اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، حَمْدًا يُوَافِي نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيدَهُ، يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِي لِجَلَالِ وَجْهِكَ وَعَظِيمِ سُلْطَانِكَ. سُبْحَانَكَ لَا نُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ.
قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ: ﴿كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِم مَّا كَانُوا يَكْسِبُونَ﴾. رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي.
Ibu-ibu yang dimuliakan Allah, yang hadir dengan langkah kaki ikhlas menuju rumah Allah, yang hatinya senantiasa rindu akan surga-Nya. Pertama-tama, mari kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT, yang masih memberi kita napas, yang masih menutup aib-aib kita, sehingga hari ini kita bisa melangkahkan kaki di majelis yang penuh berkah ini. Shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada baginda Nabi Muhammad SAW, uswatun hasanah kita.
Ibu-ibu sekalian, pernahkah kita merasa tenang saat berbuat dosa? Pernahkah kita melalaikan shalat, mungkin karena asyik menonton televisi atau sibuk dengan urusan dunia, lalu setelahnya hati kita biasa saja? Tidak ada sesak, tidak ada tangis, tidak ada rasa malu kepada Sang Pencipta?
Hati-hati, Ibu. Ada sebuah penyakit yang lebih menakutkan daripada dosa itu sendiri. Yaitu ketika dosa tidak lagi terasa sebagai beban. Allah SWT berfirman:
Apa makna Ran dalam ayat ini? Para ulama menjelaskan bahwa Ran adalah karat yang menutup hati. Laksana cermin yang kotor, jika terus ditumpuk noda, maka cermin itu tak lagi bisa memantulkan cahaya. Begitu pula hati kita. Jika kita terus berdosa, lalu hati tidak lagi bergetar, itulah tanda hati kita sedang membatu.
Rasulullah SAW bersabda:
Ibu-ibu, pernahkah kita membayangkan, bagaimana jika pintu taubat kita benar-benar tertutup? Pernahkah kita merasa takut saat kita melihat maksiat, justru kita merasa itu hal yang biasa? Misalnya, saat melihat tetangga membuka aurat, kita biasa saja. Saat mendengar gibah, kita malah ikut serta bahkan tertawa. Itulah tanda hati yang mulai mati.
Dahulu, para salafus shalih menangis hebat hanya karena ketinggalan shalat jamaah di shaf pertama. Mereka gemetar hebat saat melakukan kesalahan kecil. Mengapa mereka begitu peka? Karena mereka menjaga cahaya di hati mereka. Sementara kita? Mungkin kita sudah terbiasa dengan dosa yang sama setiap hari—bohong kepada suami, iri kepada saudara, membiarkan anak-anak kita lalai agama—dan kita merasa aman-aman saja. Itulah yang disebut istidraj, yaitu saat Allah membiarkan kita dalam dosa, tapi Allah tetap memberi limpahan dunia agar kita semakin lalai dan tak sempat bertaubat.
Jangan sampai kita menjadi seperti orang yang disebutkan dalam Al-Qur'an, yang melupakan Allah, lalu Allah buat mereka melupakan diri mereka sendiri. Ingatlah, Ibu, setiap butir dosa yang tak kita sesali adalah paku yang kita tancapkan di dinding hati kita sendiri. Jika hati sudah mati, kita tidak akan lagi bisa merasakan manisnya ibadah, tidak bisa merasakan nikmatnya sujud di tengah malam, dan tidak ada lagi air mata saat bersimpuh di hadapan Allah.
Mari kita jujur pada diri sendiri. Malam ini, sebelum tidur, cobalah ambil air wudhu. Sujudlah di atas sajadah, dan tanyakan pada hati kita yang paling dalam: "Ya Allah, masihkah Engkau sudi menerimaku? Masihkah hatiku Engkau beri rasa takut kepada-Mu?" Karena jika rasa takut itu sudah hilang, kita seperti orang yang berjalan menuju jurang tanpa menyadari bahwa maut sedang menunggu di ujung jalan.
Sebagai penutup, marilah kita perbaharui niat. Mari kita bersihkan cermin hati dengan istighfar yang sesungguhnya. Jangan tunggu hari esok, karena napas kita bisa saja berhenti kapan saja. Mohon ampunlah kepada Allah, minta maaf pada suami, minta maaf pada anak dan saudara atas dosa-dosa yang mungkin selama ini kita anggap remeh padahal sangat besar di sisi Allah.
Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami yang menumpuk. Jangan Kau matikan hati kami dalam keadaan lalai. Biarkan hati kami tetap bergetar saat mendengar nama-Mu, tetap menangis saat melanggar perintah-Mu. Jadikan sisa umur kami sebagai waktu untuk bertaubat dengan sebenar-benarnya taubat.
Terima kasih atas perhatian Ibu-ibu sekalian. Mohon maaf jika tutur kata saya melukai perasaan, semata-mata karena saya sayang pada Ibu-ibu, karena saya ingin kita semua berkumpul kelak di surga-Nya.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ