اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، سَيِّدِنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ إِنَّ زَلْزَلَةَ السَّاعَةِ شَيْءٌ عَظِيمٌ. يَوْمَ تَرَوْنَهَا تَذْهَلُ كُلُّ مُرْضِعَةٍ عَمَّا أَرْضَعَتْ وَتَضَعُ كُلُّ ذَاتِ حَمْلٍ حَمْلَهَا وَتَرَى النَّاسَ سُكَارَى وَمَا هُم بِسُكَارَى وَلَكِنَّ عَذَابَ اللَّهِ شَدِيدٌ.
رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي
Ma'asyiral Muslimin, jamaah rahmatullah, puji dan syukur senantiasa kita panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta'ala, yang masih melimpahkan kepada kita nikmat iman, Islam, serta kesehatan, sehingga kita dapat berkumpul di tempat yang mulia ini dalam rangka menegakkan ketaatan kepada-Nya. Shalawat serta salam semoga tercurah limpahkan kepada junjungan kita Nabi besar Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beserta keluarga, para sahabat, dan seluruh pengikutnya hingga akhir zaman.
Sebelum kita selami lebih dalam samudera hikmah pada pertemuan mulia ini, izinkan saya menyampaikan sebuah bait nasihat melalui pantun:
Pergi ke kebun memetik kembang,
Kembang melati harum mewangi.
Hati yang lalai mudah bimbang,
Mendidik diri sucikan hati.
Jamaah sekalian yang dirahmati Allah,
Kehidupan dunia seringkali melalaikan kita. Tanpa terasa, waktu berjalan begitu cepat, usia senantiasa berkurang, sementara bekal yang kita kumpulkan masih sangat sedikit. Hari ini, mari kita sejenak merenungkan sebuah formula agung, sebuah mutiara hikmah dari para salafusshalih yang merangkum rapi pintu keselamatan hati dan ketenangan jiwa. Formula itu adalah: sedikit makan, sedikit tidur, sedikit bicara, dan sedikit angan-angan.
Empat perkara ini bukanlah sekadar anjuran fisik, melainkan pilar-pilar penegak ruhani. Mengapa demikian? Mari kita bedah satu per satu dengan cahaya Al-Qur'an, sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, serta bimbingan para ulama.
Pertama, perihal sedikit makan. Di era modern ini, kenikmatan kuliner seringkali melalaikan batas-batas syariat. Padahal, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Al-Qur'an Surah Al-A'raf ayat 31:
وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ
"Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan."
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga memperingatkan kita melalui sabda beliau yang mulia:
مَا مَلَأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنٍ، بحَسْبِ ابْنِ آدَمَ أُكُلَاتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ، فَإِنْ كَانَ لَا مَحَالَةَ فَثُلُثٌ لِطَعَامِهِ، وَثُلُثٌ لِشَرَابِهِ، وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ
"Tidak ada wadah yang dipenuhi oleh anak Adam yang lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap makanan yang menegakkan punggungnya. Jika tidak bisa, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya, dan sepertiga untuk nafasnya." (HR. Tirmidzi).
Bayangkan, jamaah sekalian, ketika perut terlalu kenyang, tubuh menjadi berat, mata menjadi mengantuk, dan hati menjadi keras. Imam Ibrahim an-Nakha'i rahimahullah pernah berkata, "Kaum sebelum kalian binasa karena tiga hal: banyak bicara, banyak makan, dan banyak tidur."
Kedua, sedikit tidur. Tidur adalah kebutuhan, namun berlebih-lebihan di dalamnya adalah pencuri waktu yang paling handal. Malam hari diciptakan Allah untuk istirahat, namun sebagiannya adalah ladang emas bagi hamba-hamba yang merindukan kedekatan dengan Rabb-nya. Allah berfirman dalam Surah As-Sajdah ayat 16:
تَتَجَافَىٰ جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ
"Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, mereka berdoa kepada Rabbnya dengan rasa takut dan penuh harap, dan mereka menginfakkan apa rezeki yang Kami berikan kepada mereka."
Ketika malam sunyi, saat itulah ketulusan seorang hamba diuji. Sedikit tidur di sepertiga malam terakhir untuk bermunajat kepada Allah akan melahirkan ketenangan jiwa yang tidak akan pernah ditemukan di atas tempat empuk yang melalaikan.
Ketiga, sedikit bicara. Lidah adalah anugerah terbesar, namun ia juga pisau bermata dua yang paling tajam. Banyak bencana lahir dari ucapan yang tidak dijaga. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
"Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam." (HR. Bukhari dan Muslim).
Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu bahkan pernah memegang lidahnya sendiri sambil berkata, "Inilah yang membawaku ke berbagai tempat kebinasaan." Sifat sedikit bicara melatih kita untuk senantiasa berpikir sebelum berucap, menghindarkan diri dari ghibah, adu domba, dan perkataan sia-sia.
Keempat, sedikit angan-angan. Yang dimaksud dengan sedikit angan-angan (thûl al-amal) adalah tidak terbuai oleh angan-angan duniawi yang panjang seolah-olah kita akan hidup selamanya di bumi ini. Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu pernah memberikan nasihat yang sangat menyentuh:
إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ اتِّبَاعُ الهَوَى وَطُولُ الأَمَلِ، فَأَمَّا اتِّبَاعُ الهَوَى فَيَصُدُّ عَنِ الحَقِّ، وَأَمَّا طُولُ الأَمَلِ فَيُنْسِي الآخِرَةَ
"Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas kalian adalah mengikuti hawa nafsu dan panjang angan-angan. Mengikuti hawa nafsu menghalangi dari kebenaran, sedangkan panjang angan-angan melupakan akhirat."
Mari kita renungkan kisah seorang musafir yang berteduh di bawah pohon rindang. Ia hanya singgah sebentar, mengambil nafas, lalu melanjutkan perjalanan panjangnya. Dunia ini adalah tempat berteduh, bukan tempat tinggal abadi.
Ma'asyiral Muslimin, jamaah yang dirahmati Allah,
Mari kita ubah pemahaman ini menjadi amal nyata mulai hari ini. Mari kita jaga piring makan kita agar tidak berlebihan, kita atur waktu tidur kita agar tidak melalaikan tahajud, kita rem lisan kita dari perkataan yang tidak bermanfaat, dan kita pendekkan angan-angan duniawi kita dengan memperbanyak amal shalih untuk bekal di akhirat.
Ya Allah, ya Rabbana, jadikanlah kami hamba-hamba-Mu yang mampu menjaga lisan, mengendalikan hawa nafsu, memelihara waktu, dan senantiasa rindu akan pertemuan dengan-Mu. Lembutkanlah hati kami, terimalah amal ibadah kami, dan jadikan sisa umur kami penuh dengan keberkahan.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ