اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ, وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ.
قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْعَزِيْزِ:
رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي.
*
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Hadirin sekalian yang terhormat, para aulia Allah yang mulia,
Pergi ke pasar membeli bunga,
Bunga melati harum mewangi.
Jika ingin hidup bahagia,
Muliakanlah tamu di hati.
Sebuah pantun sederhana namun sarat makna. Mengapa memuliakan tamu begitu penting? Mengapa ajaran ini begitu ditekankan dalam Islam? Karena memuliakan tamu bukan sekadar adab bergaul, ia adalah cerminan keimanan kita, bukti kepatuhan kita kepada Allah dan Rasul-Nya.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim:
Sungguh, amalan ini begitu erat kaitannya dengan pondasi iman kita. Jika iman kita kokoh, insya Allah sikap memuliakan tamu akan terpatri dalam diri kita. Namun, sebaliknya, jika kita lalai dalam urusan memuliakan tamu, ini bisa menjadi indikasi rapuhnya keimanan kita.
Apa artinya memuliakan tamu?
Pertama, ia berarti menyambut mereka dengan wajah berseri, dengan senyum tulus, dan dengan tutur kata yang lembut. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman dalam Al-Qur'an surat Al-Hijr ayat 46:
Dalam ayat ini Allah memerintahkan para penghuni surga untuk masuk dengan kedamaian dan keamanan. Ini adalah perintah yang mencerminkan adab tertinggi dalam menyambut makhluk.
Kedua, memberikan pelayanan terbaik yang kita miliki. Ini bukan berarti kita harus menyiapkan hidangan yang mewah dan mahal semata. Namun, memberikan apa yang terbaik dari apa yang kita miliki, dengan ikhlas, itulah yang dinilai Allah. Dahulu, para sahabat Nabi radhiyallahu 'anhum, ketika kedatangan tamu, mereka akan berusaha memberikan makanan terbaik meskipun dirumah hanya ada sedikit.
Imam Asy-Syafi'i rahimahullah pernah berkata:
Memuliakan tamu adalah salah satu bentuk interaksi yang membawa kebahagiaan, baik bagi yang memberi maupun yang menerima.
Ingat kisah Ibrahim Al-Khalil ‘alaihissalam. Beliau adalah seorang nabi yang sangat terkenal memuliakan tamunya. Suatu ketika, Allah menguji beliau dengan kedatangan tiga orang tamu yang tidak beliau kenal. Meski tidak tahu siapa mereka, Ibrahim beserta keluarganya langsung bergegas menyiapkan hidangan terbaik untuk mereka. Beliau bahkan tidak duduk untuk makan sebelum para tamunya merasa nyaman dan aman.
Memuliakan tamu juga menjadi salah satu ciri khas orang bertakwa, seperti yang disebutkan dalam Al-Qur'an surat Az-Zariyat ayat 24-26:
Hadirin yang dirahmati Allah,
Mari kita renungkan. Adakah kita sudah benar-benar mengaplikasikan ajaran ini? Ketika kerabat, tetangga, atau bahkan orang yang tidak kita kenal bertandang ke rumah kita, bagaimana sikap kita? Apakah kita menyambut mereka dengan ketulusan, atau justru dengan keengganan yang tersembunyi?
Mari mulai dari diri sendiri, dari rumah kita. Jadikan rumah kita sebagai tempat yang nyaman dan penuh kasih bagi setiap tamu yang datang. Mulai dari senyuman, menawarkan minum, hingga percakapan yang hangat. Luangkan waktu sejenak untuk mendengar keluh kesah mereka, atau sekadar berbagi cerita.
Sesungguhnya, balasan dari Allah atas kebaikan kita memuliakan tamu tidak akan pernah terputus. Ia adalah investasi akhirat yang sangat berharga.
Oleh karena itu, marilah kita jadikan memuliakan tamu sebagai kebiasaan, sebagai bagian dari karakter seorang Muslim yang beriman. Semoga Allah senantiasa memudahkan langkah kita untuk senantiasa berbuat baik dan memuliakan setiap tamu yang datang ke hadapan kita.
Aamiin ya Rabbal 'alamin.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.