اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ.
Yang terhormat para alim ulama dan sesepuh yang senantiasa menjadi pelita di tengah kegelapan, yang saya hormati bapak Kiai [Nama Tokoh], yang saya muliakan para asatidz dan asatidzah yang sabar menghadapi santri-santri yang kadang khilaf lupa jadwal piket, dan yang paling saya banggakan, rekan-rekan santri dan santriwati yang wajahnya berseri-seri, entah karena memang rajin tahajud atau memang belum mandi pagi karena antrean kamar mandi yang panjangnya ngalahin antrean sembako.
Alhamdulillah, hari ini kita berkumpul dalam keadaan sehat walafiat. Saya tahu, duduk di majelis ini mungkin ada yang sambil mikir, "Duh, kapan ya selesainya, saya masih punya cicilan hafalan Alfiyah." Tapi tenang saja, insya Allah pertemuan kita kali ini berkah, biar cicilan hafalan cepat lunas dan ingatannya tajam seperti silet, bukan tajam seperti lidah tetangga.
Hadirin yang berbahagia, kita memperingati Maulid Nabi. Biasanya kalau Maulid, yang dicari orang nomor satu adalah berkat atau nasi kotak. Itu wajar, karena syariat Islam tidak melarang kita makan enak. Tapi ingat, esensi Maulid bukan cuma soal makanan, tapi soal meneladani Nabi yang luar biasa.
Belajar itu memang berat. Saya paham rasanya jadi santri. Tidur kurang, makan seadanya, dan kalau telat setor hafalan, "keringat dingin" sudah bercucuran. Tapi ingat, Nabi kita Muhammad SAW itu adalah the role model atau teladan utama bagi kita. Allah SWT berfirman:
Nabi itu luar biasa cerdas, luar biasa sabar, dan luar biasa sholih. Kalau kita mengaku cinta Nabi, masa ya disuruh menghafal kitab saja ngeluhnya sampai ke tingkat internasional? Rasulullah SAW bersabda:
Lihat Nabi, beliau tidak pernah mengeluh meski berdakwah di tengah tekanan. Nah, kalian? Baru disuruh menghafal tiga baris kitab kuning saja sudah bilang, "Aduh Ustaz, otak saya sudah penuh, ini isinya cuma memori lagu galau semua." Ayo, buang lagu galaunya, isi dengan ilmu!
Menjadi sholih itu bukan berarti harus jadi malaikat yang tidak punya dosa. Menjadi sholih itu berarti kita berusaha memperbaiki diri setiap hari. Imam Syafi’i rahimahullah berkata:
Jadi, kalau sekarang merasa pahit karena harus disiplin, menghafal, dan mematuhi aturan pondok, itulah "obat" supaya nanti kalian jadi orang hebat. Jangan sampai nanti sudah keluar dari sini, bukannya jadi kiai atau tokoh masyarakat, malah jadi "kiai" bagi kucing di rumah karena tidak punya ilmu.
Maulid adalah momen untuk mengecas kembali motivasi. Nabi Muhammad SAW adalah manusia paling sibuk, tapi beliau tetap punya waktu untuk ibadah dan belajar. Kita yang cuma disuruh belajar kok sok sibuk? Sibuk main HP, sibuk mantau status orang, sampai lupa kalau masa muda itu emas. Ingat, santri itu aset umat. Kalau santrinya malas, umat mau maju pakai apa? Pakai doa saja? Ya harus pakai ikhtiar juga!
Hadirin, mari kita tanamkan niat. Mulai hari ini, setiap kali kita membuka kitab, setiap kali kita duduk di kelas, niatkan itu sebagai bukti cinta kita kepada Nabi Muhammad SAW. "Ya Rasulullah, saya belajar ini karena ingin meneladanimu, ingin menjadi umatmu yang sholih." Kalau niatnya sudah begitu, malaikat pun bakal ikut mendoakan, bahkan nyamuk di pondok mungkin sungkan mau menggigit kalian.
Sebagai penutup, mari kita berbenah. Jangan jadi santri yang cuma "datang, duduk, dengar, diam, lalu tidur". Jadilah santri yang punya misi. Jadilah santri yang kalau ditanya orang, "Apa targetmu?", jawabnya bukan "Target saya lulus secepatnya", tapi "Target saya menjadi pewaris Nabi".
Mari kita berdoa bersama. Ya Allah, jadikanlah kami santri-santri yang haus akan ilmu, berikanlah kami kemudahan dalam menghafal, kekutan dalam beribadah, dan kesabaran dalam menuntut ilmu. Jadikanlah Maulid ini sebagai titik balik perubahan kami menjadi pribadi yang lebih sholih, lebih berbakti kepada orang tua, dan lebih manfaat bagi nusa dan bangsa.
Terima kasih atas segala perhatiannya. Saya mohon maaf jika ada candaan yang keterlaluan atau kata-kata yang kurang berkenan. Maklum, saya hanya manusia biasa yang masih belajar untuk menjadi sholih, sama seperti kalian semua. Kalau ada kebenaran itu datangnya dari Allah, kalau ada salah dan khilaf itu murni karena kebodohan dan "lucu-lucuan" saya saja.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ