Logo Kangsantri AI

Musim Kering Ujian Ilahi

Khutbah Jumat
A
Ahmad kamdi
30 Oktober 2026 4 menit baca 1 views

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ إِنَّ الْحَمْدَ لِلّٰهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ ...

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

إِنَّ الْحَمْدَ لِلّٰهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.

وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

اَمَّا بَعْدُ. فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ وَقَدْ قَالَ: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَكُوْنُوْا مَعَ الصّٰدِقِيْنَ.

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,

Marilah kita sejenak menundukkan kepala, merenungi hakikat diri kita di hadapan Sang Khaliq. Di hari yang penuh berkah ini, di bawah naungan langit kekuasaan-Nya, mari kita perbaharui keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah Subhaanahu wa Ta'ala, dengan sebenar-benar takwa. Menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-larangan-Nya, karena tiada tempat berlindung dan memohon pertolongan melainkan hanya kepada-Zat Yang Maha Agung.

Sidang Jumat yang dirahmati Allah,

Hari ini, kita merasakan terik yang membakar, debu yang beterbangan, dan tanah yang merekah kehausan. Kemarau panjang telah melanda negeri kita. Sungai-sungai mulai menyusut, sumur-sumur mulai mengering, dan para petani menatap cemas ladang-ladang mereka yang menguning sebelum waktunya. Kita sering kali melihat fenomena ini sekadar sebagai siklus alam biasa, sebagai perubahan cuaca yang rasional. Namun, sebagai orang yang beriman, mari kita buka mata hati kita. Alam raya ini tidak bergerak sendiri; ia tunduk mutlak kepada titah Sang Pencipta.

Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfirman di dalam Kitab-Nya:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum: 41)

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,

Ayat yang agung ini membuka kesadaran kita bahwa kemarau panjang, paceklik, dan krisis kekeringan bukanlah sekadar bencana meteorologis semata. Ia adalah teguran halus, gelombang peringatan dari Allah agar kita kembali kepada-Nya. Kemarau panjang adalah cerminan dari kekeringan spiritual yang melanda hati kita. Ketika air mata penyesalan sudah jarang tumpah dalam sujud malam, ketika lisan kita basah oleh ghibah dan kebohongan, dan ketika tangan kita lebih sering berbuat zalim daripada berbagi, maka langit pun seakan menahan berkahnya.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah mengingatkan kita melalui sabda beliau yang mulia:

وَلَمْ يَمْنَعُوا زَكَاةَ أَمْوَالِهِمْ إِلَّا مُنِعُوا الْقَطْرَ مِنَ السَّمَاءِ، وَلَوْلَا الْبَهَائِمُ لَمْ يُمْطَرُوا

“Dan tidaklah mereka menahan zakat harta mereka, melainkan mereka akan dicegah dari hujan dari langit, dan seandainya bukan karena hewan-hewan ternak, niscaya mereka tidak akan diberi hujan.” (HR. Ibnu Majah)

Allah, Ya Allah... Alangkah meruginya kita jika musibah ini tidak mampu melembutkan hati kita yang keras. Kemarau panjang adalah manifestasi dari khauf—rasa takut akan murka Allah, saat kemaksiatan merajalela, saat hak-hak kaum lemah diabaikan, dan saat manusia lupa daratan, merasa berkuasa di atas bumi yang bukan milik mereka.

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,

Mari kita ingat kembali kisah agung di masa lalu, di era Nabi Musa alaihissalam. Ketika Bani Israil dilanda kemarau panjang yang sangat dahsyat, rumput mengering dan ternak mati kelaparan, Nabi Musa bersama ribuan umatnya pergi ke padang terbuka untuk memohon hujan (Shalat Istisqa'). Mereka berdoa berjam-jam, namun langit tetap membiru tanpa awan.

Lalu Allah memberikan wahyu kepada Nabi Musa: “Hujan tidak akan turun, karena di antara kalian ada seorang hamba yang selama empat puluh tahun terus-menerus bermaksiat kepada-Ku. Umumkan kepadanya agar dia keluar dari barisan kalian, karena sebab dialah hujan kalian tertahan.”

Nabi Musa berseru kepada kaumnya dengan suara lantang, “Wahai hamba yang bermaksiat kepada Allah selama 40 tahun, keluarlah dari barisan kami! Karena sebab kəndalamu, hujan tidak kunjung turun!”

Orang tersebut, yang berdiri di tengah barisan, mendengarnya. Hatinya bergetar hebat. Ia tahu, dialah orang yang dimaksud. Ia sadar, dosanya begitu menumpuk. Dengan penuh penyesalan, air mata berlinang, ia menutupi wajahnya, bertobat secara total di dalam hatinya, dan berkata kepada dirinya sendiri, “Ya Allah, jika aku keluar, aku akan malu di hadapan kaumku. Jika aku tetap tinggal, aku akan menghalangi turunnya rahmat-Mu. Ya Allah, aku bertaubat kepada-Mu!”

Sekejap kemudian, sebelum ia sempat melangkah keluar dari barisan, angin sepoi-sepoi bertiup, awan mendung berkumpul dengan cepat, dan hujan lebat pun turun mengguyur bumi yang kehausan. Nabi Musa terheran-heran dan bermunajat, “Ya Allah, Engkau turunkan hujan padahal tidak ada seorang pun yang keluar dari barisan?” Allah berfirman, “Wahai Musa, Aku turunkan hujan karena sebab orang itulah Aku menahannya, dan karena sebab dia pula Aku menurunkannya sekarang, karena dia telah bertaubat kepada-Ku!”

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,

Kisah ini adalah secercah raja'—harapan besar bagi kita. Allah tidak pernah menutup pintu ampunan bagi hamba-Nya yang mau kembali. Barangkali, di tempat duduk kita hari ini, terselip dosa-dosa tersembunyi yang membuat rahmat Allah tertahan di langit. Mari jadikan kemarau ini sebagai momentum muhasabah, pembersihan jiwa, dan instrospeksi diri.

Mari kita tundukkan kepala kita, satukan hati kita, memohon ampun kepada Dzat Yang Maha Pengampun...

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلىَ رِضْوَانِهِ.

اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا.

أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى

وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَّى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ.

اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ.

رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.

عِبَادَاللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Bagikan artikel ini

Artikel Lainnya

Lihat semua →