اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, hadirin sekalian, Bapak-bapak, Ibu-ibu, Saudara-saudari yang dirahmati Allah.
Jalan-jalan ke pasar Beli mangga manis rasanya
Jika hati gelisah tiada tara
Ingatlah Tuhan, hilangkan duka lara
Nah, soal hati yang gelisah, kadang kita ini seperti mesin scanner beneran, ya? Dari hal kecil sampai yang belum tentu terjadi, semuanya discan, dianalisis, dipikirin sampai ujung dunia. Dulu mau makan, mikir keras, "Ini gula darah naik nggak ya? Nanti kolesterol gimana? Aduh, kok ada lalat hinggap ya?" Padahal lalatnya cuma lewat doang, belum sempat bikin acaranya. Namanya overthinking, kadang bikin kita lupa kalau hidup ini sebenarnya sederhana.
Pernah nggak sih, lagi enak-enaknya tidur, tiba-tiba kebangun karena kepikiran besok presentasi, padahal presentasinya seminggu lagi? Atau kepikiran omongan tetangga yang mungkin juga nggak sengaja diomongin? Wah, itu overthinking sudah level dewa namanya. Padahal, Allah sudah berfirman dalam Al-Qur'an surah Ar-Ra'd ayat 28, yang artinya: "Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." Sederhana kan? Mau tentram? Ya inget Allah. Bukan inget cicilan, bukan inget mantan, bukan inget tagihan PLN yang belum dibayar.
Kita ini sering banget kayak orang lagi main game tebak-tebakan, tapi tebakannya tentang masa depan yang belum kejadian. "Nanti kalau aku ngomong gini, dia marah nggak ya? Kalau aku ambil keputusan ini, rugi nggak ya?" Ujung-ujungnya, kita jadi malah nggak bisa ngomong dan nggak bisa ngambil keputusan. Padahal, Allah berfirman dalam surah Al-Imran ayat 159: "Kemudian apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal."
Bayangkan, Allah menyukai orang yang tawakal. Kapan Allah nggak suka? Ya mungkin kalau kita overthinking sampai lupa waktu shalat, lalu pas shalat malah mikirin cicilan, atau pas berdoa malah mikirin siapa yang lebih kaya dari kita. Tawakal itu bukan berarti pasrah tanpa usaha, lho. Justru setelah kita berusaha sekuat tenaga, barulah kita serahkan hasilnya kepada Allah, dengan hati yang lapang. Seperti pepatah bijak dari Imam Syafi'i rahimahullah, "Semua usaha yang dilakukan tanpa ketawakalan itu sia-sia." Jadi, usaha itu wajib, tawakal itu kunci.
Pernah lihat petani, nggak? Dia kan nyebar benih, nyiram, ngasih pupuk, tapi kan nggak tahu pas panen nanti hasilnya gimana. Bisa jadi cuaca buruk, bisa jadi ada hama. Tapi dia tetap berusaha, dan akhirnya dia bertawakal. Dia nggak setiap saat mikirin, "Aduh, jangan-jangan nanti padi gue nggak tumbuh semua!" Kalau dipikirin begitu terus, bisa-bisa dia nggak jadi nyiram karena takut airnya habis.
Jadi, hadirin sekalian, mari kita latih diri untuk mindful. Kalau hati mulai bergolak karena overthinking, langsung pegang dada, tarik napas dalam-dalam, dan ucapkan, "Ya Allah, kuatkan aku." Ingatlah ayat yang tadi: "Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." Sisihkan waktu sebentar untuk berzikir, membaca Al-Qur'an, atau sekadar merenungi nikmat Allah.
Dan yang terpenting, setelah berusaha, jangan lupa bertawakal. Serahkan hasilnya pada Allah dengan penuh keyakinan. Bukan berarti kita santai lalu tidak melakukan apa-apa, tapi setelah ikhtiar maksimal, hati kita tenang karena tahu ada Allah yang Maha Mengatur.
Semoga Allah senantiasa memberikan ketenteraman dalam hati kita, menjauhkan kita dari bisikan-bisikan overthinking yang menyesatkan, dan menolong kita untuk senantiasa bertawakal kepada-Nya. Aamiin.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ