اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ.
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Hadirin wal hadirat yang dirahmati Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Jalan setapak terentang luas,
Menuju taman syurga nan indah kelaka,
Sungguh perindu Allah amatlah pantas,
Meneladani rosul dalam setiap tingkah.
Saudaraku sekalian, tema yang akan kita renungkan bersama pada kesempatan yang berbahagia ini adalah tentang bagaimana kita meneladani sifat fathonah yang dianugerahkan Allah kepada para rasul-Nya. Fathonah, sebuah kata yang mungkin terdengar sederhana, namun kandungannya begitu mendalam. Fathonah adalah kecerdasan, kebijaksanaan, ketajaman pandangan, dan kemampuan berpikir jernih dalam menghadapi setiap persoalan. Sifat inilah yang menjadi salah satu kunci keberhasilan para utusan Allah dalam mengemban risalah-Nya yang mulia.
Lihatlah bagaimana Nabi Yusuf Alaihissalam, dengan sifat fathonahnya, mampu menafsirkan mimpi raja Mesir yang menjadi pertanda akan datangnya masa paceklik. Kecerdasannya ini tidak hanya menyelamatkan dirinya dari hukuman, tetapi juga menyelamatkan seluruh negeri Mesir dari bencana kelaparan. Beliau tidak terpancing amarah atau keputusasaan, melainkan menggunakan akal yang dianugerahkan Allah untuk memberikan solusi terbaik.
Allah Ta'ala berfirman dalam Al-Qur'an Surah Yusuf ayat 54-56 yang artinya: "Dan raja berkata, 'Bawalah dia (Yusuf) kepadaku.' Maka setelah dia (Yusuf) berbicara dengannya, dia (raja) berkata, 'Sesungguhnya kamu mulai hari ini menjadi orang yang berkedudukan tinggi dan dapat dipercaya.' (Yusuf) berkata, 'Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan.' Dan demikianlah Kami memberi kedudukan yang baik kepada Yusuf di negeri (Mesir) itu, dan agar Kami mengajarkannya ta'bir mimpi. Dan Allah Maha Kuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui."
Para ulama salafush shalih menyebutkan bahwa fathonah adalah karunia ilahi yang harus dijaga. Imam Syafi'i rahimahullah pernah berkata, "Aku mengeluhkan kepada guruku tentang sulitnya hafalku, maka beliau menasihatiku untuk meninggalkan maksiat, dan memberitahuku bahwa ilmu adalah cahaya, sedangkan maksiat adalah kegelapan. Dan cahaya Allah tidak akan diberikan kepada orang yang bermaksiat." Ini menunjukkan bahwa kecerdasan sejatinya beriringan dengan kesucian hati dan ketaatan kepada Allah.
Saudaraku, sifat fathonah ini bukan hanya milik para nabi, tetapi juga merupakan anugerah yang Allah berikan kepada kita, para hamba-Nya. Namun, seringkali kita tidak menggunakannya secara optimal. Kita lebih sering menggunakan emosi daripada akal, menggunakan prasangka daripada bukti, dan menggunakan ucapan yang tidak bermanfaat daripada diam yang lebih bijak.
Bagaimana kita bisa meneladani sifat fathonah ini dalam kehidupan sehari-hari? Pertama, dengan senantiasa berdoa memohon kecerdasan dan kebijaksanaan kepada Allah. Sebagaimana firman-Nya dalam Surah Al-Baqarah ayat 282: "…Takutlah kepada Allah, dan Allah akan mengajarkanmu. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu."
Kedua, dengan terus belajar dan mengasah akal pikiran kita. Membaca Al-Qur'an dan memahami kandungannya, mempelajari ilmu pengetahuan, serta memperluas wawasan. Perkataan bijak dari Luqman Al-Hakim yang diabadikan dalam Al-Qur'an mengingatkan kita, "Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu: 'Bersyukurlah kepada Allah! Dan barangsiapa bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri. Dan barangsiapa tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya, lagi Maha Terpuji.'" (Luqman: 12)
Ketiga, dengan berpikir sebelum bertindak atau berbicara. Mengendalikan diri dari amarah, kecerobohan, dan kebohongan. Menimbang segala sesuatu dengan pertimbangan yang matang, demi kebaikan diri sendiri dan orang lain. Ingatlah sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, "Sebaik-baik amal adalah tsiqah (ketergantungan) kepada Allah dan husnudzon (berbaik sangka)." (HR. Tirmidzi). Berbaik sangka juga merupakan bagian dari fathonah, karena ia mencegah kita dari keburukan prasangka yang merusak.
Mari kita renungkan, sudahkah kita menggunakan karunia akal dan kecerdasan ini di jalan Allah? Sudahkah kita berupaya menjadi pribadi yang bijaksana, yang mampu menyelesaikan masalah dengan kepala dingin, yang perkataannya menyejukkan, dan tindakannya membawa manfaat?
Saudaraku sekalian, dengan meneladani sifat fathonah para rasul, kita akan menjadi pribadi yang lebih kuat, lebih bijaksana, dan lebih tangguh dalam menghadapi ujian kehidupan. Kita akan mampu memberikan kontribusi yang lebih baik bagi keluarga, masyarakat, dan agama.
Oleh karena itu, marilah kita berkomitmen untuk senantiasa meningkatkan kualitas diri, mengasah akal, membersihkan hati, dan menggunakan setiap karunia Allah untuk kebaikan. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta'ala senantiasa membimbing kita, memberi kita taufik, dan menjadikan kita pribadi-pribadi yang senantiasa meneladani akhlak mulia para rasul-Nya. Aamiin.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.