Logo Kangsantri AI

Teladan Tabligh Rasul

Kultum
U
Ummi Winda
25 Juni 2026 3 menit baca 14 views

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ و...

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ.

وَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: ﴿يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ وَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ وَاللهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ إِنَّ اللهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِيْنَ﴾ (المائدة: 67).
رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي.

Hadirin wal hadirat yang dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Baitikan terucap sungguh syahdu,
Burung camar terbang ke tepi laut.
Nasihat ini datang untukmu,
Semoga kebaikan selalu menyambut.

Sungguh sebuah anugerah terindah ketika kita dapat berkumpul di majelis yang mulia ini, untuk bersama-sama merenungi salah satu sifat para utusan Allah, sifat yang menjadi kunci kebaikan dan keselamatan dunia akhirat, yaitu sifat tabligh. Tabligh, dalam makna yang paling mendalam, berarti menyampaikan, menjelaskan, dan mengkomunikasikan kebenaran yang diamanahkan. Para rasul, tanpa terkecuali, memiliki sifat ini dengan kesempurnaan yang luar biasa.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Al-Qur'an Surah Al-Ma'idah ayat 67, yang telah kita baca dalam muqaddimah tadi: "Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tiada memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir." Ayat ini menegaskan betapa krusialnya tugas tabligh bagi seorang rasul. Mereka diutus bukan hanya untuk diri mereka sendiri, melainkan untuk menyampaikan risalah Allah kepada seluruh umat manusia.

Mari kita lihat bagaimana para nabi dan rasul meneladani sifat tabligh ini. Nabi Nuh 'alaihissalam berdakwah selama 950 tahun, menyampaikan peringatan dan seruan untuk menyembah Allah semata. Nabi Ibrahim 'alaihissalam dengan gigih membantah kesesatan kaumnya, bahkan menghadapi ancaman bakar dalam api. Nabi Musa 'alaihissalam diutus dengan tugas berat menghadapi Fir'aun yang lalim, namun beliau tetap gigih menyampaikan kebenaran seraya memohon kekuatan kepada Allah: "Wahai Tuhanku, lapangkanlah dadaku dan mudahkanlah bagiku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku." (QS. Thaha: 25-28).

Dan puncaknya, kekasih kita, junjungan kita Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam, mengemban amanah tabligh dengan segenap jiwa dan raga. Beliau menyampaikan Al-Qur'an yang mulia, mengajarkan Sunnah, dan menjadi teladan terbaik dalam perkataan dan perbuatan. Ia tak kenal lelah menghadapi berbagai macam rintangan, dari ejekan, hinaan, ancaman, hingga pengusiran. Namun, ia tetap teguh, karena ia tahu, menyampaikan risalah Allah adalah amanah yang paling agung. "Maka sampaikanlah (wahai Muhammad) orang-orang yang diperintahkan kepadamu dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik." (QS. Al-Hijr: 94).

Para ulama salafush Shalih juga telah mewariskan semangat tabligh ini. Imam Syafi'i rahimahullah pernah berkata, "Barang siapa menuntut ilmu, maka haruslah ia mengamalkannya, karena hal itu akan menambah ilmu pada dirinya, sebagaimana bertambahnya air pada tanaman." Beliau mengajarkan bahwa ilmu yang didapat dari risalah para rasul haruslah disampaikan dan diamalkan.

Lantas, bagaimana dengan kita sebagai umatnya? Apakah kita sudah mengaplikasikan sifat tabligh ini dalam kehidupan sehari-hari? Tabligh bukan hanya tugas para dai atau ulama, tetapi menjadi tanggung jawab kita semua sesuai kadar kemampuan kita. Menyampaikan kebaikan, mengingatkan akan kewajiban, memperingatkan dari kemungkaran, bahkan sekadar menebar senyum tulus yang menenangkan hati, semua itu adalah bagian dari tabligh.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sampaikanlah dariku walau satu ayat..." (HR. Bukhari). Ini adalah panggilan universal. Mari kita mulai dari diri sendiri, keluarga, lingkungan terdekat. Gunakan lisan kita untuk kebaikan, gunakan tulisan kita untuk menebar manfaat, gunakan perbuatan kita untuk menjadi contoh. Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.

Oleh karena itu, marilah kita jadikan sifat tabligh para rasul sebagai inspirasi dalam hidup kita. Sampaikanlah kebenaran dengan hikmah dan kelembutan, seperti yang diajarkan oleh junjungan kita. Jadilah pribadi yang produktif dalam menebar kebaikan, karena hidup ini adalah kesempatan emas untuk mengumpulkan bekal. Semoga Allah senantiasa memberikan kekuatan dan kemudahan bagi kita untuk mengemban amanah ini.

Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yang senantiasa menyebarkan kebaikan, meneladani para rasul-Mu, dan menjadi hamba-Mu yang senantiasa taat. Amin ya Rabbal 'alamin.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

Bagikan artikel ini

Artikel Lainnya

Lihat semua →