اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، سَيِّدِنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ
رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي
Alhamdulillah, jamaah sekalian yang dirahmati Allah, wabil khusus bapak-bapak yang kalau tidur mangapnya kompak banget barisan depan, dan ibu-ibu yang kalau dengerin ceramah matanya fokus tapi tas belanjaannya lebih fokus lagi. Sehat ya semuanya? Masya Allah. Senang sekali malam ini kita bisa berkumpul di masjid yang mulia ini dalam keadaan sehat walafiat.
Jalan-jalan ke pasar minggu,
Jangan lupa beli buah duku.
Kenal Allah jangan cuma di tunggu,
Kalau rindu, yuk dicari tahu!
Nah, mantap kan pantunnya? Buatan sendiri itu, jamaah. Jangan dipuji terlalu tinggi, nanti saya GR (Gede Rasa). Bicara soal "Mengenal Allah", ini topik yang luar biasa penting tapi kadang kita tuh ya, jemaah sekalian, lebih kenal sama password wifi rumah tetangga daripada kenal sama yang punya alam semesta. Betul apa betul? Kalau password wifi salah, langsung lapor, "Eh, kok nggak nyambung ya?" Tapi giliran doa nggak dikabulkan sedetik, langsung ngedumel, "Allah ni kok nggak adil ya sama saya?" Wah, parah ini! Padahal Allah tuh Maha Dekat, tapi kita seringnya bikin jarak.
Coba kita renungkan, jamaah. Kita ini kadang sibuk banget ngurusin kenalan di medsos. Followers ratusan ribu, centang biru bangga banget. Tapi pas ditanya, "Udah kenal Allah belum?" Jawabannya, "Insya Allah kenal lah ustadz, kan saya Islam KTP." Wah, KTP-nya emang Islam, tapi kelakuannya kayak intel. Datang pas perlu doang, giliran aman, ngilang kayak ditelan bumi.
Allah Ta'ala itu sebenarnya sudah memperkenalkan diri-Nya dengan sangat jelas lewat alam semesta dan Al-Qur'an. Allah berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 186:
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku.
Tuh dengar! Allah bilang "Fainni qarib", Aku ini dekat! Nggak pakai perantara, nggak pakai birokrasi, nggak pakai surat izin dari RT/RW. Bayangkan kalau kita mau ketemu pejabat, fotokopi KTP tiga lembar, surat pengantar kelurahan, nunggu antrean berjam-jam, pas ketemu cuma dapet senyum doang. Lah ini sama Allah? Mau jam dua malam, pas lagi galau gara-gara diputus pacar atau pas dompet lagi kering kerontang akhir bulan, tinggal angkat tangan, "Ya Allah...", langsung di-ACC! Tapi masalahnya, kita sering malu curhat sama Allah, giliran curhat ke status WhatsApp, semua orang se-kabupaten tahu. Aneh kan?
Rasulullah SAW juga pernah bersabda dalam sebuah hadits qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, betapa sayangnya Allah kepada kita:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى: أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي... وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ شِبْرًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيْهِ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا، وَإِنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Nabi ﷺ bersabda: Allah Ta'ala berfirman: Aku sesuai prasangka hamba-Ku pada-Ku, dan Aku bersamanya jika ia mengingat-Ku... Dan jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat sehasta, Aku mendekat sedepa. Dan jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan, Aku mendatanginya dengan berlari.
Allah itu "berlari", jamaah! Bayangkan, Zat yang Maha Agung, yang menguasai miliaran galaksi, berlari menyambut kita yang cuma modal jalan kaki gontai penuh dosa. Kok ya masih ada yang malas-malasan kenal sama Allah? Kalau ada bos di kantor bilang, "Siapa yang datang ke saya, saya kasih bonus satu miliar," pasti antre dari subuh kan? Bahkan pakai tenda semalam sebelumnya. Ini Allah yang punya langit dan bumi menjanjikan rahmat dan ampunan, eh kita malah asyik main game online sampai lupa shalat.
Imam Al-Ghazali pernah memberikan qoul atau nasihat yang sangat mendalam:
مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّهُ
Barangsiapa yang mengenal dirinya, niscaya ia akan mengenal Tuhannya.
Maksudnya apa? Coba deh kita introspeksi diri. Diri kita ini lemah. Kalau nggak napas lima menit aja, innalillahi langsung kita. Rambut rontok panik, kolesterol naik langsung diet ketat. Kita ini butuh banget sama Allah. Dulu kita nggak ada, dari setetes air yang hina, dicetak jadi manusia yang bentuknya lumayan ganteng dan cantik kayak jamaah di sini. Siapa yang ngurusin? Allah!
Saya kasih analogi sederhana ya. Bayangkan ada anak kecil dikasih kartu kredit sama ayahnya yang seorang miliarder. Anaknya bebas ambil uang di ATM mana aja. Tapi karena si anak nggak kenal siapa bapaknya, dia malah ngemis-ngemis di pinggir jalan, kelaparan, padahal di sakunya ada kartu sakti. Nah, kita ini sering kali kayak gitu! Punya Allah yang Maha Kaya, Maha Menjaga, Maha Menyembuhkan, tapi mentalnya malah mental pengemis dunia. Minta tolong sama dukun, minta kaya sama pesugihan, padahal Allah yang punya brankas langit dan bumi! Kan lucu, ya? Kayak orang punya AC tapi malah milih kepanasan di kandang ayam.
Oleh karena itu, jamaah sekalian, mari kita mulai hari ini, detik ini juga, memperbarui cara pandang kita kepada Allah. Jangan kenal Allah cuma waktu susah doang. Pas susah, "Ya Allah, tolong saya..." Pas senang, lupa daratan, bahkan lupa daratan dan lautan. Giliran sukses diklaim, "Ini hasil kerja keras saya!" Padahal kalau Allah cabut sedikit saja kewarasannya, jadi ODGJ di jalanan, mau apa?
Mari kita amalkan amal nyata mulai hari ini:
Pertama, perbaiki shalat kita. Jadikan shalat bukan sebagai beban atau kewajiban gugur tugas, tapi sebagai momen "date" eksklusif kita sama Allah. Ngobrol sama Allah, curhat di sujud terakhir.
Kedua, banyak-banyak merenungi ciptaan Allah di sekitar kita. Nasi bungkus yang kita makan tadi siang, siapa yang nanam padinya? Siapa yang nurunin hujannya? Kalau bukan karena kasih sayang Allah, kita nggak bakal bisa duduk manis di sini.
Ketiga, mulailah bersyukur dengan hal-hal kecil. Jangan tunggu kaya raya baru bersyukur. Bisa kentut lancar aja itu nikmat luar biasa, bapak-bapak tahu sendiri kan gimana rasanya kalau masuk angin gak bisa kentut? Siksa kubur versi mini itu!
Mari kita menengadahkan tangan sejenak, memohon kepada Allah agar hati kita senantiasa dilembutkan dan dikenalkan kepada-Nya.
اَللَّهُمَّ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا. اَللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ. اَللَّهُمَّ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ