Menumbuhkan jiwa berqurban pada masyarakat atas dan masyarakat bawah di indoesia
Khutbah Jumat
S
Saefuddaulah Mehir
1 Mei 2026
5 menit baca
1 views
أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، والصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ ع...
أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، والصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ،
فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
Hadirin sidang Jumat yang dimuliakan Allah,
Jiwa berkurban. Sebuah panggilan suci yang menggema sepanjang sejarah Islam, sebuah refleksi terdalam dari ketaatan dan cinta kita kepada Sang Pencipta. Di tengah perbedaan status sosial, di antara masyarakat atas yang mungkin terlena dalam kemewahan, dan masyarakat bawah yang berjuang dalam keterbatasan, semangat berkurban adalah jembatan yang menghubungkan dua jurang pemisah. Ia adalah manifestasi nyata dari firman Allah SWT:
“Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al Hasyr: 9)
Ya, keberuntungan tertinggi bukanlah pada tumpukan harta yang tak terhitung, melainkan pada kemampuan melepaskan apa yang kita miliki demi ridha-Nya. Betapa sering kita menyaksikan, ironisnya, mereka yang berkelimpahan materi justru terbelenggu oleh rasa takut kehilangan, sementara mereka yang serba kekurangan justru lebih lapang hati untuk berbagi sedikit demi sedikit rezeki yang Allah berikan. Ini adalah ujian bagi kita semua. Bagi mereka yang diuji dengan kekuatan harta, mari kita ingat bahwa setiap nikmat adalah titipan, dan sejatinya, harta itu justru akan menjadi berkat ketika ia mengalir menjadi kebaikan bagi sesama.
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah...
Ketika kita berbicara tentang berkurban, mari kita renungkan makna yang tersirat. Bukan hanya sekadar menyembelih hewan pada Hari Raya Idul Adha, tetapi lebih dalam lagi, adalah sebuah kesediaan untuk mengorbankan waktu, tenaga, pikiran, bahkan sebagian dari kenikmatan duniawi kita demi sesuatu yang lebih mulia. Al-Qur'an mengingatkan kita:
“Kamu tidak akan memperoleh kebajikan, sampai kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintaii. Dan apa saja yang kamu infakkan, maka sesungguhnya Allah Mengetahuinya.” (QS. Ali ‘Imran: 92)
Betapa indah ajaran ini! Allah tidak meminta kita mengorbankan sesuatu yang tidak kita cintai. Dia meminta kita untuk merelakan sebagian dari kesenangan kita, sebagian dari kenyamanan kita, demi meraih cinta-Nya yang jauh lebih abadi. Kepada saudara-saudara kita di masyarakat bawah, yang mungkin belum merasakan manisnya kelimpahan, semangat berkurban ini adalah tentang berbagi, tentang mengulurkan tangan, tentang menjaga ukhuwah Islamiyah. Pengorbanan satu porsi makanan yang kita berikan, mungkin bagi mereka adalah penyelamat dari kelaparan. Senyum yang kita berikan, mungkin adalah pengobat luka hati yang tak terlihat.
Dan kepada saudara-saudara kita yang Allah beri kelebihan harta dan kedudukan, mari kita buka hati kita lebar-lebar. Jangan biarkan kesibukan dunia melenakan kita dari panggilan Allah. Ingatlah sabda Rasulullah SAW:
“Sedekah (dari harta yang halal) tidak akan mengurangi harta, bahkan ia akan menumbuhkannya.” (HR. Muslim)
Bayangkan, wahai Saudaraku, harta yang Anda infakkan bukan berarti hilang. Justru, ia akan kembali kepada Anda dalam bentuk yang berlipat ganda, bukan hanya di dunia, tetapi juga di akhirat. Pengorbanan Anda hari ini akan menjadi bekal di hari perhitungan kelak. Bayangkan rumah-rumah yang Anda bantu bangun, perut-perut yang Anda isi, pendidikan yang Anda biayai, dan ilmu yang Anda sebarluaskan. Semua itu adalah investasi akhirat yang tak ternilai harganya. Jangan sampai hari penyesalan tiba, di mana kita berkata:
“Ya Tuhanku, mengapa Engkau tidak menunda (kematian)ku sampai waktu yang dekat, sehingga aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?” (QS. Al Munafiqun: 10)
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah...
Mari kita hadirkan semangat berkurban dalam kehidupan sehari-hari. Bukan hanya saat Idul Adha, tetapi setiap saat. Berkurban kesombongan untuk merendah di hadapan sesama. Berkurban egoisme untuk mementingkan kepentingan ummat. Berkurban kemarahan untuk menebar kasih sayang. Pengorbanan yang tulus inilah yang akan mengangkat derajat kita di sisi Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda:
“Barangsiapa yang menunjukkan suatu kebaikan, maka ia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.” (HR. Muslim)
Sungguh, betapa besar rahmat Allah! Dengan berbagi, kita tidak hanya membantu orang lain, tetapi kita juga menolong diri kita sendiri. Dengan memberi, kita justru akan semakin dicintai Allah. Mari kita jadikan diri kita sebagai ujian bagi orang lain untuk berbuat baik, dan jadikan kebaikan orang lain sebagai motivasi bagi kita untuk terus berkorban.
Wahai Saudaraku yang dirahmati Allah, mari kita renungkan sejenak. Apakah kita sudah benar-benar mengorbankan apa yang kita cintai untuk orang lain dan untuk Allah? Apakah harta kita sudah sebagiannya menjadi hak saudara-saudara kita yang membutuhkan? Apakah waktu kita sudah terluang untuk menolong orang yang kesulitan? Jika hati kita masih terasa berat, jika ada sedikit keengganan, itu adalah tanda bahwa kita perlu terus berjuang melawan hawa nafsu. Ingatlah, jalan menuju surga itu dipenuhi dengan kesulitan, namun ganjarannya adalah kebahagiaan abadi.
Bintang-bintang di langit bersaksi akan keagungan Sang Pencipta. Mentari pagi menyapa dengan sinarnya yang murah hati. Air mengalir memberikan kehidupan. Dan kita, sebagai manusia, diciptakan dengan fitrah untuk memberi, untuk berbagi, untuk berkurban. Jangan biarkan diri kita menjadi batu yang tertimbun oleh egoisme. Jadilah sehalus embun yang membasahi bumi, seteja air yang mengalir memberikan kesegaran.
Hadirin sidang Jumat yang berbahagia,
Marilah kita panjatkan doa kepada Allah, semoga Dia senantiasa memberikan kita kekuatan untuk menumbuhkan jiwa berkurban di dalam diri kita. Semoga Allah memberkahi harta kita sehingga menjadi sebab kemudahan bagi orang lain. Semoga Allah memudahkan langkah kita untuk berbuat kebaikan, baik bagi mereka yang berada di 'masyarakat atas' kita maupun 'masyarakat bawah' kita. Karena pada hakikatnya, kita semua adalah satu tubuh, satu ummat yang saling membutuhkan.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.