Logo SantriDigital

Menyambut Kehidupan hakiki

Khutbah Jumat
J
Jalaluddin
27 April 2026 5 menit baca 1 views

اَلْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ و...

اَلْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah... Sungguh, hati ini terasa perih kala menyadari betapa kita telah terbuai dalam fatamorgana dunia yang fana. Kita berlari mengejar bayangan, tersenyum pada ilusi, dan menangis untuk sesuatu yang takkan abadi. Padahal, di hadapan kita terbentang kehidupan yang sesungguhnya, kehidupan hakiki yang kekal, yang namanya akhirat. Betapa sering telinga kita mendengar panggilan, namun hati kita enggan merespon. Betapa sering mata kita melihat tanda-tanda, namun pikiran kita tak tergerak untuk merenung. Kita ini seperti musafir yang tersesat di padang pasir, kehausan namun terus melangkah menuju sumber air palsu, sementara sumur kehidupan yang murni berada di belakangnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda, yang artinya: _"Kehidupan dunia itu hanyalah perhiasan sementara, sedangkan kehidupan akhirat adalah kehidupan yang hakiki."_ (HR. Bukhari & Muslim). Mari kita renungkan, saudara-saudaraku. Apa yang kita kejar di dunia ini? Kekuasaan yang akan sirna? Harta yang akan menjadi saksi atas kelalaian kita? Atau pujian manusia yang takkan membawa manfaat di alam kubur? Bukankah setiap detak jantung yang berdenyut membawa kita semakin dekat pada perjumpaan hakiki dengan Sang Pencipta? Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah... Dunia ini bagai mimpi. Kita tertawa, kita menangis, kita berjuang, kita berputus asa, semua dalam tidur lelap. Begitu lonceng kematian berbunyi, kita akan terbangun. Dan alangkah ngerinya jika saat terbangun itu, kita mendapati diri kita dalam kerugian yang paling besar. Allah Ta'ala berfirman, yang artinya: _"Dan sesungguhnya kehidupan akhirat itulah kehidupan yang sejati, kalau saja mereka mengetahui."_ (QS. Al-Ankabut: 64). Kehidupan sesungguhnya itu bukan di sini, bukan di detik ini saat kita masih dipeluk hangatnya dunia. Kehidupan yang sebenarnya adalah saat kita memetik buah dari amal perbuatan kita, baik atau buruk, di hadapan Allah Yang Maha Perkasa. Bayangkanlah sejenak, wahai diri yang lemah, wahai jiwa yang lalai. Apabila malam ini malaikat maut datang menjemput, apa bekal yang telah kita siapkan? Apakah tangisan penyesalan kita akan cukup untuk menghapus dosa-dosa yang menumpuk? Apakah air mata kekhusyukan kita saat shalat akan luruh menjadi cahaya penerang alam kubur? Betapa sering kita mengulur waktu, menunda taubat, merasa masih muda, masih punya banyak kesempatan. Padahal, ajal tidak mengenal usia, tidak mengenal keadaan, ia datang tanpa diduga. Allah berfirman: _"Dan Allah sekali-kali tidak akan menunda (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."_ (QS. Al-Munafiqun: 11). Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah... Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menggali sebuah garis di tanah, lalu bersabda, _"Ini adalah jalan kesenangan (dunia), dan ini adalah jalan harapan, sedangkan ini adalah jalan Allah. Dan jalan Allah sesungguhnya adalah yang paling lurus. Dan jalan-jalan yang lain itu adalah jalan-jalan yang akan membawa kalian ke neraka, dan tidak ada yang akan menggenggamnya kecuali ia akan menjerumuskan diri ke dalamnya."_ Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, "Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melihat tawa orang-orang di suatu majelis, lalu beliau bersabda, 'Seandainya kalian teringat pada pemutus kenikmatan (kematian), niscaya kalian akan sibuk dengan memperbaiki amalan kalian, dan tidak akan sibuk dengan tertawa seperti itu.'" Sungguh, sebuah pengingat yang pedih. Apakah kita akan tertawa dalam kelalaian, atau menangis dalam penyesalan sebelum terlambat? Tangis yang menyayat hati ini bukanlah tangis kesedihan karena kehilangan dunia, melainkan tangis yang merobek jiwa karena menyadari betapa selama ini kita telah menyia-nyiakan kesempatan untuk meraih ridha Allah. Tangis kerinduan untuk segera bertemu dengan-Nya dalam keadaan husnul khatimah. Tangis ketakutan akan murka-Nya, namun terselip harapan akan rahmat-Nya yang seluas samudra. Ya Allah, sungguh kami berlindung kepada-Mu dari hati yang tidak khusyuk, dari mata yang tidak meneteskan air mata karena takut kepada-Mu, dari amal yang tidak ikhlas. Lihatlah surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa. Bayangkan keindahannya, kenikmatan surgawi yang tiada tara. Di sanalah kita akan bertemu dengan para nabi, para syuhada, para salihin. Kita akan hidup dalam keabadian, tanpa sakit, tanpa sedih, tanpa takut. Allah berfirman: _"Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya (kenikmatan melihat Allah)."_ (QS. Yunus: 26). Inikah yang tidak ingin kita raih? Inikah yang tidak pantas untuk kita perjuangkan dengan segenap jiwa dan raga? Namun, di sisi lain, terbentang jurang neraka yang apinya membakar. Dengar rintihan para penghuninya, lihatlah siksa yang tak terbayangkan. Hanya karena sebagian kecil kelalaian, sebagian kecil kesombongan, sebagian kecil maksiat yang kita anggap remeh. Allah berfirman: _"Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat dzarrah, ia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat dzarrah, ia akan melihat (balasan)nya."_ (QS. Az-Zalzalah: 7-8). Sungguh, betapa mengerikannya jika kita tergelincir ke dalam jurang itu. Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah... Mari, dengan sisa waktu yang Allah karuniakan, kita bersegera menyambut kehidupan hakiki itu. Jangan biarkan dunia ini mengubur kita dalam kesia-siaan. Bangkitlah dari tidur panjang kelalaian. Bangunkan hati yang tertidur. Basahi lisan dengan dzikrullah. Basahi mata dengan air mata penyesalan. Perbanyak istighfar, perbaiki shalat, tunaikan hak-hak Allah dan sesama. Jalin silaturahmi, tebarkan kasih sayang. Jadikan setiap detik hidup kita adalah bekal untuk akhirat. Rindukan pertemuan dengan Allah, bukan karena takut mati, tetapi karena ingin berbakti lebih baik, ingin melihat wajah-Nya yang mulia. Ya Allah, sungguh betapa singkatnya waktu di dunia ini, dan betapa panjangnya perjalanan menuju akhirat. Berilah kami kekuatan untuk mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Ampunilah segala khilaf kami, tutupi aib kami, dan rahmatilah kami dengan rahmat-Mu yang luas. Jadikanlah kami termasuk orang-orang yang berbahagia di dunia dan di akhirat. بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Bagikan artikel ini

Artikel Lainnya

Lihat semua →