteng utama Aswaja. Kehidupan kita yang guyub, saling menghormati, serta rajin melaksanakan tradisi seperti tahlilan, ziarah kubur, dan maulidan, bukanlah sekadar adat, melainkan ekspresi iman yang memiliki akar intelektual dan spiritual yang dalam.

Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik ra:

إِنَّ أُمَّتِي لَا تَجْتَمِعُ عَلَى ضَلَالَةٍ
"Sesungguhnya umatku tidak akan bersepakat dalam kesesatan." (HR. Ibnu Majah).

Ketika mayoritas ulama dan umat Islam sejak berabad-abad lalu melestarikan amalan keberagamaan yang kita lakukan saat ini, maka di situlah letak kebenaran yang dijaga oleh Allah SWT. Ulama besar kita, KH Hasyim Asy'ari, dalam kitab Risalah Ahlussunnah wal Jama'ah menegaskan bahwa mengikuti jejak ulama terdahulu adalah keharusan. Beliau menukil perkataan ulama salaf:

مَنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ شَيْخٌ فَشَيْخُهُ الشَّيْطَانُ
"Barangsiapa yang tidak memiliki guru (sanad keilmuan yang bersambung), maka gurunya adalah setan."

Inilah pentingnya kita tetap "ber-jam'iyyah" melalui Nahdlatul Ulama. Kita belajar agama tidak secara otodidak dari sumber yang tidak jelas, melainkan melalui kiai-kiai yang sanad ilmunya menyambung hingga Rasulullah SAW. Menguatkan akidah berarti memperkuat sanad, memperkuat silaturahmi, dan memperkuat harmoni. Jangan sampai ada pihak-pihak yang mencoba memecah belah kita dengan mencemooh amalan-amalan yang sudah dipraktikkan oleh para leluhur kita.

Mari kita ajarkan kepada anak-anak cucu kita bahwa menjadi warga Aswaja An-Nahdliyyah adalah menjadi muslim yang mencintai kasih sayang, yang menghormati perbedaan, dan yang selalu menjunjung tinggi nilai-nilai kasih sayang kepada sesama makhluk. Itulah inti dari Rahmatan lil 'Alamin.

Sebagai penutup, mari kita teguhkan dalam hati: jadikanlah majelis ilmu seperti ini sebagai tempat kita memperkokoh keyakinan. Amalkanlah ilmu yang kita dapat, peliharalah tradisi yang baik, dan tetapkanlah hati kita dalam koridor para ulama. Jika kita istiqamah, Insya Allah, kita akan dikumpulkan bersama Rasulullah SAW dan para alim ulama di akhirat kelak.

Mohon maaf atas segala kekurangan dalam penyampaian ini. Jika ada benarnya, itu datang dari Allah SWT, jika ada salahnya, itu murni dari kelemahan saya pribadi sebagai manusia biasa. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita dan menetapkan hati kita dalam iman.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Bagikan artikel ini

Artikel Lainnya

Lihat semua →