اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، شَكَرًا لِلَّهِ عَلَى نِعَمِهِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, hadirin sekalian yang dirahmati Allah SWT.
Jalan-jalan ke pasar membeli sayur, pulangnya mampir ke warung kopi.
Sungguh beruntung di dunia akhir, menimba ilmu dari seorang guru sejati.
Hadirin yang terhormat,
Pagi ini, izinkan saya mengajak kita semua untuk merenungi sebuah karunia agung yang seringkali luput dari perhatian kita, yaitu pentingnya adab dan tatakrama seorang murid terhadap masyaikh dan guru-gurunya. Dalam lautan ilmu yang luas, guru laksana bahtera penuntun yang mengantarkan kita menuju tepian keselamatan. Tanpa adab yang semestinya, ilmu yang kita peroleh bisa jadi bagaikan air yang mengalir tanpa muara.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'anul Karim:
"Dan apabila mereka (isteri-isteri Nabi) memohon sesuatu (hajat) kepada mereka (para wanita), maka mintalah kepada mereka dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. Dan tidak boleh kamu menyakiti (menyakiti) rasulullah dan tidak (pula) mengawini isteri-isterinya untuk selama-lamanya sesudah sesudah sesudah sesudahnya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah amat besar murka Allah di sisi Allah." (QS. Al-Ahzab: 53).
Ayat ini, meskipun konteksnya adalah adab terhadap istri Nabi, sejatinya mengajarkan nilai luhur dalam berinteraksi dan menghormati seorang panutan.
Adab terhadap guru adalah cerminan dari iman kita. Nabi Muhammad SAW bersabda:
"Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati yang lebih tua dan tidak menyayangi yang lebih muda, serta tidak mengetahui hak orang yang berilmu (ulama)." (HR. Ahmad).
Hadis ini dengan jelas menegaskan bahwa menghormati guru, yang merupakan pewaris para nabi, adalah bagian dari identitas seorang mukmin sejati.
Para masyaikh kita, ulama kita, bukanlah sekadar pengajar. Mereka adalah pewaris ilmu para nabi, penjaga amanah Allah. Kehadiran mereka adalah rahmat, dan didikan mereka adalah cahaya. Ingatlah kisah Imam Syafi'i yang begitu tawaduk dan menghormati gurunya, Imam Malik. Beliau rela berjalan jauh hanya untuk mengambil ilmu dari Imam Malik, dan tidak pernah membalikkan punggungnya saat Imam Malik sedang berbicara, demi menjaga adab dan mendengarkan setiap perkataan guru dengan seksama.
Menghormati guru bukan hanya sekadar dalam ucapan, namun juga dalam perbuatan. Merendahkan suara saat berbicara, tidak menyela pembicaraan, tidak mempertanyakan ilmu beliau dengan nada meremehkan, selalu menjaga pandangan, dan yang terpenting adalah mengamalkan ilmu yang telah diajarkan. Karena, tahukah hadirin sekalian, bahwa doa guru yang tulus adalah salah satu doa yang mustajab. Ketika kita menghormati guru, kita membuka pintu keberkahan ilmu dan ridha ilahi.
Imam Al-Ghazali rahimahullah pernah berkata, “Ilmu tanpa adab adalah seperti pohon tanpa buah.” Betapa indahnya ungkapan ini. Ilmu yang kita pungut tanpa dibarengi adab yang baik, ibarat pohon yang menjulang tinggi namun tak pernah menghasilkan apa-apa.
Untuk itu, marilah hadirin sekalian, kita perbaiki adab kita kepada para guru dan masyaikh. Jadikanlah setiap kesempatan berinteraksi dengan mereka sebagai sarana untuk menimba ilmu dan mencontoh akhlak mulia mereka. Jaga lisan kita, jaga pandangan kita, dan terlebih lagi, jaga hati kita dari segala bentuk kesombongan atau kedengkian.
Semoga Allah SWT senantiasa menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang beradab, yang senantiasa menghargai jasa para pendidik kita, dan menjadikan ilmu yang kita peroleh bermanfaat di dunia dan akhirat.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.