Logo Kangsantri AI

Qurban: Ego ke Humanis

Ceramah
M
Muh. Cahyanto
24 Mei 2026 3 menit baca 48 views

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ و...

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ.

لَنْ يَنَالَ اللهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنْكُمْ. رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي

Yang saya hormati para alim ulama, tokoh masyarakat, sesepuh desa yang kita tuakan, serta Bapak-Bapak, Ibu-Ibu, dan seluruh hadirin yang dirahmati Allah SWT. Puji syukur ke hadirat Allah yang telah mengumpulkan kita dalam majelis ilmu yang penuh berkah ini. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Baginda Nabi Muhammad SAW, uswatun hasanah kita dalam bersikap dan berperilaku. Terima kasih atas hangatnya sambutan Bapak-Ibu sekalian yang telah meluangkan waktu di tengah kesibukan mengolah ladang atau mengurus keluarga, untuk bersama-sama merenungi makna ibadah qurban bagi kehidupan kita sehari-hari.

Hadirin yang saya muliakan, ibadah qurban seringkali kita pahami sekadar melaksanakan penyembelihan hewan di hari raya. Padahal, makna filosofisnya jauh lebih dalam, yakni "menyembelih" sifat egois yang bersemayam dalam diri kita. Mengapa ego? Karena ego adalah benih dari keserakahan dan kesombongan yang seringkali membuat kita tidak peka terhadap tetangga atau saudara yang sedang kesulitan. Allah SWT berfirman dalam surat Al-Hajj ayat 37:

لَنْ يَنَالَ اللهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنْكُمْ
"Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya." (QS. Al-Hajj: 37).

Mari kita merenung, di desa yang kita cintai ini, kunci kekuatan kita adalah gotong royong. Namun, saat sifat "aku" lebih besar daripada sifat "kita", saat gengsi lebih diutamakan daripada berbagi, maka keretakan akan muncul. Rasulullah SAW bersabda:

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
"Tidaklah beriman salah seorang di antara kalian hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri." (HR. Bukhari & Muslim).

Inilah substansi humanis dari qurban: mengikis kerakusan. Saat kita menyembelih hewan qurban, tujuannya adalah membunuh sifat kebinatangan yang ada di dalam jiwa, seperti keinginan menumpuk harta sendirian sementara ada janda tua di sebelah rumah yang kesulitan makan. Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam kitabnya pernah berpesan, "Hati yang dipenuhi dengan ego pasti akan kering dari rahmat Allah." Begitu pula jiwa yang sombong tidak akan pernah merasa cukup, karena ia merasa paling berhak di atas segalanya.

Bapak-Ibu, menjadi orang baik itu sederhana namun menantang. Dimulai dari langkah kecil: membuang rasa angkuh ketika kita mampu, dan menanamkan empati saat kita melihat sesama menderita. Orang yang berjiwa qurban adalah orang yang memandang harta bukan sebagai miliknya, melainkan titipan untuk meringankan beban orang lain. Mari kita jadikan momen ibadah qurban ini bukan hanya ajang pamer kurban, melainkan momentum untuk membuka pintu pintu kebaikan bagi sesama.

Kesimpulannya, inti dari ketaatan adalah pengendalian diri. Jika kita mampu sembelih ego, kita akan dapati ketenangan hati. Jika kita tumbuhkan jiwa humanis, desa kita akan semakin harmonis. Mari kita amalkan ini dengan selalu mendahulukan kepentingan bersama daripada nafsu pribadi. Semoga Allah SWT membersihkan hati kita, menjadikan kita hamba-hambaNya yang dermawan dan memiliki empati tinggi. Mohon maaf apabila ada kata-kata yang kurang berkenan dari saya selaku manusia biasa yang tak luput dari salah dan khilaf.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Bagikan artikel ini

Artikel Lainnya

Lihat semua →