اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ.
Hadirin sekalian, kaum muslimin yang dimuliakan Allah SWT.
Indah nian mentari pagi merekah,
Sinarnya hangat sentuh nurani hamba.
Jika amanah tak lagi digemah,
Hancurlah dunia, sirnalah cahaya.
Betapa sering kita mendengar, membaca, bahkan mungkin mengucapkannya dalam doa, sebuah pilihan kata yang begitu agung: "uswatun hasanah", teladan yang baik. Dan siapakah teladan terbaik itu? Tentu saja junjungan kita, Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. Namun, sebelum beliau menjadi teladan bagi kita, para rasul sebelum beliau pun telah menampilkan perangai mulia yang tak terhingga, salah satunya adalah sifat amanah yang luar biasa melekat pada diri mereka. Amanah, sebuah kata yang kini terasa berat di pundak banyak insan.
Amanah, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, adalah dasar dari segala kebaikan, pondasi dari keteguhan sebuah peradaban. Para rasul Allah, sejak Nabi Adam alaihissalam hingga Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, adalah personifikasi dari sifat amanah. Allah Ta'ala berfirman dalam Al-Qur'an: "Dan sesungguhnya Kami telah memberikan Kitab dan hikmah kepada Ibrahim dan Kami telah memberikan kepadanya kekuasaan yang besar (pula)." (QS. An-Nisa: 54). Ayat ini mengisyaratkan betapa Allah telah memberikan kepercayaan besar kepada para nabi, dan mereka tidak pernah menyalahi kepercayaan itu.
Nabi Yusuf alaihissalam, bahkan sebelum diangkat menjadi pejabat negara, telah menunjukkan sifat amanahnya. Ketika beliau dipercaya menjaga gudang makanan Mesir, beliau tidak pernah mengambil untung pribadi bahkan ketika kelaparan melanda. Beliau berfirman: "Jadikanlah aku pengatur perbendaharaan (negeri) ini; sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga lagi berpengetahuan." (QS. Yusuf: 55). Sungguh, sebuah titipan dijaga dengan penuh integritas, tanpa sedikitpun niat untuk merugikan.
Rasulullah Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam sendiri dikenal sebagai Al-Amin, orang yang terpercaya, bahkan sebelum beliau diangkat menjadi nabi. Para musuh pun mengakui kejujuran dan amanah beliau. Bisakah kita membayangkan, betapa teguhnya hati beliau? Beliau diberikan tanggung jawab yang begitu besar untuk menyampaikan risalah Allah. Pernahkah beliau menyalahi walau sepatah kata dari wahyu Ilahi? Tidak pernah! Beliau menyampaikan semuanya, bahkan ketika itu berat untuk diucapkan, bahkan ketika menerima cemoohan dan hinaan. Beliau bersabda: "Sesungguhnya orang yang paling aku cintai di antara kalian adalah orang yang paling baik akhlaknya, yang paling ringan timbangannya dan yang paling ringan perkataannya." (HR. Tirmidzi). Amanah dalam perkataan, amanah dalam perbuatan, adalah bagian tak terpisahkan dari akhlak yang mulia.
Dikisahkan pula ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam hijrah ke Madinah, beliau menitipkan banyak barang berharga milik kaum Quraisy yang memusuhinya kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu untuk dikembalikan kepada pemiliknya. Ini menunjukkan betapa amanah adalah prinsip yang dijunjung tinggi, bahkan dalam situasi genting dan penuh permusuhan.
Para ulama salaf pernah berkata, "Amanah adalah kewajiban." Tidak hanya amanah dalam mengembalikan harta, tetapi juga amanah dalam menjaga rahasia, amanah dalam menjalankan tugas, amanah dalam menjaga lisan, dan yang terpenting, amanah kepada Allah Ta'ala untuk menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
Mari kita renungkan sejenak, Bapak dan Ibu sekalian. Seberapa sering amanah yang Allah titipkan kepada kita, baik dalam keluarga, pekerjaan, maupun lingkungan masyarakat, kita tunaikan dengan sungguh-sungguh? Apakah kita telah menjadi pribadi yang terpercaya? Atau justru seringkali kita menyia-nyiakan amanah itu, menunda pekerjaan, mengabaikan janji, bahkan mengkhianati kepercayaan yang diberikan? Ingatlah sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam: "Tidaklah seorang hamba yang Allah jadikan dia memegang urusan kaum muslimin, lalu ia mati pada saat ia menipu mereka, melainkan Allah akan mengharamkan surga baginya." (HR. Bukhari Muslim).
Ayat Al-Qur'an surat Al-Mu'minun ayat 8 dengan tegas mengingatkan kita: "Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya." Jemaah sekalian, teladan para rasul dalam sifat amanah adalah mercusuar yang wajib kita jadikan pedoman. Mari kita mulai introspeksi diri, dari hal terkecil sekalipun. Mulai dari janji yang kita ucapkan kepada anak, kepada pasangan, kepada teman, hingga amanah pekerjaan yang telah dipercayakan kepada kita. Jadikanlah setiap detik kehidupan kita terbingkai dalam bingkai amanah.
Ya Allah, jadikanlah kami hamba-hambaMu yang senantiasa memelihara amanah, yang selalu bisa dipercaya dalam perkataan dan perbuatan kami. Ringankanlah hati kami untuk menunaikan setiap amanah yang Engkau titipkan. Karuniakanlah kepada kami sifat amanah sebagaimana yang telah Engkau karuniakan kepada para nabi dan rasulMu. Ampuni segala dosa dan kesalahan kami.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ