Logo Kangsantri AI

Syukur nikmat anugerah Illahi

Kultum
L
Labib Nubahai
28 September 2026 5 menit baca 1 views

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ ...

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْدُ:

فَقَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ: وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ.

رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي.

Kaum muslimin, jamaah shalat yang dimuliakan Allah, para perindu surga dan pejuang ridho Ilahi yang berjiwa tangguh!

Fajar menyingsing di ufuk timur,
Burung berkicau menyambut mentari.
Gunakan nikmat sepanjang umur,
Teguhkan syukur di dalam diri.

Segala puji hanya milik Allah Subhanahu wa Ta'ala, Dzat Yang Menggenggam jiwa kita, Yang Mengalirkan darah di nadi kita tanpa henti, dan Yang Mencurahkan samudera karunia yang tidak akan pernah sanggup kita hitung satu per satu! Hari ini, kita berdiri di hadapan Sang Maha Pencipta, menghirup udara-Nya, menapaki bumi-Nya, dan bernafas di bawah naungan rahmat-Nya yang tak bertepi.

Pertanyaannya wahai saudaraku tercinta: sudahkah dada kita bergetar penuh syukur saat menyadari betapa melimpahnya kasih sayang Allah kepada kita hari ini? Ataukah lisan kita masih disibukkan oleh ratapan, keluh kesah, dan tuntutan nafsu duniawi yang tak pernah ada habisnya?

Ketahuilah, syukur bukanlah sekadar ucapan pemanis di bibir ketika mendapatkan rezeki melimpah! Syukur adalah api pembakar semangat yang membangkitkan jiwa dari keputusasaan! Syukur adalah kekuatan dahsyat yang mengubah keterbatasan menjadi keberkahan tanpa batas! Orang yang bersyukur tidak akan pernah layu oleh ujian, tidak akan tumbang oleh cobaan, dan tidak akan silau oleh kemewahan dunia, karena hatinya senantiasa terhubung dengan Sang Maha Kaya!

Lihatlah firman Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam Surah Al-Baqarah ayat 152:

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ

"Maka ingatlah kepada-Ku, niscaya Aku ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari nikmat-Ku."

Allahu Akbar! Allah Pencipta alam semesta ini memanggil kita dengan seruan kemuliaan: "Bersyukurlah kepada-Ku!" Mengapa kita masih ragu? Mengapa kita masih sering mengeluh?

Bayangkan sebuah analogi sederhana dalam kehidupan kita. Pernahkah kita menghitung berapa rupiah harga satu tabung oksigen murni ketika seseorang terbaring lemah di ruang gawat darurat rumah sakit? Jutaan rupiah harus dikeluarkan demi beberapa jam helaan nafas buatan! Namun detik ini, Allah memberikan miliaran liter oksigen segar langsung ke paru-paru kita setiap detik, gratis tanpa faktur tagihan! Jantung kita berdetak puluhan ribu kali sehari tanpa kita sewa mesin penggeraknya. Lalu nikmat Allah mana lagi yang berani kita dustakan? Sungguh memalukan bila kita masih berani mengeluhkan satu dua keinginan dunia yang tertunda, sementara triliunan nikmat kehidupan terus mengalir tanpa henti!

Tengoklah keteladanan agung junjungan kita, Nabi Muhammad ﷺ. Manusia termulia yang telah dijamin surga dan diampuni seluruh dosanya yang lalu maupun yang akan datang. Namun, apakah beliau bersantai-santai? Tidak sama sekali! Beliau justru berdiri shalat di keheningan malam hingga telapak kakinya yang mulia bengkak dan pecah-pecah. Ketika Sayyidah Aisyah radhiyallahu 'anha bertanya dengan penuh keheranan mengapa beliau menyiksa diri sedemikian rupa, apa jawaban baginda Rasulullah ﷺ? Beliau menjawab dengan kobaran cinta dan getaran iman:

أَفَلَا أُحِبُّ أَنْ أَكُونَ عَبْدًا شَكُورًا

"Tidakkah patut aku menjadi hamba yang pandai bersyukur?" (HR. Bukhari dan Muslim).

Allahu Akbar! Inilah hakikat syukur sejati! Syukur bukanlah kepasrahan yang pasif dan berpangku tangan. Syukur adalah ledakan energi ibadah! Semakin banyak nikmat yang kita terima, semakin haus raga ini untuk sujud! Semakin luas kelapangan rezeki kita, semakin membara tangan ini untuk berinfak dan menolong hamba-hamba Allah lainnya!

Jangan biarkan racun kufur nikmat merusak pandangan hidup kita! Rasulullah ﷺ memberikan kunci emas agar mental kita senantiasa tangguh dan dipenuhi gelora syukur dalam sabdanya:

انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ

"Lihatlah orang yang berada di bawah kalian dan jangan melihat orang yang berada di atas kalian, karena hal itu lebih pantas agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah atas kalian." (HR. Muslim).

Bakar habis penyakit iri dan dengki di dalam dada! Berhentilah membandingkan apa yang kita miliki dengan gemerlap milik orang lain. Bila kita melihat orang yang lebih kaya hartanya, jangan kecil hati, lihatlah mereka yang tidur beralaskan tanah! Bila kita lelah dengan pekerjaan kita, lihatlah jutaan saudara kita yang berpeluh keringat mencari sesuap nasi namun tak kunjung mendapatkannya. Pandanglah ke bawah untuk urusan dunia, agar lisan kita senantiasa memuji Allah, dan pandanglah ke atas untuk urusan akhirat, agar semangat ibadah kita membumbung tinggi!

Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah menegaskan pilar utama rasa syukur ini dengan perkataannya yang sangat mendalam:

الشُّكْرُ مَبْنِيٌّ عَلَى خَمْسِ قَوَاعِدَ: خُضُوعِ الشَّاكِرِ لِلْمَشْكُورِ، وَحُبِّهِ لَهُ، وَاعْتِرَافِهِ بِنِعْمَتِهِ، وَثَنَائِهِ عَلَيْهِ بِهَا، وَأَنْ لَا يَسْتَعْمِلَهَا فِيمَا يَكْرَهُ

"Syukur dibangun di atas lima fondasi: ketundukan orang yang bersyukur kepada Dzat yang disyukuri, mencintai-Nya, mengakui limpahan nikmat-Nya, memuji-Nya atas nikmat itu, dan tidak menggunakan nikmat tersebut untuk hal-hal yang Dia benci."

Dengarkan baik-baik wahai saudaraku, jangan pernah gunakan mata yang Allah beri untuk memandang yang haram! Jangan pernah gunakan lisan yang Allah anugerahkan untuk berdusta dan mencaci! Jangan gunakan harta pemberian Allah untuk bermaksiat kepada-Nya! Karena mengkhianati nikmat adalah puncak dari kezaliman, dan mengagungkan nikmat dalam ketaatan adalah puncak dari kemuliaan!

Maka hari ini, saat kita melangkah keluar dari tempat yang mulia ini, mari kita ubah hidup kita dengan tiga aksi nyata syukur:

Pertama, Syukur Lisan: Hentikan segala keluhan sekarang juga! Ganti setiap desah keluh kesah menjadi kalimat tahmid dan takbir. Jadikan lisan kita basah memuji keagungan Allah di setiap hembusan nafas!

Kedua, Syukur Hati: Tanamkan keyakinan baja bahwa apa pun takdir yang Allah tetapkan untuk kita hari ini adalah yang terbaik. Tidak ada ruang bagi kekecewaan bagi seorang mukmin yang meyakini luasnya kasih sayang Rabb-nya!

Ketiga, Syukur Amal: Kobarkan semangat beramal! Jadikan kesehatan raga ini amunisi untuk melangkahkan kaki ke masjid, jadikan kelebihan rezeki untuk menyantuni anak yatim dan dhuafa, jadikan ilmu dan kecerdasan sebagai mercusuar perjuangan membela agama Allah!

Mari kita tengadahkan tangan dan memohon kepada Allah dengan kerendahan hati dan keyakinan yang bulat:

اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ، اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الشَّاكِرِينَ لِنِعَمِكَ، الصَّابِرِينَ عَلَى بَلَائِكَ، الْفَائِزِينَ بِرِضَاكَ وَجَنَّتِكَ. اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي أَعْمَارِنَا وَأَمْوَالِنَا وَأَهْلِينَا، وَطَهِّرْ قُلُوبَنَا مِنْ كُلِّ كُفْرَانٍ وَحَسَدٍ، وَارْزُقْنَا إِيمَانًا يُبَاشِرُ قُلُوبَنَا حَتَّى نَلْقَاكَ وَأَنْتَ رَاضٍ عَنَّا يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Bagikan artikel ini

Artikel Lainnya

Lihat semua →